Oleh: hurahura | 12 Februari 2012

Wabah Penyakit di Batavia

Warta Kota, Jumat, 10 Februari 2012 – Batavia pernah mendapat julukan ‘Ratu dari Timur’. Ketika itu penataan kota sangat apik, dilengkapi dengan kanal-kanal model Belanda untuk mengatur tata perairan. Sungai Ciliwung masih bersih, sehingga banyak digunakan untuk air minum. Namun lama-kelamaan sebutannya berubah menjadi ‘Kuburan dari Timur’. Ini karena Sungai Ciliwung tercemar sedikit demi sedikit. Sejak itu berbagai penyakit mulai menjadi wabah di Batavia.

Menurut laporan-laporan lama, hewan yang dianggap banyak membawa wabah adalah nyamuk dan tikus. Penyakit malaria selalu disebutkan dalam laporan atau arsip resmi VOC. Yang paling banyak menderita terhadap penyakit ini adalah kaum pribumi. Soalnya mereka bertempat tinggal di daerah yang mudah dijangkau oleh nyamuk malaria. Lagi pula kehidupan mereka terbilang miskin.

Penyakit tipus dan cacar juga hampir selalu disebutkan dalam laporan. Penyakit ini mempunyai prevalensi tinggi di tempat permukiman yang tidak sehat. Apalagi air minum, air penyiram tanaman, dan air pencuci sayuran sering tercemar (W. Djuwita Ramelan, 2008).

Penyakit lain yang muncul akibat kondisi lingkungan yang buruk adalah disentri. Selanjutnya kolera dan pes. Penyakit yang mulai banyak diberitakan setelah akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 adalah TBC, paru-paru, difteri, parasit usus, kusta, dan infeksi kulit.

Diduga kuat, perilaku masyarakat ada kaitannya dengan penyakit-penyakit tersebut. Pertama, kebiasaan bertempat tinggal yang tidak sehat, misalnya di daerah kumuh, jauh dari air bersih, berdempetan, sering tergenang banjir, dan rumah tidak mempunyai dinding/atap yang baik. Kedua, kebiasaan makan dan minum yang tidak memperhatikan kebersihan. Banyak bayi di Batavia terkena mencret-mencret dan penyakit sejenis. Ketiga, kebiasaan membuang sampah sembarangan, misalnya membuang sisa-sisa tebu pabrik gula ke Sungai Ciliwung sejak 1733. Keempat, kebiasaan mencuci dan mandi. Biasanya penduduk pribumi melakukan kedua kegiatan secara bersamaan. Apalagi ketika kelompok pribumi dan China membuka usaha binatu (cuci pakaian) memanfaatkan Sungai Ciliwung sebagai lokasi cucinya. Kelima, menjalankan ibadah keagamaan. Para ahli kesehatan dan dokter mengkhawatirkan bak-bak air tempat mengambil wudhu kurang terpelihara baik sehingga menjadi tempat berkembang biaknya kuman. Pada abad ke-18 agama Islam mulai berkembang di Batavia.

Wabah penyakit atau masalah kesehatan akibat bencana alam paling sering terjadi di Batavia. Banjir yang cukup besar mulai akrab dengan penduduk Batavia sejak 1893, namun tentu saja genangan airnya tidak setinggi pada masa sekarang. Dulu genangan setinggi lutut saja sudah dianggap luar biasa. Pada masa sekarang mungkin sudah dianggap biasa, apalagi pada wilayah langganan banjir. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori