Oleh: hurahura | 4 November 2011

Sensasi Arca Maha Nandi, Banyak Arkeolog Meragukan Keaslian Arca Ini

Arca Maha Nandi yang dikatakan bernilai 2 – 6 juta dollar. Sejumlah arkeolog meragukan keaslian arca ini.

Di sela-sela kegiatan Kongres Ikatan Ahli Arkeologi (IAAI) 2011 sekaligus Pertemuan Ilmiah Arkeologi (PIA) XII) di Hotel Sheraton Surabaya, 1-3 November 2011, seorang kolektor memamerkan sebuah koleksi arca logam yang dianggapnya luar biasa. Koleksi tersebut berujud seekor lembu, dia sebut Maha Nandi. Istilah Maha, katanya, mengacu kepada ke-raya-an ukiran Nandi dan lapisan emas di luarnya.

Konon, arca tersebut ditemukan secara tidak disengaja di wilayah Yogyakarta pada 1998. Semula arca tersebut milik seseorang, namun kemudian diselamatkan oleh Total Quality Indonesia. Konon pula, serangkaian uji coba dan penelitian eksperimental menyiratkan adanya relik suci di dalam arca tersebut. Dia memperkirakan–berdasarkan informasi dari sebuah balai lelang di London–artefak itu berharga 2 juta hingga 6 juta dollar.

Banyak media cetak dan media elektronik termakan oleh isu artefak yang fantastik dan spektakuler itu. Berita tentang arca yang katanya bernilai 60 milyar ini, muncul pula di media daring. Menko Kesra Agung Laksono sempat melihat dan berfoto bersama sang kolektor sehabis membuka acara Kongres IAAI dan PIA.


Meragukan

Mungkin sebagai legitimasi, panitia pameran (bukan dilaksanakan oleh arkeologi), membagikan lembaran informasi “The Maha Nandi Stories” dan sertifikat. Banyak pengunjung sempat berfoto di samping koleksi. Beberapa nama arkeolog disebut-sebut ‘mengagumi’ artefak tersebut, antara lain Junus Satrio Atmodjo yang waktu itu menjabat Direktur Peninggalan Purbakala. Dikatakan oleh sang kolektor Junus berpendapat, “Maha Nandi ini dapat dikategorikan sebagai masterpiece Indonesia karena kelangkaannya. Bahkan sebagai satu-satunya di dunia dengan ekor tegak dan kepala menengadah ke atas”. Gurubesar Arkeologi dari UGM Prof. Timbul Haryono, disebut-sebut menyatakan ada inskripsi di bawah arca dan di atas lapik. Ketika dikonfirmasi, Prof. Timbul tidak menyatakan demikian.

Beberapa arkeolog senior juga meragukan arca tersebut, apalagi dikatakan berasal dari abad ke-7. Sejumlah arkeolog dari Trowulan, merasa tidak sreg dengan ulah sang kolektor ketika mendaftarkan arca Nandi sebagai Benda Cagar Budaya. Maka BP3 Trowulan mendaftarkannya sebagai benda seni.

Yang paling bersuara keras adalah Prof. Hariani Santiko. Arkeolog yang mendalami ikonografi (ilmu tentang seni arca kuno) ini tidak yakin kalau arca tersebut adalah Nandi. Dilihat dari ciri-cirinya, kemungkinan besar Mahesa. Lembu Nandi dan Lembu Mahesa adalah dua arca yang berbeda, meskipun sama-sama berasal dari agama Hindu. Yang membuat Prof. Hariani kesal, dia diminta menandatangani surat yang menyatakan keaslian arca oleh sang kolektor. Karena kode etik arkeologi, dia tidak mau.

Mungkin ada maksud-maksud tertentu dari sang kolektor, utamanya melegitimasi bahwa artefak tersebut asli dan berharga mahal. Sejumlah arkeolog dipajang fotonya dan disebutkan namanya sebagaimana terpampang pada lembaran informasi tadi. Beberapa nama yang terpasang, ketika dihubungi merasa ucapannya diplintir. “Saya cuma sekali bertemu ketika dia menjemput rombongan di Surabaya,” kata Nunus Supardi. Untuk mengesankan koleksi masterpiece, dua petugas polisi pariwisata menjaga Maha Nandi.

Sungguh sebuah kebodohan yang amat sangat, menyatakan hal-hal yang fantastik dan spektakuler di hadapan lebih dari 300 pakar arkeologi demi kepentingan komersial semata. Apakah ini sensasi murahan demi popularitas?


Komentar-komentar beberapa arkeolog di Facebook:

Dari awal gue lihat itu arca juga diragukan asal-muasalnya. Gue bilang itu arca buatan dr luar. Di Jawa, arca Nandi khususnya dr logam, jarang dibuat secara tersendiri tanpa dewa. Sudah begitu arca Nandi dilapisi emas, ini gue rasa berlebihan. Arca Siwa Mahadewa saja tidak sampai begitu, hanya bibir saja yg dilapisi emas. Gue jadi inget kisah orang-orang Yahudi yang diselamatkan Musa dari kejaran Fir’aun, mereka menyembah “Sapi Emas”. Mungkinkah ini arca sesembahan penganut aliran (baru) Hindu – Yahudi?

Gue berasumsi demikian karena di Surabaya memang ada komunitas Yahudi, dan di sana memang ada sebuah Sinagog, yang pada waktu munculnya sentimen anti-Israel pernah akan diserang oleh kelompok Muslim.

Saya juga sdh ada sertifikat yg menyatakan bahwa saya sdh melihat dgn seksama arca nandi tsb dr pemiliknya….ha….ha….ha…ming nonton we dihargai nganggo sertifikat…kira-kira apa ya maksud di balik itu? Juga pengakuan benda tsb sbg BCB saya kira tdk cukup dr instansi level BP3 Jatim, hrs disahkan atau ditetapkan oleh tim ahli spt yg termaktub dlm UU NKRI, No. 11 tahun 2011 tentang Cagar Budaya, dan banyak arkeolog senior yg datang menyaksikan arca tsb masih ragu-ragu utk menyatakan sbg BCB, saya sih bukan ahli arca klasik…


ARTIKEL PENDUKUNG:

Temuan Arca Maha Nandi Bukti Kuat/Lemahnya Sistem Pelestarian Benda Cagar Budaya di Indonesia

Gunadi Kasnowihardjo

Sarjana arkeologi, S1 UGM, S2 UI, tinggal di Yogyakarta dan bekerja di Balai Penelitian Arkeologi Yogyakarta. Saat ini tengah memulai studi tentang arkeologi publik dan manajemen sumberdaya arkeologi di Indonesia.

sosbud.kompasiana.com, Rabu, 8 November 2011 – Bersama dengan diselenggarakannya Pertemuan Ilmiah Arkeologi dan Kongres Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia ke XII di Hotel Sheraton, Surabaya tanggal 1 – 3 Nopember 2011 yang baru lalu ada salah satu “sponsor” yang menggelar pameran tunggal yaitu memamerkan sebuah arca dari bahan logam yang menggambarkan seekor sapi jantan yang di ikonografi Hindu dikenal dengan nama Nandi yaitu binatang kendaraan Dewa Siwa. Patung Nandi yang berukuran relatif kecil kira-kira panjang 30 Cm dan tinggi 20 Cm oleh pemiliknya disebut Maha Nandi karena arca tersebut kaya akan ukiran dan adanya lapisan emas pada bagian luar.

Masih diseputar penjelasan dari pemilik bahwa didalam arca Nandi tersebut ditempatkan relic emas yang dapat diketahui melalui tes sinar X. Arca Maha Nandi yang sudah diakui oleh beberapa sarjana arkeologi Indonesia dan juga pejabat di instansi yang mengurusi benda cagar budaya sebagai salah satu “Master Piece” Indonesia ini konon menurut leaflet yang bertajuk The Maha Nandi Stories di lembaga lelang internasional dari London sudah ditaksir dengan harga 2 – 6 juta USD. Arca Nandi yang ditemukan di wilayah Yogyakarta (keterangan lisan: daerah Prambanan) pada tahun 1998 saat seseorang melakukan penggalian tidak sengaja. Setelah waktu berjalan kurang lebih 12 tahun peristiwa penemuan arca Maha Nandi baru terungkap setelah berhasil lolos ke meja lelang di Balai Lelang Internasional Hubert Grand Tufai CSP.

Di saat-saat coffe break para peserta seminar dan kongres dengan “penasaran” menyempatkan melihat pameran tunggal Maha Nandi yang didisplay bak pengantin sunat. Beberapa pengunjung yang diketahui sosok ilmuwan ataupun pejabat oleh pengelola pameran langsung dimohon untuk foto bersama, bagaikan sepasang pengantin yang duduk di pelaminan foto bersama tamu undangan yang terhormat sebagai makna doa restu dari seseorang yang berpengaruh. Sementara bagi pengunjung yang dari golongan bukan pejabat dan bukan orang-orang yang berpengaruh cukup diberi selembar kertas sertifikat.

Berbeda dengan sebagian besar pengunjung pameran Maha Nandi yang “terkagum-kagum” kepada sang Master Piece Indonesia, kekaguman saya merupakan satu pertanyaan mengapa peristiwa penemuan arca yang spektakuler di daerah Yogyakarta tahun 1998 itu lolos dari perhatian masyarakat Yogyakarta dan khususnya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Daerah Istimewa Yogyakarta di Bogem maupun Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah di Prambanan. Apabila benar arca Maha Nandi tersebut ditemukan di wilayah Prambanan, mengapa peristiwa penemuan saat itu tidak dilaporkan ke salah satu dari kedua instansi pelestarian peninggalan purbakala yang berdomisili di wilayah Prambanan?

Perlu diketahui bahwa wilayah Prambanan ada 2 (dua) Kecamatan Prambanan, yaitu Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Prop. Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah. Hal ini menurut saya suatu kejanggalan karena Undang-Undang No. 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya sudah diundangkan dan sudah cukup lama disosialisasikan kepada masyarakat luas. Lebih-lebih bagi masyarakat yang berdomisili di tempat-tempat yang berdekatan dengan situs-situs purbakala sudah semestinya akan mendapatkan pemahaman lebih dahulu tentang Undang-Undang Benda Cagar Budaya tersebut.

Beberapa kejanggalan lain berdasarkan nurani seorang peneliti yaitu:

1. Secara ikonografis, sikap nandi dengan kepala menengadah dan ekor menjulur ke belakang – atas merupakan penggambaran yang tidak lazim dalam pengarcaan figur agama Hindu pada periode Prambanan (Abad IX – X M). Untuk hal ini para ahli ikonografi tertantang untuk melakukan kajian-kajian yang terkait dengan pengarcaan Nandi dalam konsep agama Hindu.

2. Secara Metalografis, dengan mata telanjang saya mengamati warna Maha Nandi cenderung kecoklatan sehingga yang tertangkap dalam batin saya adalah komposisi logam pada arca yang dikatakan oleh pemiliknya merupakan arca perunggu yang dibalut emas. Pada bagian yang tidak tertutup emas tampak bahwa warna perunggu yang kecoklatan tersebut tidak lazim umumnya arca perunggu yang dibuat pada masa Abad IX – X M. Komposisi logam perunggu untuk arca – arca masa Hindu – Budha memiliki formula yang sudah dibakukan, maka dari itu saya mengusulkan tidak ada salahnya apabila ahli metalurgi kuno seperti Prof. Dr. Timbul Haryono, MSc. melakukan studi metalografis atas arca Maha Nandi tersebut.

3. Dari sisi etika, mengapa Master Piece “dadakan” Indonesia ini secara tiba-tiba muncul di arena Kongres IAAI ke XII di Surabaya beberapa hari yang lalu? Keberhasilan para pejabat dan ahli arkeologi “menyelamatkan” Maha Nandi dan menampilkannya di arena Kongres IAAI merupakan bukti kuatnya sistem pelestarian benda cagar budaya yang dimotori oleh Direktorat Purbakala kita, atau sebaliknya, munculnya Maha Nandi yang juga menjadi salah satu sponsor dalam Kongres dan Pertemuan Ilmiah Arkeologi Ke XII justru menginspirasi kepada kita akan lemahnya sistem pelestarian cagar budaya di Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: