Oleh: hurahura | 27 Juli 2011

Benteng Gadang, Nasibmu Kini…

Warta Kota, Jumat, 22 Juli 2011 – Menjelang akhir kekuasaan kolonial di Jakarta, Belanda memperkuat dirinya terhadap ancaman dari serangan pihak Jepang. Sistem pertahanan Belanda yang dikenal pada waktu itu adalah ‘sistem defensif’. Ketika itu dibangun sejumlah benteng yang satu dengan lainnya merupakan keterkaitan. Salah satu benteng itu adalah benteng yang terletak di Jalan Gadang, kelurahan Sungai Bambu, Tanjung Priok. Benteng ini oleh penduduk setempat disebut ‘Benteng Gadang’. Dalam survei arkeologi yang dilakukan pada 1987 oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, kondisi benteng terlihat sangat mengkhawatirkan. Sebagian besar sudah hancur dan sebagian lagi menjadi pondasi rumah penduduk, bahkan pondasi sekolah. Karena itu penelitian arkeologi sangat sulit dilakukan di lokasi ini.

Kemungkinan benteng ini dibangun oleh Portugis, kemudian dilanjutkan oleh Belanda pada awal abad ke-20. Kecuali sebagai pertahanan, benteng ini berfungsi pula sebagai depot logistik dan gudang amunisi. Dari hasil identifikasi tim peneliti diketahui adanya empat benteng. Pada dua benteng terdapat bastion. Pada dua benteng lainnya tidak terdapat bastion. Ukuran masing-masing bangunan relatif sama, yakni panjang 30 meter, lebar 7 meter, dan tinggi 4 meter.

Pada 1950-an dan 1960-an benteng ini merupakan lokasi bermain anak-anak. Ketika itu di wilayah Sungai Bambu baru terdapat belasan keluarga. Kondisi benteng masih berdiri kokoh dan sesuai bentuk aslinya. Pada 1970-an wilayah tersebut mulai dihuni sekitar 30.000 jiwa, terlebih dengan berdirinya belasan industri dan pabrik di wilayah ini. Maka banyak bangunan baru didirikan di atas benteng. Selain diuruk dan berubah menjadi permukiman padat penduduk, sejumlah ruangan digunakan sebagai tempat pembuangan kotoran warga yang bermukim di atasnya.

Mengacu pada aliran sungai, seperti Ciliwung, Pesanggrahan, dan Cisadane, besar kemungkinan di situs Sungai Bambu pernah terdapat peradaban kuno Jakarta. Apalagi wilayah ini juga dilalui aliran Sungai Tiram. Karena terlanjur padat dan kurang dipedulikan masyarakat, maka sulit sekali melestarikan Benteng Gadang. Kecuali tentunya membongkar puluhan rumah yang sudah terlanjur berdiri di atas benteng tersebut. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori