Oleh: hurahura | 25 Juli 2012

Koleksi Terbakar di Perancis (1)

Anjungan Hindia Belanda berarsitektur Bali (Sumber: Gouda, 2007)

Warta Kota, Selasa, 24 Juli 2012 – Bila kita memasuki gedung lama Museum Nasional, yang biasa disebut Gedung Arca, terlihat beberapa arca batu berwarna agak kehitaman. Warna demikian memang tidak biasanya. Boleh dibilang inilah arca ‘abnormal’, meskipun tanda-tanda ikonografis arca tersebut masih tampak jelas.

Dibandingkan arca-arca batu lain, arca ‘abnormal’ tersebut pernah berwisata ke mancanegara. Ketika itu tahun 1931 pemerintah Prancis menyelenggarakan Exposition Coloniale Internationale di kota Bois de Vincennes. Dalam Pameran Kolonial itu, Museum van Het Bataviaasch Genootschaap van Kunsten en Wetenschappen, yang sekarang menjadi Museum Nasional, ikut berpartisipasi. Banyak koleksi diboyong dari museum ini. Koleksi lainnya berasal dari Museum Leiden dan koleksi pribadi dari Batavia.

Tujuan utama Pameran Kolonial adalah untuk mengungkapkan dan merayakan kekuatan politik dan kebudayaan Eropa yang mungkin telah menyentuh hingga ke sudut tergelap dan paling terbelakang di bumi ini. Secara eksplisit, kemungkinan besar, tujuan pameran adalah sebagai ‘alat propaganda masing-masing pemerintah’. Bahkan ada pihak yang mensinyalir bahwa tujuannya untuk memberikan kesadaran kepada khalayak akan kekuatan bangsa-bangsa penjajah dalam mendominasi penduduk asli. Ketika itu banyak media di Prancis dan Belanda menulis, pameran yang diikuti Hindia Belanda paling hebat sekaligus paling jahat (Gouda, 2007).

Anjungan Hindia Belanda yang antara lain menampilkan arsitektur rumah gadang dan arsitektur pura, dinilai sangat luar biasa. Apalagi adanya unjuk kebolehan oleh para penari Bali. Sayang pameran itu ternoda akibat kebakaran hebat pada 8 Juni 1931. Kebakaran yang berlangsung selama lima jam itu, menghanguskan beberapa anjungan dan isinya. Di antara berbagai koleksi terdapat arca logam, kain, perhiasan, dan artefak kayu. Ikut hancur lukisan Raden Saleh berjudul ’Kerbau dan Singa’. Yang bernasib agak baik adalah sejumlah arca batu.

Penyebab kebakaran masih misterius. Ada yang menduga karena hubungan pendek arus listrik. Segelintir pihak menganggap sebagai sabotase karena sebelumnya musibah juga pernah melanda pemerintah kolonial Belanda di salah satu negara jajahannya. Menurut kesimpulan kepala polisi, karakter bangunan pameran menyebabkan anjungan itu mudah terbakar. Sementara menurut teknisi, saluran listrik di anjungan Hindia Belanda itu sudah sangat baik. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)


Responses

  1. di Bali di kerajaan Gelgel ada bangunan namanya “Kerta Gosa” yg sebenarnya nama bangunan itu “Kerta Dosa” yang artinya paling hebat sekaligus paling jahat, bangunan ini di gagas oleh Ide Igusti Agung Siddhaman ( Anglurah Mangku Bumi/Dalem) untuk memperingati semua manuisia,
    pada tahun 1686 saat bali di pecah ( di adu domba oleh belanda) dan bisa dipersatukan kembali, karena belanda takut maka nama “Kerta Dosa” di ganti dengan nama “Kerta Gosa” dimana kata Gosa tdk di kenal di bali yg arti dalam bahasa inggrisnya Hantu, dan Dosa kutukan ini pada Belanda terus menghantui termasuk pada pendirian patung pahlawan Kapten VOC di belanda tapi biadab bagi kemanusiaan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori