Oleh: hurahura | 1 Juli 2012

Orang Jerman di Batavia (1)

Warta Kota, Rabu, 27 Juni 2012 – Sepanjang masa kolonial, bangsa Belanda paling banyak menguasai atau mempengaruhi berbagai segi kehidupan di Nusantara. Namun bangsa-bangsa Eropa lain, seperti bangsa Jerman, juga banyak berperan di sini. Dulu jumlah populasi orang Jerman di Batavia menduduki posisi kedua setelah orang Belanda. Maklum suku-suku di Belanda dan sebagian di Jerman adalah keturunan dari suku Batavia.

Orang-orang Jerman datang sebagai imigran petualang atau pekerja di VOC. Meski begitu, beberapa dari mereka berhasil menanjak sampai menjadi gubernur jenderal. Mereka yang menduduki posisi tinggi itu adalah Rijkloff van Goens, Johannes Thedens, Gustaaf Willem Baron van Imhoff, dan Albrecht Heinrich Wiese. Mereka merintis karier dari tingkatan terendah.

Peneliti sejarah Jakarta pastilah mengenal nama Johann Wolfgang Heydt. Pada 1744 di Jerman, Heydt menerbitkan Allerneuster Geographisch und Topographischer Schau-Platz von Africa und Ost-Indien. Buku tersebut dilengkapi dengan 115 gambar berukir yang sangat indah. Peta buatan Heydt hampir selalu menjadi referensi. Pengetahuan Heydt akan Batavia tidak diragukan lagi karena pada 1738 hingga 1740 dia tinggal di Batavia. Gubernur Jenderal Valckenier pernah menunjuk Heydt sebagai pelukis dan ahli bangunan. Karena kecakapannya, Heydt melukis banyak gambar dan peta bangunan umum di dalam dan sekeliling Batavia. Beberapa peta dia gambar berdasarkan sebuah peta lama dari arsip gubernur jenderal. Kemudian peta tersebut dia perbarui berdasarkan pemeriksaannya terhadap jarak-jarak di sekitar Oud Batavia.

Dalam penyerbuan oleh tentara Sultan Agung dari Mataram, ada kisah menarik yang ditulis oleh orang Jerman. Johan Neuhoff, dalam bukunya Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an den Tatarischen Cham (1666), mengisahkan bahwa pada suatu penyerbuan tentara Mataram, pasukan Belanda tidak sanggup lagi mempertahankan kubu karena kehabisan amunisi Dalam situasi genting ini Sersan Hans Madelijn dari Jerman mendapat siasat gila. Dia memerintahkan bawahannya untuk menyiramkan tinja kepada musuh yang berusaha memanjat tembok. Akibatnya para penyerang berlari sambil berseru ”O seytang orang Ollanda de bakkalay samma tay”. Inilah kata-kata Melayu pertama yang tercatat dalam buku berbahasa Jerman (Tempat-tempat bersejarah di Jakarta, 1997). (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori