Oleh: hurahura | 17 Februari 2010

Penyuluhan Arkeologi


– Kepada Guru dan Murid

Kompas, 10 Januari 2005 – Maraknya pengrusakan dan pencurian benda-benda kuno di seluruh Indonesia, baik dengan cara memenggal, mencongkel, maupun mengangkut, menjadi bukti bahwa artefak-artefak masa lampau disukai banyak orang. Hal ini didukung oleh menjamurnya art shop atau art gallery ilegal dan calo-calo barang antik di pasaran gelap.

Minat yang besar terhadap barang antik memperlihatkan hobi ini tak pernah surut. Meskipun harga sebuah koleksi bisa mencapai jutaan dollar, namun pembeli barang-barang itu tetap saja ada.

Arkeologi sendiri memang bermula dari hobi (sekitar abad ke-17). Kemudian beberapa cendekiawan Barat mulai tertarik menyusun kisah sejarah dari koleksi-koleksi tersebut (sekitar abad ke-18). Setelah itu berkembanglah segala teori dan teknik, termasuk ekskavasi (abad ke-19—ke-20).


Pencurian

Sesuai namanya, arkeologi (archaeos = purbakala dan logos = ilmu) adalah ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaan masa lampau. Di Indonesia arkeologi mulai dikenal pada abad ke-20. Pada mulanya titik berat perhatian adalah pendaftaran, pencatatan, dan pemugaran. Itupun terfokus pada sisa-sisa kebudayaan kuno yang sebagian besar berupa candi dan arca dari masa pengaruh agama Hindu dan Budha di Indonesia.

Pada masa kini arkeologi dikenal sebagai ilmu yang meneliti masa lampau berdasarkan benda-benda yang ditinggalkan. Namun penelitian tersebut bukan semata-mata ditujukan untuk mempelajari masa lampau saja.

Dikeluarkannya Undang-Undang Lingkungan Hidup tahun 1982 menyiratkan bahwa warisan budaya merupakan unsur lingkungan hidup yang harus dilindungi. Dengan demikian warisan budaya juga harus berfungsi untuk masa kini maupun masa akan datang. Hal ini diperkuat oleh Undang-Undang Benda Cagar Budaya Nasional tahun 1992.

Sejak lama banyak situs arkeologi seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Kompleks Trowulan dimanfaatkan untuk kepentingan kepariwisataan. Ironisnya, seiring pesatnya perkembangan pariwisata di tanah air, meningkat pula pengrusakan dan pencurian terhadap peninggalan-peninggalan masa lalu.

Tak dipungkiri kalau masyarakat Indonesia masih belum mempedulikan warisan budaya nenek moyangnya. Banyak masyarakat belum memahami apa itu arkeologi beserta tujuannya dan cara-cara pencapaiannya. Hal ini tentu saja menjadi persoalan dan perlu mendapat perhatian para arkeolog.

Sebenarnya sudah banyak upaya yang dilakukan pihak arkeologi untuk memberikan penerangan kepada masyarakat mengenai betapa pentingnya tinggalan budaya untuk memahami masa lalu. Yang sering adalah menyelenggarakan pameran kepurbakalaan dan penyuluhan lewat film dokumenter. Namun segala upaya itu belum membuahkan hasil memadai karena pengrusakan dan pencurian masih kerap terjadi di seluruh Indonesia hingga kini.


Pendidikan Anak

Di banyak negara maju kunci keberhasilan dalam bidang apapun terletak pada peran guru dan murid. Karena itu untuk mengantisipasi tindakan negatif terhadap berbagai peninggalan purbakala, pihak berwenang di Indonesia harus memberikan penyuluhan arkeologi kepada para guru dan murid.

Penyuluhan harus berdampingan dengan pendidikan arkeologi karena pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan dan kurikulumnya.

Tujuan pendidikan amat dipengaruhi oleh sesuatu yang terjadi di masyarakat sekelilingnya, yang merupakan bagian dari cita-cita yang dituju oleh suatu lembaga pendidikan (Sumiati Atmosudiro, 1995).

Arkeolog Inggris M. Corbishley pernah mengemukakan tulisan yang banyak dikutip arkeolog-arkeolog negara berkembang tentang pendidikan arkeologi. Menurutnya, tujuan pendidikan mengenai arkeologi seharusnya bukan hanya diarahkan pertama kalinya kepada para mahasiswa, tetapi harus dikenal sejak masa anak-anak.

Sejak itu di Inggris arkeologi menjadi kurikulum nasional yang dipelajari di sekolah-sekolah dimulai ketika anak berumur lima tahun. Bahkan Arkeologi bukan saja merupakan bagian dari kurikulum Sejarah, tetapi juga menjadi aspek disiplin lain, seperti Geografi, Ilmu Alam, Matematika, dan Seni (Sri Utami Ferdinandus, 1996:104).

Langkah pemerintah Inggris selanjutnya adalah membentuk sebuah badan bernama English Heritage di bawah The National Heritage Act. Peranan dari English Heritage adalah melakukan konservasi kesadaran dan kesukaan akan lingkungan sejarah untuk kepentingan generasi masa kini dan masa akan datang. Selain itu English Heritage memberikan beasiswa kepada para murid, dana pemeliharaan monumen bersejarah, dan informasi untuk para guru dalam rangka penyusunan program pendidikan mengenai arkeologi.

Corbishley juga memberikan penjelasan mengenai data arkeologi yang ditemukan dalam ekskavasi kepada anak-anak. Kemudian dia memberi penyuluhan agar seorang anak dapat melihat artefak seperti mata seorang arkeolog.

Berkat pendekatan yang dilakukan Corbishley kepada para guru dan murid, maka masyarakat Inggris sudah memiliki apresiasi tinggi terhadap dunia kepurbakalaan. Bila mengunjungi suatu bangunan kuno, misalnya, anak-anak akan mencatat ciri-ciri pintu, warna tembok, penggunaan ruangan, dan model atap (Sri Utami Ferdinandus, 1996:105-106).

Keberhasilan Corbishley di Inggris barangkali patut ditiru arkeolog-arkeolog Indonesia. Jika anak-anak diberi pengertian tentang warisan budaya, tidak mustahil segala kejahatan terhadap peninggalan arkeologis Indonesia, akan semakin berkurang. Dengan demikian usaha pemerintah untuk melakukan tindakan preventif dan represif menjadi lebih mudah. (DJULIANTO SUSANTIO)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: