Oleh: hurahura | 3 April 2016

Menggugat Misteri Si Kerdil “Hobbit”

Ako-01KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Situs Liang Bua di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (17/1/2015). Di sini ditemukan Homo floresiensis pada 2003.

Akhir Maret lalu, di situs Nature, tim peneliti Liang Bua memublikasikan temuan baru punahnya “Homo floresiensis” atau manusia kerdil “hobbit” sekitar 50.000 tahun lalu. Lenyapnya keberadaan “hobbit” di Liang Bua, Flores, bersamaan dengan migrasi manusia modern menuju ke Australia.

Fenomena tentang penemuan hobbit cukup menyedot perhatian dunia. Sosok Homo floresiensis yang mengingatkan kita pada tokoh hobbit dalam trilogi film The Lord of The Rings ini unik karena menyimpan banyak misteri.

Temuan terakhir tim Liang Bua dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Universitas Wollongong, Australia, dan The Smithsonian Institution, Amerika Serikat, mengoreksi hasil penelitian sebelumnya yang menyebut kepunahan hobbit pada 12.000 tahun lalu. Pada penelitian 2001-2004 lalu terjadi kekeliruan interpretasi penanggalan lapisan arang karena penanggalan dilakukan pada deposit tanah yang telah tergerus erosi kemudian tertutup sedimen tanah berusia muda. Jadi hasil penanggalan pada lapisan arang di lapisan tanah tersebut menunjuk usia 20.000 tahun lalu dengan perkiraan waktu kepunahan hobbit sekitar 12.000 tahun lalu.

Namun, begitu dilakukan penggalian pada lapisan tanah lain yang belum terkena erosi, ditemukan fakta lain bahwa kerangka-kerangka hobbit berusia antara 100.000 dan 60.000 tahun. Sementara alat-alat batu di sana yang diduga dibuat spesies ini berumur hingga 50.000 tahun.

Sekitar 50.000 tahun lalu, hobbit diperkirakan punah karena tak lagi ditemukan jejaknya pada lapisan tanah seusia itu di Liang Bua. Punahnya hobbit bersamaan dengan lenyapnya beberapa spesies lain, seperti gajah mini purba (Stegodon pygmy), burung pemakan bangkai, burung bangau raksaksa marabau, dan komodo.

“Hewan-hewan itu hilang semua bersama hobbit. Ada banyak kemungkinan penyebab kepunahan mereka. Bisa jadi akibat perubahan cuaca, letusan gunung api, atau kedatangan manusia modern yang kemudian mengintervensi mereka,” kata paleontropolog dari Universitas Lakehead Kanada, Matt Tocheri, Rabu (30/3), di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta.

Menurut Matt, ada semacam jalinan simbiosis mutualisme antara hobbit dan hewan-hewan tersebut. Oleh karena itu, begitu salah satu di antaranya punah, yang lain turut serta lenyap.

“Hobbit, marabau, komodo, dan burung pemakan bangkai sama-sama membutuhkan makanan dalam jumlah banyak, dan mangsa yang ada saat itu adalah gajah mini. Ketika gajah mini punah, habislah makanan mereka. Lalu siapa yang menghabiskannya? Apakah mereka atau manusia? Bukti-buktinya masih terus dicari,” lanjutnya.

Senada dengan Matt, anggota Dewan Peneliti Universitas Wollongong, Australia, Profesor Richard “Bert” Roberts, juga mengatakan, sampai saat ini belum ditemukan jawaban apakah para hobbit sempat bertemu dengan kelompok-kelompok manusia modern. Meski demikian, dugaan intervensi manusia modern terhadap keberadaan hobbit agak beralasan karena manusia kerdil ini lenyap tepat saat migrasi besar manusia modern menuju Australia melewati Asia Tenggara, termasuk Flores, pada 50.000 tahun lalu.

Kemungkinan penyebab lain kepunahan hobbit masih terbuka lebar, seperti prediksi adanya letusan gunung api yang jejaknya tampak dari penemuan lapisan tefra atau abu vulkanik di Liang Bua. “Ada dua jenis abu vulkanik hasil erupsi piroklastik berwarna hitam dan putih. Kami masih terus-menerus mencoba meneliti dari gunung mana abu vulkanik tersebut,” ujar Thomas Sutikna, peneliti utama Liang Bua dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, yang tengah menempuh studi S-3 di Universitas Wollongong, Australia.


Perdebatan sengit

Pada saat hobbit ditemukan, di antara para peneliti dalam negeri sempat muncul silang pendapat dan perdebatan sengit. Sebagian peneliti menilai manusia Liang Bua adalah spesies baru, sementara peneliti lain berpendapat bahwa hobbit yang berkepala kecil hanyalah manusia yang mengalami kelainan fisik mikrosefali atau kepala kecil.

Ako-02KOMPAS/ALOYSIUS B KURNIAWAN

Arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, E Wahyu Saptomo (kiri) dan Jatmiko (kanan), mengamati replika tengkorak Homo floresiensis atau manusia kerdil hobbit, beberapa waktu lalu di kantor Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta.

Karena polemik semakin memanas, antara tahun 2004 dan 2006, di jajaran Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sempat muncul semacam larangan untuk membicarakan apa pun seputar Liang Bua.

Namun, di tengah kebekuan tersebut, berita penemuan manusia kerdil dari Flores telanjur bergulir ke diskursus arkeologi dunia. Kajian ilmiah tentang hobbit memikat para peneliti dan pemerhati arkeologi. Banyak di antara mereka yang mengutipnya sebagai bahan pembelajaran dalam belasan tahun terakhir, antara 2002-2012 dan 2012-2013.

Karena itulah, dua tahun lalu, Thomson Reuters, lembaga yang secara khusus menangani persoalan kekayaan intelektual dan ilmu pengetahuan memasukkan lima peneliti hobbit, meliputi almarhum Prof Mike Morwood, almarhum Rokus Awe Due, Thomas Sutikna, E Wahyu Saptomo, dan Jatmiko, dalam jajaran ilmuwan dengan pemikiran paling berpengaruh sedunia 2014.


Ciri fisik

Fenomena hobbit memang masih menyimpan banyak misteri. Dari sisi fisik, hobbit yang periode kehidupannya hampir bersamaan dengan manusia modern memiliki penampilan yang sangat berbeda dengan manusia modern. Penampilan hobbit secara keseluruhan justru sangat menyerupai fosil spesies-spesies manusia awal yang tinggal di Afrika dan Asia sekitar tiga juta hingga satu juta tahun lalu.

Hobbit memiliki tubuh kerdil dengan tinggi 106 sentimeter. Adapun kapasitas volume otaknya sangat kecil, yaitu seukuran otak simpanse sekitar 400 sentimeter kubik.

Dalam penggalian sedalam 5,9 meter, para peneliti menemukan sekitar 6 hingga 10 kerangka hobbit yang secara keseluruhan memiliki tubuh kerdil. Dari semuanya, hanya satu individu yang ditemukan dalam kondisi kerangka lengkap.

Meski hobbit sudah punah, masih beredar anggapan adanya sisa-sisa keturunan hobbit dengan keberadaan orang-orang katai atau kerdil di Rampasasa, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Namun, anggapan ini dibantah tim Liang Bua karena ukuran volume otak dan karakter tengkorak mereka normal, jauh berbeda dengan hobbit.


Sisa manusia awal era modern?

Fenomena penemuan hobbit menjadi semakin menarik karena mampu menghadirkan wacana-wacana baru keberadaan spesies manusia yang mirip manusia awal, tetapi hidup pada era modern. Apakah dia sisa-sisa manusia awal pada era modern? Belum ada jawaban yang pasti soal hal ini.

Menurut Thomas, hobbit tidak masuk dalam kategori Homo erectus ataupun Homo sapiens (manusia modern). “Taring giginya mengingatkan kita pada manusia awal di Afrika yang sangat tua. Yang jelas, masih ada tanda tanya besar karena mereka bukan berasal dari kelompok Homo erectus atau manusia modern. Penemuan ini sangat unik dan masih menjadi bahan kajian yang perlu terus digali,” tuturnya. (ALOYSIUS B KURNIAWAN)

(Sumber: Kompas, Minggu, 3 April 2016)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: