Oleh: hurahura | 14 Mei 2011

Warisan Palembang Ada di Kampung Arab


Oleh: Aryandini Novita


…Kecuali penduduk asli ada juga Cina, Arab dan orang-orang asing lainnya di ibukota. Yang pertama kebanyakan bertempat tinggal di rakit-rakit. Orang-orang Arab mempunyai kampungnya sendiri….. Orang-orang Arab terdaftar sebanyak 500 jiwa yang kebanyakan mempunyai rumah sendiri…

Begitulah yang dilaporkan oleh Sevenhoeven, regeeringcommissaris di Palembang pada tahun 1821 menggambarkan keberadaan orang-orang Arab di Palembang. Dalam sejarah Kota Palembang, kelompok etnis ini mempunyai catatan tersendiri. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam orang Arab mempunyai keistimewaan tersendiri dibanding orang-orang asing lainnya yang menetap di Palembang. Sementara orang-orang asing lainnya oleh hanya diperbolehkan tinggal di atas sungai, mereka dapat menikmati tinggal di tempat yang relatif lebih kering dan hangat. Hal ini pernah dilaporkan oleh Sevenhoeven.

Keistimewaan ini telah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Abdurrahman (1659-1706). Pada saat itu orang-orang Arab mendapat kebebasan untuk tinggal di daratan karena jasa mereka dalam meningkatkan perekonomian Kesultanan Palembang Darussalam. Dalam laporannya Sevenhoeven juga menuliskan bahwa kedekatan orang-orang Arab dengan Sultan juga ditunjukkan dengan pemberian gelar ‘pangeran’; sedangkan orang-orang Cina muslim, biasanya administratur tambang timah yang menjadi mualaf, hanya diberi gelar ‘demang’.


Kitab dan Nisan

Seperti di kota-kota lain di Indonesia, orang-orang Arab di Palembang berasal dari Hadramaut yang terletak di daerah pesisir jazirah Arab bagian selatan, Yaman sekarang. Kelompok etnis ini awalnya merupakan pedagang perantara, seiring dengan perjalanan waktu kemudian menetap dan menikah dengan penduduk Palembang, karena itu mereka lebih merasa sebagai orang Palembang mengingat pendahulu-pendahulu mereka beribukan orang Palembang.

Di Kota Palembang orang Arab menghuni kawasan-kawasan di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian ilir maupun di ulu. Saat ini pemukiman tersebut masih dapat ditemukan seperti di Lorong Asia dan Kampung Sungai Bayas, Kelurahan Kutobatu, Kecamatan Ilir Timur I; Lorong Sungai Lumpur di Kelurahan 9-10 Ulu, Lorong BBC di Kelurahan 12 Ulu, Lorong Almunawar di Kelurahan 13 Ulu, Lorong Alhadad, Lorong Alhabsy dan Lorong AlKaaf di Kelurahan 14 Ulu, dan Kompleks Assegaf di Kelurahan 16 Ulu. Secara administratif situs-situs yang berada di kawasan Seberang Ulu tersebut termasuk dalam wilayah Kecamatan Seberang Ulu II. Umumnya antara permukiman-permukiman tersebut masih memiliki ikatan persaudaraan.

Ketika langkah memasuki kampung Arab, tampak rumah-rumah mereka seperti rumah orang Palembang. Bagi orang-orang Arab yang merantau jauh dari tanah kelahirannya, mereka berprinsip yang dibawanya hanyalah kitab dan nisan. Kitab artinya adalah ajaran-ajaran Agama Islam yang harus disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia, sedangkan nisan dimaksudkan untuk digunakan sebagai tanda makam bila ia meninggal di perantauan. Di luar dua hal tersebut mereka selalu beradaptasi dengan budaya setempat

Karena itu tak mengherankan kalau bentuk rumah mereka seperti rumah orang Palembang yaitu rumah limas. Seiring dengan perkembangan jaman, orang-orang Arab juga mengikuti kecenderungan yang sedang berkembang pada saat itu, seperti rumah panggung dan rumah Indies (gaya arsitektur yang merupakan perpaduan budaya lokal dengan Eropa yang menjadi tren di Indonesia pada akhir abad 19 M dan awal abad 20 M). Rumah-rumah tersebut ditempatkan mengelilingi sebuah lapangan terbuka dan rumah orang yang dituakan menghadap ke arah Sungai Musi. Selain itu rumah-rumah ditempatkan berbanjar di sepanjang tepi Sungai Musi dan menghadap ke Sungai Musi.

Selain bentuknya, interior rumah tinggal orang Arab juga serupa dengan rumah orang Palembang. Sama seperti rumah limas pada umumnya, di beberapa rumah limas di pemukiman orang-orang Arab terlihat adanya pembagian ruangan yang bertingkat-tingkat. Namun dalam penerapan kehidupan sehari-hari makna dari pembagian tingkatan yang diyakini oleh orang-orang Arab berbeda dengan orang Palembang. Jika pada masyarakat Palembang pembagian tersebut didasarkan pada status sosial seseorang maka pada kelompok etnis Arab pembagian tersebut didasarkan pada tingkat pengetahuan agama, sehingga dapat dilihat pada acara-acara keagamaan kaum ulama menempati ruangan yang tertinggi.

Melihat bentuk dan interior rumah-rumah orang-orang Arab tersebut kita akan terkenang akan kejayaan mereka sebagai saudagar besar pada masanya. Meskipun sebagian rumah-rumah terlihat suram dan kusam tetapi jika dilihat detilnya menunjukan sebuah karya seni yang sangat indah. Di dalam salah satu rumah limas di Situs Kutobatu, terdapat pintu yang dipasangkan pada bingkai yang terbuat dari satu papan utuh berukuran sekitar 1,5 x 4 meter. Bingkai tersebut dihiasi dengan ukiran khas ‘Palembang lama’. Ukiran ini bermotif hiasan sulur-suluran dan bunga yang diberi warna emas. Keberadaan bingkai berukir tersebut merupakan keunikan tersendiri di Situs Kutobatu karena bingkai tersebut sudah tidak ditemukan lagi di rumah-rumah limas lainnya di Palembang.

Selain itu komponen rumah limas yang sudah sulit ditemukan di rumah orang Palembang adalah adalah ‘pintu kipas’ dan hiasan lakuer yang menghiasi dinding rumah. Pintu kipas adalah pintu yang cara membukanya disibakan ke atas. Sedangkan hiasan lakuer adalah lukisan motif sulur-suluran dan bunga berwarna emas yang dilapisi cairan serlak. Hiasan tersebut saat ini banyak ditemukan pada pajangan yang terbuat dari kayu.


Beban ‘Sang Pewaris’

Saat ini penghuni kampung-kampung tersebut tidak hanya keturunan Arab saja tetapi telah bercampur dengan kelompok-kelompok etnis lainnya. Umumnya warga keturunan Arab tersebut berprofesi sebagai pedagang. Sebagian besar rumah-rumah tua di kampung-kampung itu dihuni secara turun-temurun sehingga sudah menjadi hal yang biasa jika di dalam satu rumah terdiri dari beberapa keluarga. Di beberapa kampung dikarenakan keterbatasan ekonomi tidak semua para pewaris dapat merawat rumah-rumah tersebut, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terkadang sedikit demi sedikit komponen rumah dipereteli untuk dijual. Agaknya para pemburu barang antik kerap memanfaatkan kondisi tersebut, dengan iming-iming sejumlah uang yang cukup besar maka komponen-komponen rumah yang dihiasi oleh ukiran-ukiran yang sangat indah dapat dengan mudahnya berpindahtempat ke rumah kolektor.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: