Oleh: hurahura | 25 Januari 2012

Arcopodo yang Tersembunyi di Mahameru

KOMPAS, Sabtu, 21 Jan 2012 – Dua arca batu itu berdiri berdampingan dalam senyap hutan di ketinggian 3.002 meter di atas permukaan laut. Keduanya menghadap ke utara sehingga pandangan mata setiap orang yang menatapnya akan mengarah ke Mahameru. Inilah Arcopodo, arca pemujaan tertinggi di Pulau Jawa yang pernah dikabarkan hilang.

Arca yang awalnya dianggap sebagai dongeng itu ”ditemukan” mendiang Norman Edwin dan Herman O Lantang dari Mapala Universitas Indonesia pada 1984.

Dua tahun kemudian, Norman kembali mendatangi dua arca itu dan menuliskan temuannya di majalah Swara Alam, ”Arca ini sulit dikenali karena kepala dan separuh badannya hilang.”

Semenjak itu, keberadaan kedua arca itu tak pernah lagi diketahui. Herman, yang mencoba mencari kembali dua arca ini dalam pendakian tahun 1999, gagal menemukan. ”Di jalur menuju tempat arca itu, saya mendapati jurang pasir yang dalam dan sulit diseberangi. Ketika itu saya sampai jatuh ke dalam jurang sehingga saya memutuskan tidak mengunjungi arca itu,” tulis Herman dalam buku Soe Hok-Gie: Sekali Lagi, 2009.

Pos pendakian Arcopodo (2.903 mdpl) sebenarnya masih ada hingga kini dan relatif mudah dicapai dari Pos Kalimati (2.698 mdpl). Namun, Pos Arcopodo yang dikenal sebagai titik pemberhentian sebelum ke puncak Semeru ini hanya berupa dataran seluas sekitar 20 meter persegi, dikelilingi pepohonan dan belasan prasasti untuk menghormati pendaki yang meninggal.

Dulu, prasasti untuk menghormati tokoh pergerakan mahasiswa, Soe Hok-Gie, dan rekannya, Idhan Lubis, juga ditempatkan di sini. Namun, tahun 2002, prasasti dua pendaki yang meninggal di Semeru pada 16 Desember 1969 ini dipindahkan ke puncak.

Para pendaki yang mencari dua arca di Pos Arcopodo pasti akan kecele. Itulah yang menyebabkan banyak orang mengira arca itu hilang atau dipindahkan.

Awalnya, kami juga ragu dengan keberadaan Arcopodo. Namun, Ningot S, anggota Search and Rescue (SAR) Lumajang yang memandu perjalanan, mengisahkan, sekitar tiga tahun lalu dia menemukan dua arca saat mencari pendaki yang hilang. Ningot menyebutkan ciri-cirinya, seperti digambarkan Norman dalam tulisannya. ”Satu arca kepalanya hilang, seperti dipenggal,” kata Ningot.


Jalur tersembunyi

Pagi itu, kami baru saja turun dari Mahameru (puncak Gunung Semeru). Kaki masih berat melangkah, napas pun tersengal. Namun, keinginan untuk menemukan kembali Arcopodo mengalahkan segenap rasa penat.

Setelah rehat sejenak di Pos Arcopodo, kami kembali merangkak naik ke arah puncak. Menjelang batas vegetasi (3.092 mdpl), kami menyimpang ke arah timur. Di depan membentang lembah, bekas aliran lahar yang rapuh. Lembah itu menyempit ke Mahameru yang menjulang angkuh, sementara sekitar 20 meter ke arah bawah, jurang dalam nyaris tegak lurus menjadi muara. Kami harus membuat takikan dengan tongkat sebelum menjejak tanah rapuh itu agar tidak tergelincir.

Melewati satu halangan, lembah lain yang lebih curam menghadang. Tenaga di titik nadir, tetapi melalui jalur yang sama, nyaris tak mungkin. Satu-satunya jalan maju harus merangkak di bawah rimbun pohon cemara, menyusuri punggungan tebing tipis.

Ketika melihat ke bawah, tiba-tiba kami dikejutkan pemandangan sepasang sepatu yang ditinggalkan persis di tubir jurang. Dua sepatu yang terlihat mulus itu seperti sengaja diletakkan. Rasanya tidak mungkin ada pendaki yang meninggalkan sepatu di tengah medan seperti ini. Kami menyeru beberapa kali, tetapi tak ada sahutan.

”Ini jalur orang tersesat. Korban biasanya hilang di sekitar sini ketika turun dari puncak. Dia berjalan menyimpang, menuruni lembah ini,” kata Ningot. ”Begitu sampai di lembah ini, pendaki yang kelelahan biasanya sudah putus asa dan sulit mencari jalan kembali. Padahal, di bawah jurang sangat curam, yang terkenal adalah Blank 75,” Ningot mengisahkan.

Namun, siapa orang yang meninggalkan sepatunya itu? ”Pulang nanti saya akan kembali mengajak teman untuk menyelidiki sepatu ini. Kami harus membawa tali-tali dan peralatan pemanjatan tebing untuk mendekat ke jurang itu,” kata Ningot.

Melalui dua lembah lagi, perjalanan berujung ke punggungan tebing. Di rerimbunan pohon cemara, dua arca batu itu berdiri. Selain atap seng yang keropos, dan lantai keramik yang mengalasi, dua arca itu terlihat masih sama seperti yang dipotret almarhum Norman.

Dua arca itu rupanya tetap di tempatnya sejak dulu. Namun, Pos Arcopodo yang populer dilalui pendaki ke puncak Semeru yang rupanya dipindahkan. ”Dulu jalan pendakian itu melewati dua arca itu. Sekitar tahun 1979, jalurnya berubah dan tak lagi melewatinya,” kata Sumarto (58), Pemangku Pura Mandaragiri di Senduro, Lumajang.

Sumarto tak mau mengungkapkan alasan pemindahan jalur itu. Jalur menuju Arcopodo itu memang seperti jalan rahasia yang dijaga alam dan para pemujanya….(Ahmad Arif dan Indira Permanasari)

Iklan

Responses

  1. MANTAAFF……..SAYA PERNAH MENCARI JUGA YANG PALING TIDAK JUGA DISEKITAR SANA PADA THN 2005 SEKITAR BLN SEPTMBER DAN TDK KAMI TEMUKAN.KLO BLEH TAHU DARI BIBIR JURANG BLANG 75 KE ARAH MANA.BRAPA JAUH ATAU BRAPA PUNGGUNGAN LAGI?

  2. kalau jalurnya ini sudah ketahuan, yakin bakalan ada korban lagi di semeru karena banyaknya pendaki yang penasaran dengan keberadaan patung itu sementara jalur ke lokasi sangat beresiko tinggi. apalagi kalau yg kesana pendaki2 yang sok hebat dan modal nekat

    • Kita harapkan peninggalan ini tetap terpelihara

  3. Pantesan dikira ilang.
    Soalnya wktu kmi ke pos Arcopodo dn nnya sma pndaki lain, gak ad yg tw dimna Arcopodo it


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori