Oleh: hurahura | 20 Oktober 2012

Serunya Berwisata, ke Candi Cetho

KOMPAS, Jumat, 19 Oktober 2012 – Indonesia itu kaya peninggalan bersejarah, salah satunya adalah peninggalan dari zaman Hindu-Buddha berupa candi-candi yang tersebar di Tanah Air. Salah satunya Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Candi Cetho itu peninggalan Hindu-Majapahit sekitar abad ke-15. Terletak di lereng Gunung Lawu, di tengah hamparan kebun teh, tepatnya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Keberadaannya pertama kali dilaporkan Van De Valis tahun 1842, lalu dilakukan ekskavasi (penggalian) oleh Dinas Purbakala Hindia-Belanda.

Lokasinya membuat kita bisa menikmati angin sejuk saat berada di Candi Cetho. Selain itu, kebersihannya pun terjaga, hampir tak ada sampah yang tercecer.

Saat ditemukan, Candi Cetho berupa reruntuhan batu pada 14 dataran bertingkat, memanjang dari barat (paling rendah) sampai timur. Kini candi hanya tinggal 13 teras, dan pemugaran dilakukan di sembilan teras saja. Strukturnya yang berteras-teras (trap) memunculkan dugaan kebangkitan kultur asli (punden berundak) pada masa itu. Dugaan itu dikuatkan bentuk tubuh pada relief seperti wayang kulit.

Juru kunci Candi Cetho, Citro, menjelaskan, candi ini merupakan peninggalan Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Konon, candi tersebut adalah petilasan Brawijaya saat pelarian. Saat itu terjadi perang saudara di Majapahit karena Raden Patah (putra Brawijaya V) mengajak ayahnya memeluk Islam.


Berteras-teras

Candi Cetho terdiri atas 9 teras. Teras pertama berupa halaman candi pada posisi paling luar. Dari halaman candi, kita bisa melihat panorama indah dengan pandangan lepas ke arah matahari tenggelam.

Di teras ke-2, kita menjumpai petilasan Ki Ageng Krincing Wesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho. Pada teras ke-3 ada relief bebatuan di atas permukaan tanah, berupa phallus (alat kelamin pria) dengan panjang lebih dari 2 meter. Di sebelah kanan dan kirinya ada lambang Kerajaan Majapahit sebagai penunjuk masa pembangunan candi.

Memasuki teras ke-4, kita menemukan relief menggambarkan kisah perjuangan manusia yang ingin melepaskan diri dari malapetaka (Sudhamala). Pada trap ke-5 dan ke-6 terdapat pendapa yang biasa untuk upacara keagamaan. Di teras ke-7 ada arca Sabdopalon dan Nayagenggong, abdi dalem sekaligus penasihat spiritual Prabu Brawijaya.

Memasuki trap berikutnya terdapat arca phallus Kuntobimo yang melambangkan kesuburan. Di sebelahnya ada arca Prabu Brawijaya, melambangkan teladan sebagai raja berbudi luhur dan dipercaya sebagai utusan Tuhan. Trap ke-9 adalah teras utama, tempat memanjatkan doa berupa kubus berukuran 1,5 meter.

Tahun 2004 Bupati Karanganyar Rina Iriani menyemarakkan gairah keberagaman di sekitar candi dengan menempatkan arca Dewi Saraswati (patung pendidikan), sumbangan Kabupaten Gianyar, Bali. Di sebelahnya terdapat sendang Pundisari, tempat membersihkan diri, keselamatan, dan konon membuat orang awet muda. Di samping sendang ada bangunan tua sebagai balai meditasi.


Ramai pengunjung

Dulu Candi Cetho berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi kini juga menjadi tempat wisata. Pengunjungnya beragam, dari turis lokal sampai mancanegara. Bahkan, warga sekitar pun turut berpartisipasi. Sampai kini kompleks candi digunakan warga setempat yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Tempat ini juga populer sebagai tempat pertapaan, terutama bagi penganut Kejawen.

Citro mengungkapkan, biasanya pengunjung ramai saat hari libur seperti Minggu. ”Candi Cetho lebih ramai kalau ada acara keagamaan Hindu seperti Kuningan, Galungan, dan Saraswati,” ujarnya.

Salah satu pengunjung, siswa SMA Muhammadiyah 9 Sambirejo, Sragen, Febry, datang ke Candi Cetho bersama teman-teman. ”Kita bisa menikmati kebesaran Tuhan lewat tangan manusia,” kata Febry.

Hal senada diungkapkan siswi SMAN 1 Karanganyar, Novia Ratna Putri, yang menganggap Candi Cetho ibarat ”cuilan” surga. ”Indah sekali, di sini kita bisa belajar sambil berwisata.”


Tim SMA Negeri Kerjo, Karanganyar, Jawa Tengah:
Nandya Arifka Puspaningrum
Ayu Maria Sari
Meinita Yesi
Taufik Ashari


Ayo ke Karanganyar

MuDAers, di Karanganyar tak hanya ada Candi Cetho. Ada beberapa candi yang bisa dikunjungi dan enggak kalah menarik dibandingkan Candi Cetho. Pengin tahu?

– Candi Sukuh di Kelurahan Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Candi ini dikategorikan candi Hindu karena ditemukan obyek pujaan lingga dan yoni. Candi ini kontroversial karena bentuknya yang kurang lazim, dan banyaknya obyek lingga dan yoni yang melambangkan seksualitas. Candi Sukuh diusulkan ke UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia sejak 1995.

– Candi Planggatan di Dusun Tambak, Desa Planggatan, Ngargoyoso, Karanganyar. Situs ini terletak dekat permukiman penduduk, berupa bukit kecil dengan beberapa pohon besar di puncak bukitnya. Luas situs itu sekitar 30-50 meter persegi.

– Candi Kethek di timur laut Candi Cetho, menempati lahan milik Perum Perhutani. Untuk mencapai tempat ini, kita harus berjalan kaki lewat jalan setapak selama sekitar 15 menit. Kethek dalam bahasa Jawa berarti kera. Candi ini dinamakan demikian karena warga setempat percaya bagian atas candi menyerupai Hanoman, tokoh pewayangan berwujud kera putih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori