Oleh: hurahura | 23 April 2010

Sejarah Mbah Priok adalah Hoax

Hoax artinya pemberitaan palsu

Dirangkum dari wawancara Metro TV dengan Alwi Shahab (Ahli Sejarah Betawi) dan Ridwan Saidi (Budayawan Senior Betawi) pada acara Metro Pagi.


Catatan:


1. Sejarah penamaan Tanjung Priok yang berasal dari Priok yang menyelamatkan Habib Al-Haadad dari tenggelamnya kapal lalu kemudian prioknya ditanam di samping makam, lalu di atas priok itu tumbuh pohon, adalah hoax.

Penjelasan: Sebenarnya, nama Tanjung Priok berasal dari abad ke-1 Masehi, ketika itu masyarakat pribumi yang masih primitif dan belum mengenal perahu layar yang besar menyebut perahu bangsa China dan Arab dengan nama Sampan Priok, yang artinya Periuk raksasa. Perahu-perahu itu bersandar di pantai yang luas, sehingga disebut Tunjung Periok, artinya Tanah tempat Periuk besar. Pada abad-abad selanjutnya, secara kebetulan pula perdagangan meningkat, masyarakat setempat yang banyak menjadi pengrajin Periuk menimbun barang dagangan mereka di atas rakit-rakit bambu di pantai.


2. Habib Al-Haadad lahir pada 1727 dan wafat pada 1756 adalah hoax.

Penjelasan: Habib Al-Haadad adalah keturunan ketiga (cicit) dari Sultan Hamid dari Palembang. Sultan Hamid sendiri wafat pada 1820 dalam usia 70 tahun (lahir 1750). Bagaimana mungkin cicit lahir terlebih dulu daripada kakek buyut?


3. Habib Al-Haadad sebagai salah satu penyiar agama di Jawa adalah hoax.

Penjelasan: Habib Al-Haadad memang berniat untuk melakukan syiar agama di Pulau Jawa. Dia mendengar kisah Faletehan dan Para Wali, sehingga merasa terpanggil untuk datang ke Jawa.

Pada usia yang sangat muda ia berangkat ke Nusa Kelapa (Jakarta). Tapi di tengah perjalanan kapalnya karam, dan diapun selamat karena tertolong periuk yang dipakainya buat menopang sampai ke pantai. Setibanya di pantai, dia ditolong masyarakat. Diapun mengakui bahwa dia keturunan Sultan Palembang yang ingin melakukan syiar di Jawa. Mendengar hal itu masyarakat setempat menjadi senang, karena kebetulan mereka membutuhkan seorang habib untuk mendampingi Para Habib di Priok.

Dia sendiri tidak pernah melakukan syiar agama ke mana-mana. Dia hanya menjadi penceramah agama di daerah Tanjung Priok sampai meninggal setahun setelah selamat dari tenggelam itu.


4. Tanah Makam yang dianggap milik Habib Al-Haadad adalah hoax.

Penjelasan: Habib Al-Haadad adalah Habib ke-11 yang dimakamkan di sana. Habib pertama yang dikubur di sana adalah Habib Abdullah bin Alatas, seorang Habib dari Kebun Jeruk yang meninggal pada 1760. Selanjutnya masih ada 9 Habib lainnya sebelum terakhir adalah Mbah Priok. Yang paling terkenal dari 11 itu adalah Habib Luar Batang yang hidup pada masa bersamaan dengan Habib Al-Haadad. Habib Luar Batang sangat dihormati oleh orang Betawi, bahkan narasumber (Ridwan Saidi) diberi nama Ridwan oleh Habib Luar Batang ini pada awal abad ke-19.

Keturunan 10 Habib sudah pernah menyerahkan tanah makam tersebut kepada Pemerintah Belanda dan Indonesia karena makam tersebut sudah bercampur baur dengan makam masyarakat.

Kecuali (orang yang mengaku) sebagai Ahli Waris Habib Al-Haadad, justru mengajukan Surat Hak Eigendoom.


5. Habib Al-Haadad punya keturunan adalah hoax.

Penjelasan: Habib Al-Haadad sampai saat wafatnya belum pernah menikah, apalagi sampai punya keturunan, sehingga dipertanyakan, siapa sebenarnya orang-orang yang mengaku ahli warisnya?


6. TPU Semper sudah memiliki 11 Makam Habib sejak 1997, sehingga dipertanyakan, kalau memang jasad Mbah Priok masih di Koja, lalu siapakah yang dipindah dan dimakamkan di Semper?

Pada akhir wawancara, Alwi Shahab meminta agar masalah Makam Mbah Priok jangan dikait-kaitkan dengan sejarah yang justru menjadi pengaburan sejarah.

Bila ada yang merasa sebagai ahli waris dan menganggap memiliki tanah tersebut, silakan ditempuh jalur hukum, dan jangan mengaitkannya dengan sejarah, karena mereka tahu persis bahwa banyak sejarah yang dilencengkan pada kasus Makam Mbah Priok ini.

Disarikan dari Milis:
Komunitas Historia Indonesia (KHI)


Lampiran

BPN Ungkap Sejarah Lahan Makam Mbah Priok

BERITAJAKARTA.COM, 23-04-2010 – Komisi Nasional Hak Azazi Manusia (Komnas HAM) terus melakukan investigasi guna mengungkap sengketa tanah antara PT Pelindo II dengan ahli waris makam Mbah Priok yang berujung terjadinya insiden berdarah pada Rabu (14/4) lalu. Jumat (23/4), Komnas HAM memanggil Badan Pertanahan Nasional (BPN) wilayah DKI Jakarta dan Jakarta Utara untuk membicarakan dokumen kepemilikan tanah yang diklaim oleh kedua belah pihak yang yang berseteru tersebut.

Dalam pertemuan yang berlangsung tertutup selama lebih dari dua jam itu, hadir Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) BPN DKI Jakarta, Muhammad Ikhsan serta Kepala BPN Jakarta Utara Cecep Bagya. Sedangkan dari pihak Komnas HAM hadir Nurkholis, Ahmad Baso, dan Johny Nelson Simanjuntak.

Usai pertemuan, Wakil Bidang Eksternal Komnas HAM, Nurkholis mengungkapkan, pertemuan tersebut menghasilkan tujuh petunjuk awal terkait kronologis status surat tanah yang dimiliki ahli waris makam Mbah Priok dan PT Pelindo II. “Pertemuan selama dua jam tadi kita mendiskusikan berbagai dokumen tanah yang diklaim oleh PT Pelindo II dan ahli waris makam Mbah Priok,” ujar Nurkholis, Jumat (23/4).

Ia memaparkan, tujuh petunjuk awal itu merupakan kronologis tentang keluarnya surat kepemilikan tanah yang diklaim oleh kedua belah pihak. Awalnya, ahli waris makam Mbah Priok berpegang pada surat Eigendom Verponding (tanah negara) yang dikeluarkan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1934 atas nama Said Zen bin Muhammad Al Haddad. Selanjutnya Zen memperoleh surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari pemerintah Belanda. “Keluarnya surat ini diperkirakan digunakan untuk membangun pendopo yang ada di areal makam Mbah Priok saat ini,” katanya.

Kemudian, pada tahun 1979 keluar Keputusan Presiden (Keppres) yang intinya menyatakan tanah yang masih berdasarkan surat pemerintah Belanda harus didaftarkan ulang ke pemerintah Indonesia. Jika tidak tanah itu milik negara. “Karena saat itu ahli waris tidak kunjung mendaftarkan, tanah di makam Mbah Priok itu dianggap milik negara,” bebernya.

Sebab itu, pada tahun 1986, PT Pelindo II mengajukan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) ke pemerintah. Surat HPL dari pemerintah kepada PT Pelindo II itu keluar pada tahun 1987. Sejak saat itu PT Pelindo II, mengelola tanah seluas 145 hektar itu.

Namun pada tahun 1999, ahli waris makam Mbah Priok mengajukan Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) guna memperoleh dokumen sah kepemilikan tanah itu. Tapi anehnya SKPT Nomor 8477 tahun 1999 itu tidak pernah terdaftar dalam arsip BPN Jakarta Utara. “Untuk itu Komnas HAM berniat menyelidiki keabsahan SKPT itu dengan mengujinya di Puslabfor Mabes Polri. Kita kan minta bantuan Puslabfor Mabes Polri untuk mengujinya karena tidak terdaftar di BPN Jakarta Utara,” tandasnya.


Responses

  1. […] https://hurahura.wordpress.com/2010/04/23/sejarah-mbah-priok-adalah-hoax/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori