Oleh: hurahura | 17 Agustus 2010

Warisan Budaya: Perluas Interaksi Masyarakat dengan Candi

Kompas Jogja, Rabu, 11 Agustus 2010 – Konsep humanisasi candi ditawarkan sebagai upaya pengelolaan candi di kawasan padat penduduk. Humanisasi candi dengan peningkatan aktivitas di dalamnya diperlukan untuk memperluas interaksi masyarakat.

Humanisasi candi merupakan hasil penelitian mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Penelitian menjuarai Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2010 dengan kategori Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis di Bali, 20-24 Juli.

Salah satu mahasiswa peneliti, Qolbiyati Muthmainah, mengatakan, humanisasi menggabungkan aktivitas masyarakat dengan bangunan candi. Penggabungan ini dilakukan sehingga keberadaan tidak saling mengancam. “Kalau candi ditemukan di perumahan padat, perumahan itu tidak perlu digusur, tapi cukup disesuaikan dengan bangunan candi,” tuturnya di Yogyakarta, Senin (9/8).

Selain itu, konsep humanisasi candi juga untuk memperluas interaksi masyarakat dengan candi. Interaksi ini dinilai penting karena tanpa interaksi dengan masyarakat, candi akan minim dikunjungi dan akhirnya terabaikan.

Di Yogyakarta, kata Qolbiyati, salah satu candi yang tidak memenuhi konsep humanis adalah Candi Sambisari. Selain banyaknya pagar yang membatasi akses ke candi, di sekitar candi juga terdapat bangunan kantor yang tidak sesuai.

Candi Prambanan dinilai memenuhi konsep humanisasi. “Di Prambanan sudah ada panggung yang didesain sesuai dengan candi sehingga tidak merusak arsitektur candi. Candi itu akan jadi latar belakang yang mempercantik panggung. Candi jadi hidup karena banyaknya acara di tempat itu,” katanya.

Penelitian tersebut mencontohkan perancangan humanisasi pada candi yang ditemukan di kompleks Universitas Islam Indonesia (UII). Dalam perancangan, candi disatukan dengan kompleks perpustakaan. Perpustakaan dibangun dengan materi yang sesuai dengan candi, salah satunya batu alam.

Terkait hal ini, Rektor UII Edy Suandi Hamid mengatakan, candi diharap sudah dapat dilihat masyarakat umum tahun 2012. Candi yang ditemukan tahun 2009 itu akan terbuka untuk umum dan diharap menjadi tambahan obyek sejarah bagi masyarakat. “Kami harap ada penelitian untuk mengkaji asal-usul candi ini,” tuturnya.

Saat ini, lokasi candi dipenuhi galian pasir. Sejumlah arca seperti Ganesha dan Andini disimpan demi keamanan. (IRE)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: