Oleh: hurahura | 18 Oktober 2011

Berita Buku: Buku-buku Prasejarah Karya Ketut Wiradnyana

Arkeolog menghasilkan publikasi atau karya ilmiah termasuk ‘barang langka’. Ketut Wiradnyana, arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, mencoba menginformasikan seluk-beluk prasejarah di kawasan utara Sumatera lewat kedua bukunya. Selamat menikmati.


Judul: Prasejarah Sumatera Bagian Utara, Kontribusinya Pada Kebudayaan Kini
Penulis: Ketut Wiradnyana
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan: I, 2011
Tebal: xvii + 318
ISBN: 978-979-461-793-9

Prasejarah merupakan babakan masa yang sangat panjang, sekaligus mengawali manusia dan kebudayaan. Hampir setiap kebudayaan di dunia ini diawali dengan babakan masa itu, sehingga babakan masa prasejarah sangat penting dalam konstribusinya bagi kebudayaan di masa-masa selanjutnya. Pulau Sumatera bagian utara, terlebih lagi pesisir timurnya merupakan satu kawasan yang sangat penting dalam perkembangan budaya prasejarah. Sebaran situs bukit kerang/bukit remis/kitchen midden/kjokken moddingger yang menjadi salah satu bukti keberadaan budaya hoabinh merupakan salah satu icon arkeologi yang nyata memberikan kontribusi ragam budaya masa lalu di Indonesia. Icon budaya tersebut dengan budaya-budaya lainnya melalui migrasi dan budaya yang menyertainya juga telah berproses di Pulau Sumatera bagian utara. Proses dimaksud jelas memberikan kontribusi yang nyata bagi kebudayaan selanjutnya hingga ke masa kini.

Namun hampir satu abad telah berlalu dunia arkeologi mengalami stagnasi informasi berkaitan dengan keberadaan situs bukit kerang/bukit remis/kitchen midden/kjokken moddingger yang ada di pesisir timur Pulau Sumatera. Situs semacam ini sebarannya ditemukan dari wilayah Vietnam bagian Utara hingga ke kepulauan yang ada di Asia Tenggara. Model situs seperti itu juga ditemukan di wilayah Selandia Baru, Denmark dan Swedia. Melihat sebarannya yang sangat luas tersebut maka situs-situs bukit kerang mendapatkan perhatian yang luas pada para arkeologi di seluruh dunia. Situs ini dianggap mampu menyumbangkan informasi yang universal bagi proses kehidupan masa lalu hampir di sebagian wilayah Dunia.

Dalam buku ini diungkapkan hasil penelitian prasejarah di wilayah Pulau Sumatera bagian utara yang telah dihimpun hingga kini dari budaya Paleolitik yang merupakan budaya pra hoabinh. Uraian ini termuat dalam bagian pertama buku ini. Penggambaran perjalanan sejarah budaya pada masa prasejarah dilanjutkan dengan kajian budaya hoabinh yang sering dikaitkan dengan budaya yang berasal dari Vietnam ini mendominasi kajian arkeologis dalam bagian kedua buku ini. Tentu kajian antropologis juga dilakukan untuk memperkaya informasi yang dihasilkan dari penelitian arkeologis yang ditemukan pada penelitian di situs Pangkalan, Aceh Tamiang. Informasi kearkeologian juga dihasilkan dari perbandingan dengan situs atau masa yang sejenis, baik itu menyangkut akar budaya masyarakat pesisir, mata pencaharian hidup, religi, struktur sosial, teknologi dan aspek lainnya. Pada bagian ketiga yaitu budaya pasca hoabinh, menguraikan berbagai aspek pada masa-masa Neolitik dan juga Megalitik yang telah dan sedang diteliti di Pulau Sumatera bagian utara juga disajikan dalam upaya memperkaya informasi masa prasejarah. Sedangkan dalam bagian keempat diuraikan beberapa hal berkaitan dengan pengaruh budaya prasejarah terhadap budaya etnis. Budaya prasejarah tersebut memberikan gambaran akan akar budaya yang telah berkembang dan sebagian diantaranya mewarnai budaya kekinian. Kesadaran akan proses budaya yang telah berlangsung di masing-masing daerah tampaknya sangat perlu ditampilkan untuk mewujudkan kesadaran akan adanya pluralisme dan multikulturalisme dalam konteks berbangsa dan sekaligus gambaran akan bentuk globalisasi kebudayaan pada masa prasejarah. Selain berbagai pemanfaatan yang kiranya dapat digunakan dari informasi yang terhimpun termuat dalam bagian kelima dari buku ini.

Boleh dikatakan bahwa, belum ada buku yang membicarakan secara khusus aspek budaya masa prasejarah di wilayah Pulau Sumatera Bagian Utara, maka diasumsikan bahwa inilah ulasan yang cukup lengkap bagi khalayak untuk mengetahui masa prasejarah khususnya budaya Hoabinh mejelang stagnasi informasi arkeologi yang hampir satu abad itu. Perlu juga disampaikan bahwa beberapa bagian dari buku ini telah diterbitkan pada jurnal-jurnal arkeologi nasional dan internasional, dan juga jurnal ilmu bantu lainnya serta penerbitan dalam bentuk lainnya dan kemudian disusun kembali untuk dapat memberikan informasi yang utuh bagi kajian prasejarah wilayah Pulau Sumatera bagian utara.

Pemaparan arkeologis dan antropologis dalam buku ini jelas meningkatkan wawasan akan proses budaya. Informasi yang dikemukakan penelitian ini juga dapat digunakan dalam kepentingan lain yang lebih luas. Dari aspek politik strategis pemerintah, uraian ini dapat dimanfaatkan sebagai bagian pembuktian menyangkut jatidiri bangsa. Atau setidaknya sebagai pengungkapan jatidiri suku-suku bangsa yang bermukim di Pulau Sumatera bagian utara. Selain jatidiri juga terdapat kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan, terutama menyangkut muatan lokal. Bahkan sangat penting digunakan sebagai informasi bagi pengembangan objek wisata. Dalam konteks global yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, informasi dalam buku ini dapat digunakan sebagai petunjuk eksistensial dalam pergaulan antar bangsa.


Judul: Legitimasi Kekuasaan Pada Budaya Nias, Paduan Penelitian Arkeologi dan Antropologi
Penulis: Ketut Wiradnyana
Penerbit: Yayasan Pusaka Obor
Tebal: xi + 239 halaman
ISBN: 978-979-461-763-2

Nias merupakan salah satu pulau yang kaya dengan tinggalan megalitik, dan tinggalan dimaksud masih tetap berdiri tegar pada perkampungan-perkampungan tradisional hingga kini. Hampir seluruh aspek kebudayaan Nias yang kita lihat sekarang ini terasa unsur budaya megalitiknya. Aspek kosmologis, religi, kesenian, struktur sosial dan lainnya merupakan refleksi dari kebudayaan megalitik. Di Nias Selatan, beberapa prosesi upacara yang berkaitan dengan pendirian bangunan megalitik (upacara owasa/faulu) masih dilaksanakan hingga kini hanya saja dengan berbagai penyesuaian. Penyesuaian dilakukan mengingat upacara itu memerlukan kurban babi yang banyak, sehingga biaya yang ditanggung seorang calon bangsawan sangat mahal. Adapun penyesuaian pada upacara owasa/faulu (upacara besar untuk meningkatkan status sosial) diantaranya dilaksanakan secara komunal, dengan demikian babi yang diperlukan dalam upacara tersebut dapat menjadi beban bersama. Penyesuaian itu juga dimungkinkan karena adanya perubahan religi.

Berbagai hal yang dapat dipetik dari pelaksanaan upacara owasa/faulu dimaksud diantaranya memiliki status yang tinggi di masyarakat, karena status yang didapatkan dari upacara itu memiliki pengaruh lebih kuat dibandingkan dengan status yang didapatkan dengan cara yang lain seperti pendidikan misalnya, sehingga tidak jarang peran bangsawan lebih besar dibandingkan dengan peran kepala desa yang bukan dari kelompok bangsawan. Menjadi bangsawan adalah upaya pencapaian yang lebih tinggi dalam kosmologis lama selain upaya mendekatkan diri dengan leluhur baik dalam konteks religi maupun dalam konteks kekerabatan. Hal tersebut diperlukan mengingat senioritas memiliki kekuasaan yang lebih dibandingkan dengan yuniornya, sehingga orang yang tinggi tingkatannya dalam kosmologis lama (tingkatan owasa/faulu berkaitan dengan tingkatan kosmologis) atau dekat dalam struktur kekerabatan dengan leluhur, memiliki kekuasaan yang lebih dibandingkan dengan yang lainnya.

Ketika migrasi terakhir datang ke Boronadu, Gomo, di bagian selatan Pulau Nias (sesuai dengan folklor lisan asal usul masyarakat Nias) telah ada sekelompok orang yang tinggal di bagian utara Nias, yaitu di Gua Togi Ndrawa dan juga di Gua Togi Bogi. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil serangkaian penelitian arkeologis yang disertai dengan serangkaian analisa radiokarbon (C14). Mengingat budaya yang dibawa kelompok migrasi terakhir ini diantaranya sangat menjunjung akan konsep senioritas maka disusunlah folklor asal usul masyarakat Nias dengan menyampaikan bahwa leluhur merekalah yang pertamakali turun dari langit, sebelum leluhur kelompok lainnya ada di Pulau Nias. Dengan demikian legitimasi atas wilayah dan juga berbagai aspek sosial lainnya menjadi syah. Konsep tersebut dimungkinkan untuk diterima karena budaya yang dibawa kelompok migran terakhir lebih maju, baik ddari aspek teknologi, religi dan cara hidup yang kemudian di legalisasi dalam aspek budaya materi, kosmologis, konsep struktur sosial dan upacara dan selalu menjadi bagian prosesi keseluruhan aspek dimaksud.

Iklan

Responses

  1. Salut kepada Bang Ketut W, semoga menjadi pemicu dan pemacu bagi para peneliti di lingkungan Balai Arkeologi Medan khususnya dan para peneliti arkeologi umumnya dimanapun berada dan bekerja. Kami menunggu terbitan berikutnya.

    • kan belajarnya dari mas gun hehehe….

  2. bukunya dijual bebas pak

    • Ya, penerbitnya obor. Bisa dilihat di obor.or.id

  3. SIAPA YANG MAU MENULIS SEJARAH NUSANTARA ,MAKA MULAKAN MENULIS NYA DARI NAMANYA ,1. PULAU PACO/PERCA.PUNCAK GUNUNG TIMBUL DARI PERMUKAAN LAUT SEWAKTU BANJIR BESAR DI ZAMAN NABI NUH ALAIHISSALAM ,KECIL KECIL BAGAIKAN KAIN PERCA YANG DI GUNTING.SETERUSNYA. 2. PULAU EMAS KHUSUS UNTUK PULAU SUMATRA YANG BANYAK MENGHASILKAN EMAS ,SEBAB NYA PENDUDUK ASAL WILAYAH NUSANTARA INI BERASAL DARI PULAU SUMATRA,SETERUSNYA, 3. PULAU ANDALAS ,YANG TERAKHIR BARU NAMANYA, 4 .PULAU SUMATRA……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: