Oleh: hurahura | 23 Juli 2012

Arca-arca Rawan Rusak di Candi Borobudur

Jika mengunjungi Candi Borobudur biasanya yang sering dilakukan orang adalah meraba-raba atau menyentuh sebuah arca yang terletak hampir di bagian puncak candi. Di mulut rakyat arca tersebut dikenal dengan sebutan Kunta Bima. Sebenarnya arca Kunta Bima adalah arca Buddha biasa, seperti arca-arca lainnya. Memang bagi sementara orang belum lengkap rasanya kalau tidak menuju tempat bermukimnya arca itu.

Banyak wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara sering kali termakan isu “kedahsyatan” arca Kunta Bima. Begitu pula tamu-tamu negara yang berkunjung ke Candi Borobudur. Mereka hampir selalu meluangkan waktu untuk mengadu peruntungan di sini. Pangeran Charles, misalnya, suatu kali pernah berhasil menyentuh arca Kunta Bima. Entah apa permohonannya ketika itu sehingga dia kemudian bercerai dengan Putri Diana.

Mitos tentang arca Kunta Bima muncul sejak puluhan tahun lalu. A.J. Bernet Kempers dalam bukunya (1954) menulis, “Banyak sekali pengunjung Borobudur yang tujuan utamanya susah payah mendaki itu bukanlah tempat suci di pusat, bukan ketenangan di atas batur-batur bundar, dan bukan pula pemandangan yang sangat indah. Tujuannya ialah sebuah arca Buddha dalam salah satu stupa yang terawang”. Itulah arca Kunta Bima yang dimaksud.

Menurut kepercayaan, barang siapa dapat menyentuh bagian tertentu arca ini, boleh mengucapkan doa untuk memohon rezeki, berkah, jodoh, keberuntungan, dsb. Disyaratkan, pengunjung pria harus dapat menyentuh tumit arca, sementara pengunjung wanita harus dapat menyentuh jari kaki. Ada pula yang berpendapat, setiap pengunjung baik pria maupun wanita, harus dapat menyentuh lutut arca. Kempers sendiri menulis kalau pengunjung harus dapat menyentuh tangan kanan arca.

Hingga kini cerita-cerita sukses karena “tuah” arca ini telah beredar luas di kalangan masyarakat. Misalnya tentang kesuksesan seorang penduduk Kalimantan. Tahun 1977 dia berhasil menyentuh arca Kunta Bima sambil menyebutkan keinginannya. Sejak itu dari tahun ke tahun usahanya berkembang terus. Tahun 1983, dia pernah melakukan kaul di Candi Borobudur dan kebetulan bertemu dengan penulis.

Menurut arkeolog Prof. Soekmono, mitos Kunta Bima sebenarnya hanya akal-akalan petugas candi. Pada tahun 1950-an seorang petugas rupanya menemukan ide brilian. Di atas pangkuan arca ditaburkan bunga dan uang recehan. Dengan demikian memberi kesan uang tersebut merupakan pemberian pengunjung. Dia pun bercuap-cuap memuji “tuah” arca Buddha tadi. Akibatnya para pengunjung lain ikut-ikutan menaburkan uang recehan. Alhasil setiap sore sang petugas bisa mengantungi hasil yang lumayan.

Cerita-cerita semacam itulah yang agaknya membangkitkan minat masyarakat terhadap arca Kunta Bima. Padahal, arca itu tidak memiliki keistimewaan apa pun dibandingkan arca-arca lain yang sejenis.

Karena didukung cerita yang luar biasa, maka kelestarian arca Kunta Bima jauh lebih buruk daripada arca-arca lain. Bila diamati dengan seksama, terlihat pada bagian tubuhnya banyak terdapat noda putih, pertanda bekas sentuhan pengunjung yang tangannya berminyak. Bagian lapik stupanya pun banyak aus karena injakan alas kaki pengunjung yang mencoba “mengadu nasib”.

Sebenarnya bukan hanya arca Kunta Bima yang keadaannya memrihatinkan. Salah satu arca di dekat puncak tertinggi juga rawan rusak. Ini karena arca tersebut tidak memiliki stupa penutup. Menurut petugas, arca ini sengaja “dikorbankan” untuk kepentingan pemotretan oleh pengunjung.

Memang, dari segi fotografis, latar di belakang arca itu begitu memesona, yakni berupa panorama pegunungan hijau. Karena memiliki daya tarik, kepala arca ini pernah patah beberapa kali akibat digoyang-goyang pengunjung.

Menjaga bersama kelestarian Candi Borobudur, mungkin itu saja kunci utama untuk menggabungkan kepentingan pariwisata dan konservasi agar bisa berjalan sejajar dan saling melengkapi. (Djulianto Susantio)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: