Oleh: hurahura | 18 Februari 2012

Raden Saleh, Penyumbang Terbesar Museum Nasional

Warta Kota – Mungkin tidak banyak yang tahu kalau Raden Saleh banyak bergerak di bidang ilmiah. Ketika pada 1851 di Delft (Belanda), berdiri KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde = Institut Kerajaan untuk Linguistik dan Ilmu Bangsa-bangsa), Raden Saleh menjadi anggota pertama dan anggota donor. Pada 1865 Raden Saleh mengajukan permohonan izin dan dukungan dari pemerintah kolonial untuk melakukan perjalanan budaya keliling Pulau Jawa. Menurutnya, perjalanan semacam ini bisa digunakan untuk mencari benda-benda arkeologi dan manuskrip yang masih dimiliki oleh keluarga-keluarga pribumi. Minat Raden Saleh demikian besar karena dia banyak bergaul dengan orang-orang Bataviaasch Genootschaap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW), cikal bakal Museum Nasional.

Beberapa bulan kemudian Raden Saleh mulai melakukan pekerjaan ekskavasi untuk mencari fosil-fosil. Situs itu berlokasi di Banyunganti, Kabupaten Sentolo, Jawa Tengah. Raden Saleh mendapatkan sebuah tulang belakang sepanjang 18 kaki, lengkap dengan tulang-tulang rusuk. Sejumlah gigi dari binatang yang sama juga ditemukan. Dalam ekskavasi lanjutan, dia menemukan dua buah tulang belakang lagi dan dua buah tulang bulat. Dalam ekskavasi selanjutnya, dia menemukan bagian anterior tulang belakang dan bagian kepala (Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie & Nasionalisme, 2009).

Pada lokasi ekskavasi kedua di Kalisono, sekitar 11 kilometer dari lokasi pertama, dia menemukan bagian kepala, sejumlah tulang rusuk, tiga buah gigi, dan siput laut. Di lokasi ketiga yang sulit, Raden Saleh menemukan dua buah tulang sendi. Di lokasi keempat, Gunung Plawangan, fosil yang ditemukan berupa dua persendian dan satu gigi. Semua fosil temuan Raden Saleh dikirim ke Batavia. Di Jawa Timur, Raden Saleh menemukan sejumlah gigi geraham yang patah. Sejumlah benda paleontologis juga diperoleh dari sana.

Setelah pulang ke Batavia, Raden Saleh berhasil membawa pulang 38 manuskrip (kropyak). Artefak-artefak itu dia serahkan kepada BGKW karena memang koleksinya masih sedikit. Seorang ilmuwan, K.F. Holle menganggap pentingnya beberapa manuskrip tentang Sunda. Selain sejumlah fosil dan manuskrip, Raden Saleh juga membawa sejumlah besar koleksi arkeologi dari logam dan benda-benda etnografi. Benda-benda itu kemudian dipamerkan oleh Dewan BGKW. ”Jumlah koleksi benda logam yang berasal dari periode Hindu telah bertambah dengan pesat. Kontribusi terbesar berasal dari Raden Saleh,” demikian komentar anggota-anggota BGKW.

Karena sumbangannya dianggap luar biasa, maka Raden Saleh diangkat menjadi anggota kehormataan BGKW. Dia adalah orang pribumi pertama yang mendapat kehormatan itu. Pada pertemuan selanjutnya Raden Saleh menghadiahkan sebuah tombak antik, dua buah senjata, dua buah prasasti logam Raden Saleh ternyata merupakan penyumbang terbesar Museum Nasional. Sayang dia meninggal secara mendadak pada 23 April 1880 di Bogor. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori