Oleh: hurahura | 8 November 2012

Jakarta Kota Para Pendatang

Warta Kota, Sabtu, 3 November 2012 – Satu-satunya kota di Indonesia yang dihuni para pendatang dari berbagai suku bangsa, termasuk keturunan etnis asing, adalah Jakarta. Mereka datang dari berbagai daerah di Nusantara dan mancanegara sejak abad ke-16, ketika kongsi dagang Belanda VOC berkuasa di Batavia.

Ketika itu daya tarik Jakarta adalah pelabuhan Sunda Kalapa yang merupakan bandar niaga kerajaan Pajajaran. Sunda Kalapa berada di mulut sungai Ciliwung. Pelabuhan tersebut menjadi persinggahan untuk mengambil air minum kapal-kapal niaga asing. Waktu itu air Ciliwung sangat bersih.

Pada masa itu Jakarta menjadi wilayah bawahan kesultanan Banten. Jakarta direbut dari kerajaan Pajajaran pada 1527 dipimpin oleh Pangeran Jayakarta. Pada awalnya kawasan ini tidak berpenghuni. Rawa, hutan, dan hewan liar masih banyak terdapat di kawasan ini. Sekarang masih teridentifikasi lewat nama-nama jalan yang menggunakan Rawa (misalnya Rawaterate dan Rawakebo), Hutan (misalnya Utan Kayu dan Utan Panjang), dan Kebun (misalnya Kebon Jati dan Kebon Pala).

Keadaan berubah ketika VOC menguasai daerah ini dan diberi nama Batavia. Pembangunan mulai dilakukan oleh Gubernur Jenderal JP Coen. Sejak itu Batavia dibangun menjadi kota administrasi pemerintahan VOC. Pembangunan Batavia oleh Coen didukung dana dari kalangan pengusaha Cina. Dana pembangunan kota dikoordinasi oleh Souw Beng Kong (So Bing Kong). Dia dikenal sebagai pedagang kaya dan akrab dengan para pembesar kesultanan di Banten dan Jawa sebelum kedatangan VOC. Kelak Kong menjadi Kapiten Cina di Batavia. Jauh sebelum kedatangan Belanda masyarakat keturunan Cina sudah menetap di Batavia dan berperan sebagai penghubung dengan dunia luar untuk perdagangan.

Untuk membangun kota, Coen mendatangkan 1.000 tenaga asal Makao pada 1619. Pada 1621 didatangkan 800 orang Banda. Mereka dimukimkan dekat pelabuhan Sunda Kalapa. Tempat bermukimnya orang Banda dikenal sebagai Kampung Bandan dan merupakan kampung etnis pertama di Batavia. Setelah itu VOC mendatangkan orang-orang Bali, Manggarai, Bugis, Makassar, Tambora, dan Melayu. Kesemuanya mendapat pemukiman dan diberi nama sesuai tempat asal.

Pembangunan Batavia berkembang pesat mirip kota-kota di Eropa. Maka kemudian Batavia mendapat julukan “Ratu Asia” atau “Kota Eropa di Asia”. Batavia menjadi ramai sebagai kota niaga terbesar di Asia Tenggara sejak abad ke-17. Hal ini tentu saja menjadi daya tarik para pendatang dari Timur Tengah, India, dan Asia Timur.

Batavia mulai mengalami proses pembauran masyarakat majemuk yang terintegrasi dari perpaduan berbagai latar belakang budaya dan keyakinan. Para pendatang tetap memelihara budayanya untuk mempertahankan jati diri mereka. Proses akulturasi di Batavia semarak dengan dialek bahasa Melayu pasar sebagai komunikasi pergaulan. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori