Oleh: hurahura | 31 Mei 2014

Tiga Candi Bata Merah di Magelang

Tiga candi peninggalan Hindu terbuat dari bata merah diduga pernah berdiri di Desa Ringinanom, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dugaan itu didukung oleh banyaknya temuan bata merah di desa tersebut, di antaranya berupa pecahan batu polos, batu berelief, dan susunan batu bata membentuk struktur fondasi candi.

Tiga dusun tersebut ialah Dusun Candi, Dusun Bawongan, dan Dusun Samberan. Fondasi candi yang tersusun dari bata merah ditemukan di Dusun Bawongan dan Dusun Samberan.

Di Dusun Candi, selain banyak ditemukan bata-bata merah lepas, pada April lalu, ditemukan arca tanpa kepala, lingga, yoni, dan nandi. Empat benda cagar budaya (BCB) itu terbuat dari batu andesit. Berdasarkan penelitian sebelumnya, semua benda tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.

Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Pemeliharaan Balai Konservasi Borobudur Yudi Suhartono, mengatakan, berdasarkan dokumen sebelumnya, bata-bata merah bagian dari bangunan candi tersebut, mulai ditemukan pada 1970-an.

Dalam sejumlah dokumen, warga di Dusun Candi, misalnya, pernah menemukan tumpukan batu kuno setinggi 1 meter dengan diameter 2 meter. Setelah itu, masih di sekitar lokasi tersebut, warga menemukan periuk dan arca tanpa kepala.

Ahmad Slamet (70), salah seorang warga Dusun Candi, mengatakan, di Dusun Candi, batu candi berupa bata merah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari lahan pertanian, halaman rumah, hingga area permakaman umum. ”Sebagian besar temuan bata merah tersebut masih dibiarkan berserakan di lokasi asalnya hingga saat ini,” ujarnya.

Kepala Balai Konservasi Borobudur Marsis Sutopo mengatakan, beragam jenis BCB peninggalan Hindu juga ditemukan di sekitar Candi Borobudur. Di zona IV kawasan Candi Borobudur, ditemukan 12 lokasi yang mengandung peninggalan agama Hindu. Di zona V, temuan peninggalan agama Hindu tersebar di 15 lokasi.

Dari beragam temuan tersebut, Marsis mengatakan, bisa disimpulkan adanya penyebaran beragam agama di berbagai tempat. Ketika itu, semua umat beragama mampu hidup bersama dengan rukun.

”Temuan peninggalan lebih dari satu agama di satu lokasi membuktikan bahwa saat itu, umat beragama berbeda dapat hidup berdampingan dan rukun,” ujarnya. (EGI)

(Sumber: Kompas, Sabtu, 31 Mei 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: