Oleh: hurahura | 2 November 2010

Peluncuran Buku ‘Pentas Ilmu di Ranah Budaya’

Buat kalangan arkeologi Indonesia dan pencinta budaya, nama Edi Sedyawati, rasanya sudah tidak asing lagi. Beliau adalah Gurubesar Arkeologi Universitas Indonesia yang pernah menjabat Direktur Jenderal Kebudayaan (1993-1999). Beliau juga dikenal sebagai seorang ilmuwan dan penari yang handal.

Sabtu, 30 Oktober 2010, sejumlah sahabat dan murid Ibu Edi, demikian panggilan akrabnya, merayakan peringatan sembilan windu (72 tahun) usia beliau di Galeri Nasional, Jakarta. Sebenarnya ulang tahun Ibu Edi jatuh pada 28 Oktober, namun kali ini dirayakan pada 30 Oktober 2010.

Perayaan ulang tahun Ibu Edi itu ditandai dengan peluncuran buku “Pentas Ilmu di Ranah Budaya”. Penyumbang tulisan dalam buku itu berasal dari berbagai kalangan, seperti teman sejawat Ibu Edi dari dalam dan luar negeri, gurubesar dari beberapa universitas, peneliti, dan mantan mahasiswa.

Buku ini memiliki ketebalan 846 halaman. Seluruh isinya dikelompokkan menjadi enam topik, yaitu Bahasa, Sistem Pengetahuan, Organisasi Sosial, Sistem Teknologi, Sistem Religi, dan Kesenian. Selain mengenai arkeologi, buku ini mengupas masalah sejarah, bahasa, dan kesenian.

Prof. M.C. Ricklefs dari National University of Singapore mengatakan di halaman belakang buku itu, “Ibu Edi Sedyawati adalah seorang tokoh yang sumbangannya memang sangat mengesankan. Sebagai budayawan, akademisi, dan pegawai negeri — sebagai penari, ahli sejarah, ahli arkeologi, ahli sastra, ahli kesenian, dan pemimpin dalam struktur universitas dan pemerintah — Ibu Edi memadukan dunia budaya/sastra/keilmuan dan dunia birokrasi/pimpinan/politik. Tidak sembarang orang mampu memainkan peranan ganda seperti ini. Dilihat dari sudut pandang sejarah Indonesia – khususnya sejarah Jawa – boleh dikatakan bahwa Ibu Edi merupakan kelanjutan dari sebuah tradisi yang akarnya cukup dalam.”

Edi Sedyawati lulus dari Jurusan Arkeologi UI pada 1963. Mendapat gelar doktor pada 1985 dan gurubesar pada 1992.

Pada kesempatan itu juga diadakan bedah buku dengan pembahas Prof. Dr. Mundardjito dan Dr. Seno Gumira Ajidarma. Sebelum pembahasan, Ibu Edi sempat menari gambyong, sebagai ucapan terima kasih kepada para hadirin.

Ibu Edi menari gambyong bersama dua muridnya (Foto: Watty)

Bedah buku bersama Prof. Dr. Mundardjito dan
Dr. Seno Gumira Ajidarma (Foto: Nina)

Iklan

Responses

  1. @ Saya juga pengagum ibu Prof. Dr. Edi Sedyawati, buku beliau yang sampai sekarang masih saya koleksi di antaranya “Budaya Indonesia Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah” & Pertumbuhan Seni Pertunjukan”. Salam Seni Budaya selalu!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: