Oleh: hurahura | 23 Januari 2011

Situs Historis dalam Bayang Ancaman Kepunahan

Koran Sindo, Minggu, 23 Januari 2011 – BARISAN patung batu mengarah ke satu garis pantai,tepat di depan Pulau Paskah.Moai,demikian penduduk menamai patung-patung itu, bertahan di antara ancaman pengikisan dan ulah wisatawan iseng. Pulau Paskah atau yang bernama asli Rapa Nui mungkin tampak sepi.Pada potret yang dijual di toko-toko cenderamata, misalnya, hanya tergambar barisan Moai dan rumput yang diterpa sinar matahari.

Adakah kehidupan di salah satu Pulau Polinesia itu? Ada,meski tidak terlalu banyak. Menurut data bersumber pada 2010, populasi di Rapa Nui mencapai 4.888 orang. Pada 1722, seorang penjelajah Belanda, Jacob Roggeveen, tiba di Rapa Nui. Dia menjelajahi setiap jengkal Rapa Nui,mulai dari ujung timur hingga barat, utara sampai selatan. Penduduk setempat menamai Rapa Nui dengan istilah lain,yakni Mata-ki-Te-rangi. Nama yang tak sulit untuk diucapkan, sekaligus membawa makna sederhana. Bila diterjemahkan, Mata-ki-Te-rangi berarti “Kala mata memandang langit”.

Sungguh pengertian yang sederhana, tapi mendalam atas sebuah penamaan. Ketika mata memandang langit, apa yang bisa dilihat? Ada awan, burung-burung,mungkin langit mendung,dan percik harapan. Maksud imaji terakhir tidak lain adalah hujan. Hujan yang turun di Rapa Nui selalu membuat basah tubuh Moai.Patung-patung misterius yang terbuat dari batu itu memang tak bisa bicara, tapi tampak siap dengan pengikisan yang mungkin sekali terjadi. Selain Moai, ada pula kuil upacara (Ahu) dan tulisan bergambar (Rongo-rongo). Tiga situs itulah yang memperkaya Rapa Nui dan menjadikan pulau tersebut sebagai tempat yang tidak lagi terpencil dan mampu menarik minat wisatawan asing untuk mengeksplorasi keindahan pantainya. Banyaknya wisatawan yang datang ke Rapa Nui sungguh disyukuri masyarakat setempat.

Dengan keahlian yang dimiliki, penduduk Rapa Nui bisa leluasa menjual cenderamata hasil keterampilan tangan kepada para pencinta wisata jelajah. Namun, Moai justru kian terpuruk.Tangan-tangan jahil para wisatawan tidak bertanggung jawab telah mengubah rupa patung-patung historis itu. Ada beberapa Moai yang rusak, bahkan sampai patah. Sejumlah Moai tidak lagi berfigur tubuh manusia-manusia yang masih misterius.Tubuh-tubuh itu rusak bukan karena proses alamiah, melainkan ulah manusia.Keindahan monolitisnya memang tidak berkurang, tapi terasa ada penggalanpenggalan yang pada akhirnya terlantar di atas tanah.

Moai, yang kerap juga disebut “kepala-kepala Rapa Nui” tidak semestinya runtuh menyeluruh. Begitu pula dengan Ahu, Rongorongo, dan bentukan monolit lain. Ada peradaban yang tidak mampu kita jamah dan sudah terwakili lewat Moai.Namun,beberapa jam saja seorang turis tidak peduli peninggalan budaya,seketika itu pula Moai kehilangan bentukannya. Rapa Nui bersejajar dengan situs-situs lain yang dilindungi UNESCO. Rapa Nui dan segala yang tertampil di atas tanahnya adalah Warisan Dunia. Terpisah dari keberadaan situs-situs lain di Rapa Nui, Moai ditetapkan menjadi salah satu finalis Tujuh Keajaiban Dunia. Berjarak jauh dari Rapa Nui, tergambar peradaban Timbuktu, rumah bagi perguruan tinggi prestisius Koranic Sankore University.

Kota yang terletak di Mali itu dikenal sebagai tempat spiritualitas serta intelektualitas berpadu.Timbuktu adalah pusat penyebaran Islam di Afrika, khususnya pada abad 15 dan 16. Ada tiga masjid di Timbuktu, yakni Djingareyber, Sankore, dan Sidi Yahia. Meski ketiganya dirawat secara berkesinambungan, tetap ada ancaman yang terus menyudutkan posisi ketiga masjid. Ketiga tempat bersembahyang di Timbuktu itu hingga sekarang belum tersertifikasi. Masing-masing masjid dibangun berdasar perintah dan periode berbeda. Ketika Sultan Kankan Moussa kembali dari ziarah Mekah pada 1325,dia langsung memerintahkan pembangunan Masjid Djingareyber. Akhirnya, berdirilah dengan megah Masjid Djingareyber.

Sementara itu,Masjid Sankore dibangun pada periode Mandingue. Masjid itu kemudian dipugar dan direkonstruksi di bawah perintah Imam Al Aqib antara tahun 1578 dan 1582.Lain pula cerita di balik pembangunan Masjid Sidi Yahia. Masjid yang terletak di selatan Sankore itu diperkirakan mulai dibangun pada 1400. Pembangunan di bawah perintah Sheikh El Moktar Hamalla. Dulu ada beberapa masjid lain di Timbuktu. El-Hena, Kalidi, dan Algodour Djingareye ada di antara jajaran masjid kebanggaan Timbuktu. Namun, ketiganya sudah tidak berdiri di tempat semula. Tidak pula dipindahkan ke tempat lain.

Ketiga masjid bersejarah itu sudah rata dengan tanah. Timbuktu (Tim-Buktu) dibangun kembali oleh Qadi Al Aqib pada abad 16.Saat itu,Timbuktu dikenal sebagai ibu kota spiritualitas di bawah kekuasaan dinasti Askia. Pesona, intelektualitas, serta ragam spiritualitas yang menyelimuti Timbuktu akhirnya membuat bagian dari Mali itu masuk dalam jajaran finalis Tujuh keajaiban Dunia. (ika)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori