Oleh: hurahura | 19 April 2012

Perampokan Bersenjata di Batavia (2 – Habis)

Warta Kota, Kamis, 19 April 2012 – Di Batavia banyak penduduk bumiputra direkrut untuk menjaga keamanan. Mereka mengorganisasi dan mengawasi satuan jaga secara swadaya. Sebaliknya polisi-polisi yang berasal dari warga Eropa diberi pelatihan dan gaji. Polisi yang dibentuk atas prakarsa swasta sering disebut opas. Dalam istilah masyarakat, opas adalah polisi-angin, artinya mereka hidup dari angin.

Kementerian Koloni di Den Haag dan pemerintah kolonial di Batavia tidak mengingkari bahwa situasi keamanan di wilayah koloni bermasalah. Sejak 1860-an pemerintah bermaksud mereformasi dan mereorganisasi kepolisian. Intinya adalah bagaimana menangani masalah keamanan dan memperbaiki kinerja institusi kepolisian. Baru pada 1897 muncul kesimpulan untuk mengembangkan kebijakan reorganisasi dalam rangka mengantisipasi keluhan masyarakat tentang buruknya sistem keamanan di Batavia dan juga Hindia Belanda. Kemungkinan, rumitnya persoalan keamanan karena dihapusnya hukuman rotan pada 1866.

Usulan dalam reorganisasi adalah kepolisian bersenjata. Tugas mereka antara lain membela koloni terhadap ancaman dan serangan dari musuh, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Pada 1890 tenaga keamanan di Batavia terbagi atas empat bagian, yakni kepala keamanan, wakil kepala keamanan, personel polisi di bawah asisten residen, dan personel polisi di bawah kepala keamanan. Keempat komponen itu dilengkapi sarana keamanan lainnya (Polisi Zaman Hindia Belanda, 2011). Ketika itu jumlah penduduk Batavia adalah 95.180 orang. Di Batavia pemeliharaan keamanan terselenggara baik karena ada pengelompokan yang jelas antara wilayah-wilayah permukiman golongan penduduk yang berbeda-beda.

Saat itu menjadi polisi kemungkinan bukanlah cita-cita muluk. Bayangkan gaji polisi relatif kecil. Seorang opas, misalnya, diupah 10-15 gulden sebulan. Sebagai perbandingan, kuli rumah tangga diupah 14-15 gulden sebulan dan keamanan di pelabuhan diupah 15-30 gulden sebulan.

Pada 1903, enam tahun setelah reorganisasi kepolisian, di seputar Batavia malah terjadi hampir 150 perampokan bersenjata. Berarti dua kali lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Beberapa perampok memang ada yang berhasil ditangkap. Namun ancaman keamanan tetap menghantui orang-orang yang tinggal di Batavia. Pada awal 1930 kepolisian kolonial mencapai jumlah personel 54.000 orang. Sebanyak 96% atau sekitar 52.000 orang, diisi oleh golongan pribumi. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori