Oleh: hurahura | 8 Maret 2016

Pariwisata Berwawasan Konservasi

Ceto-05Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (Foto: Djulianto Susantio)

Segala yang dilakukan oleh arkeologi harus diketahui masyarakat lewat publikasi, sementara benda-benda temuannya diperlihatkan kepada umum lewat pameran. Bila bendanya kecil dipamerkan di dalam museum, sebaliknya bila besar dipamerkan di lapangan, misalnya dalam bentuk taman purbakala. Itulah tujuan akhir arkeologi.

Arkeologi jelas banyak memberi sumbangan untuk pariwisata. Pemugaran Candi Borobudur, misalnya, dikaitkan dengan pariwisata. Sama halnya terhadap pemugaran Candi Angkor Wat di Kamboja.

Dalam kaitannya dengan pariwisata, pemugaran memegang peranan penting. Pemugaran adalah upaya untuk mengembalikan bangunan yang rusak menjadi bagus atau menyusun batu-batu yang berantakan menjadi bentuk bangunan.

Pemugaran sangat berhubungan dengan asas pemanfaatan. Selama ini memang pariwisata selalu memanfaatkan produk-produk budaya. Bahkan sejak lama Candi Borobudur dan Candi Prambanan dipromosikan menjadi unggulan berkelas dunia.


Wisata Candi

Wisata candi untuk beberapa wilayah di Jawa memang sangat potensial. Apalagi di Jawa terdapat ratusan candi besar dan candi kecil yang berasal dari abad ke-5 hingga ke-15 M. Sebagian kecil candi terdapat di Bali, Sumatera, dan Kalimantan.

Konservasi candi yang diartikan perawatan dan pemugaran, saat ini sedang digalakkan. Tujuan konservasi adalah agar candi bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Disayangkan, candi sebagai pusat kebudayaan kurang mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Ironisnya, pemerintah kemudian mengalihkannya menjadi pusat ekonomi, yakni untuk kepariwisataan.

Sejak 1980-an ketika sektor pariwisata semakin menjanjikan, pemerintah berupaya menggaet dollar dari kantong wisatawan. Atas nama devisa dan pembangunan, banyak fasilitas dibuat dan ditawarkan untuk kenikmatan wisatawan. Perkampungan penduduk di dekat Candi Borobudur, misalnya, digusur demi pembangunan Taman Wisata Candi Borobudur.

Sejarah menunjukkan bahwa pengelolaan kegiatan pariwisata melalui komersialisasi candi tidak pernah menguntungkan kalangan arkeologi. Biaya penelitian arkeologi, termasuk pemugaran candi, terlampau besar. Belum lagi biaya pemeliharaan candi. Pengeluaran tidak akan pernah sebanding dengan pemasukan dari retribusi dan efek keuntungan pariwisata lain.

Sekadar gambaran, kini Candi Borobudur telah menjadi mesin penghasil uang pemerintah. Banyak pakar menganggap nilai kultural dan nilai sakral Borobudur telah tenggelam. Kemegahan warisan dunia itu tercoreng pedagang asongan, pedagang kaki lima, dan fasilitas kepariwisataan lain.

Sebenarnya arkeolog R. Soekmono (alm) pernah tidak setuju dengan sebutan taman wisata. Dia lebih cenderung kepada istilah taman purbakala. Namun rupanya faktor ekonomi dianggap lebih penting, padahal membangun budaya bangsa jauh lebih penting.


Disewakan

Semrawutnya persoalan candi, juga menimpa kompleks Candi Dieng. Karena uang retribusi dari Dieng dipandang menggiurkan, maka Dieng menjadi ajang rebutan antara Kabupaten Wonosobo dengan Kabupaten Banjarnegara. Akibatnya candi-candi yang berasal dari abad ke-8—ke-9 itu pun terbengkalai. Bahkan situsnya “disulap” menjadi taman dan lahan pertanian. Ironisnya, sebagian besar lahan Situs Dieng, disewakan ke petani kentang oleh kedua pemda.

Karena semua candi dikemas menjadi komoditi untuk wisatawan, maka substansi candi sebagai warisan budaya tenggelam bahkan nyaris menghilang. Hanya sedikit orang yang tahu kalau candi merupakan bangunan suci yang dibuat untuk tujuan keagamaan dan kemanusiaan.

Keletakan, bentuk, arca, ornamen, dan relief candi sarat akan makna yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam menjalani kehidupan. Pelajaran toleransi beragama, umpamanya, bisa dipetik dari Candi Prambanan yang bersifat Hindu dan Candi Sewu yang bersifat Buddha. Kedua candi terletak berdekatan di kompleks yang sama. Selama berabad-abad masyarakat kuno yang berbeda agama bisa hidup damai dan berdampingan. Bahkan sekitar satu kilometer di timur laut Prambanan, terdapat Candi Plaosan yang berciri Buddha sekaligus Hindu.

Banyak nilai bisa dipelajari dari candi-candi di Indonesia. Pesan dari masa silam selalu tertera pada setiap bagian candi. Dari teknologi bangunan, kita bisa belajar mengapa candi yang dibangun tanpa semen itu mampu bertahan hingga ratusan tahun.
Berbagai aspek astronomi diperkirakan tergambar dari stupa-stupa Candi Borobudur.

Sudah saatnya perhatian kepada candi jangan hanya difokuskan untuk kepariwisataan.
Segi pendidikan dan kebudayaan tetap harus dinomorsatukan. Kita memang akan mendapatkan uang dari pariwisata, namun di balik itu kerugian yang kita peroleh justru jauh lebih besar. Mungkin generasi mendatang tidak bakalan mengenal candi lagi karena sudah rusak akibat aktivitas kepariwisataan itu. Sudah saatnya tercipta pariwisata yang berwawasan konservasi. (Berbagai sumber/Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: