Oleh: hurahura | 1 Juni 2012

Ekspedisi Cincin Api: BARUS

KOMPAS, Sabtu, 26 Mei 2012 – Barus adalah kota kecil di pesisir pantai barat Sumatera Utara, persis di sebelah utara Singkil. Kota ini kini hanyalah kecamatan kecil yang sepi. Namun, sejarah Barus sebenarnya sangat tua, setua kapal-kapal asing beribu tahun sebelum Masehi yang singgah mencari kapur barus dan emas di kota perdagangan itu.

Barus atau biasa disebut Fansur barangkali satu-satunya kota di Nusantara yang namanya disebut sejak awal abad Masehi oleh literatur-literatur dalam bahasa Yunani, Suriah, Armenia, Arab, India, Tamil, China, Melayu, dan Jawa. Berita tentang kejayaan Barus sebagai bandar niaga internasional juga disebut dalam buku Geographia yang ditulis Claudius Ptolemaeus, gubernur dari Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir, pada abad ke-2. Ptolemaeus menulis, di pesisir barat Sumatera terdapat bandar niaga bernama Barousai yang menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Penggalian arkeologi yang dilakukan Daniel Perret dan kawan-kawannya dari Lembaga Kajian Perancis untuk Asia (Ecole Française d’Extrême-Orient/EFEO) Perancis bekerja sama dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) di Lobu Tua, Barus, membuktikan bahwa pada abad IX-XII terdapat perkampungan multietnis. Beberapa etnis itu antara lain Tamil, China, Arab, Aceh, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, dan Bengkulu. Perkampungan tersebut dikabarkan sangat makmur mengingat banyaknya barang-barang berkualitas tinggi yang ditemukan.

Pada tahun 1872, pejabat Belanda, GJJ Deutz, menemukan batu bersurat tulisan Tamil. Tahun 1931, Prof Dr KA Nilakanta Sastri dari Universitas Madras, India, menerjemahkannya. Menurutnya, batu bertulis itu bertahun Saka 1010 atau 1088 Masehi pada zaman pemerintahan Raja Cola yang menguasai wilayah Tamil, India Selatan. Tulisan itu menyebutkan perkumpulan dagang suku Tamil sebanyak 1.500 orang di Lobu Tua yang memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan, dan ketentuan lainnya.

Namun, Lobu Tua ditinggalkan secara mendadak sekitar abad ke-12 hingga abad ke-14. Dalam buku Lobu Tua, Sejarah Awal Barus (2002), Claude Guillot menyebut hilangnya peradaban itu karena penghancuran kawasan tersebut oleh sekelompok orang yang tidak dikenal yang disebut ”gergasi”.

Dongeng yang berkembang di masyarakat Barus, gergasi itu adalah raksasa yang datang dari laut dengan sosok menyeramkan. Adakah raksasa dari laut itu adalah simbolisasi gelombang laut dahsyat yang menghancurkan kawasan ini?

Arkeolog dari Puslit Arkenas, Sony Wibisono, yang turut dalam penggalian di Lobu Tua tahun 1995-1998 mengatakan, hampir semua peninggalan purbakala yang ditemukan terkubur lapisan pasir laut sedalam 1 meter. Sony juga menemukan runtuhan batu bata yang diperkirakan bekas bangunan. Lokasi penemuan berjarak 2 kilometer dari pantai.

”Bisa saja Lobu Tua dulu pernah terkena tsunami besar. Tetapi, saat itu kami belum berpikir soal tsunami,” kata dia. Pada waktu itu, tsunami memang belum populer dalam khazanah penelitian di Indonesia. ”Saat ini mestinya ada penelitian lagi yang mengintegrasikan arkeologi dan geologi.”

Ketika para arkeolog masih bertanya-tanya tentang bagaimana Barus yang pernah jaya itu ditinggalkan, pada tahun 2008, sekelompok ilmuwan melacak jejak tsunami raksasa yang pernah terjadi di pantai barat Sumatera dalam 1.000 tahun terakhir.

Widjo Kongko, ahli tsunami dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai (BPDP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Katrin Monecke dari Kent State University serta lima peneliti lainnya mengebor 100 lokasi di rawa-rawa Suok Timah, Meulaboh, Aceh Barat. Pengeboran dilakukan 2 kilometer dari pantai pada tahun 2007-2008. Hasilnya, mereka menemukan lapisan tanah yang diduga terbentuk akibat tsunami raksasa pada masa lalu. Dengan menggunakan teknik penanggalan radiokarbon, tsunami itu diperkirakan terjadi dua kali, yaitu antara tahun 780-990 dan 1290-1400.

”Data yang kami temukan ini terkonfirmasi dengan penggalian serupa yang dilakukan di Pulau Phra Thong, Thailand. Di sana, tim peneliti yang lain menemukan deposit tsunami dengan usia sekitar tahun 1300-1450,” kata Widjo. Hasil penelitian di Meulaboh dan Thailand ini diterbitkan bersamaan di jurnal Nature edisi 30 Oktober 2008. ”Temuan di Thailand menunjukkan, tsunami yang terjadi sekitar 600 tahun lalu itu berskala global.”

Temuan geologis tentang tsunami besar yang terjadi pada kurun 1290-1400 ini menarik dikaitkan dengan periode hilangnya peradaban tua di Lobu Tua, Barus. ”Bisa jadi memang peradaban kita pada masa lalu muncul dan hilang karena dipengaruhi oleh peristiwa alam gempa dan tsunami,” kata Widjo. ”Dalam 1.000 tahun di pantai barat Sumatera, paling tidak telah terjadi tiga tsunami raksasa sebesar tsunami 2004.”

Menyatukan kepingan sejarah yang samar dengan jejak geologi yang terpendam di lapisan tanah memang tak gampang. Namun, berimpitnya waktu terjadinya tsunami raksasa yang ditemukan Widjo Kongko dengan peristiwa serangan gergasi yang memunahkan Lobu Tua di Barus agaknya bukan suatu kebetulan.

Di laut selatan Jawa, sosok gergasi itu mewujud dalam putri rupawan, Ratu Kidul. Setidaknya itulah yang dipikirkan Bambang Purwanto, Guru Besar Sejarah Universitas Gadjah Mada.

Saat gempa bumi berkekuatan 6,3 skala Richter mengguncang Bantul, Yogyakarta, pada 27 Mei 2006, Bambang tiba-tiba teringat dongeng yang kerap dikisahkan orangtuanya waktu kecil. ”Suara gemuruh itu langsung mengingatkan saya tentang cerita pasukan berkuda Ratu Kidul,” kata Bambang, yang tinggal di Bantul. ”Dalam bayangan saya, gempa itu identik dengan datangnya bahaya dari selatan Yogya, yang disimbolkan dalam sosok Ratu Kidul.”

Menurut Bambang, kita harus menginterpretasi kembali posisi Ratu Kidul, bukan hanya dalam khazanah kepercayaan. ”Jangan-jangan cerita tentang Ratu Kidul, yang kemudian memicu ketakutan masyarakat terhadap pantai selatan merupakan cara masyarakat dulu memahami realitas,” kata Bambang. ”Di baliknya ada pengalaman empiris tentang kedahsyatan laut selatan Jawa.”

Jejak empiris tsunami raksasa di selatan Jawa itu, menurut Eko Yulianto, memang nyata. Eko adalah ahli paleotsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang pakar menemukan jejak tsunami masa lalu dengan meneliti endapan yang terpendam di dalam tanah.

Di tebing Sungai Cikembulan, Pangandaran, Jawa Barat, dia menemukan empat lapisan pasir yang memberi jejak bahwa area itu pernah beberapa kali dilanda tsunami. Salah satu lapisan berupa pasir setebal 20 sentimeter yang terendap di atas lumpur. Dalam lapisan itu terdapat cangkang foraminifera yang biasanya hidup di lautan.

Penanggalan umur terhadap dua sampel yang diambil dari dua tempat berbeda menunjukkan lapisan pasir tsunami itu mengendap 400 tahun lalu. ”Endapan umur 400 tahun itu jauh lebih tebal dibandingkan tsunami Pangandaran tahun 2006,” kata Eko.


Ada apa dengan selatan Jawa sekitar 400 tahun lalu?

Eko lalu memperlihatkan lukisan Ratu Kidul atau juga dikenal sebagai Nyi Roro Kidul di laptopnya. Di sana digambarkan seorang ratu yang mengendalikan kereta kuda dalam balutan ombak besar bergulung-gulung. ”Jangan-jangan legenda tentang Nyi Roro Kidul itu sebenarnya pesan bahwa pernah terjadi tsunami di selatan Jawa?” katanya.

Eko semakin penasaran saat membuka-buka Babad Tanah Jawa, yang menggambarkan Roro Kidul sering mengirimkan ombak besar jauh ke daratan. Legenda juga menyebutkan, Roro Kidul sering meminta korban dengan mengirim ombak besar, sebagian korbannya dikirim kembali ke darat sebagai pesan dari Nyi Roro Kidul. ”Persis kejadian tsunami,” kata Eko.

Mungkinkah kejadian tsunami ini terkait dengan asal mula legenda Nyi Roro Kidul? Sebagaimana puzzle hilangnya Barus abad ke-12, mencari kaitan ini tidaklah gampang.

Bagi sejarawan seperti Bambang, masyarakat Jawa pada masa lalu sebenarnya telah menitipkan pesan untuk peka melihat alam. ”Fenomena alam selalu dipakai orang Jawa untuk menandai perubahan zaman, seperti goro-goro dalam pertunjukan wayang; gunung jugrug, segoro asat (gunung meletus, lautan kering),” kata Bambang.

Deskripsi tentang laut kering, yang kerap ditemui sebelum terjadinya tsunami, menurut Bambang, sepertinya tidak mungkin hanya dari abstraksi. Kemungkinan besar pernah ada yang mengalaminya dalam dunia nyata. ”Tantangan kita bersama untuk menafsir ulang pesan-pesan yang tersimpan dalam legenda atau dongeng-dongeng lama,” kata Bambang.

Menurut Eko, pengetahuan tradisional yang dibungkus dalam dongeng dan mitos sama berharganya dengan jejak endapan tsunami di dalam tanah. Dengan mengetahui riwayat tsunami masa lalu, katanya, akan membantu masyarakat sekitar untuk bereaksi secara tepat ketika menghadapi bencana serupa pada masa datang.

Eko berandai-andai, jika saja hasil penelitian tsunami di Meulaboh dan Thailand yang menunjukkan bahwa tsunami raksasa pernah terjadi di Aceh beberapa ratus tahun lalu itu terungkap sebelum tahun 2004, jumlah korban barangkali bisa dikurangi.

Tetapi, benarkah kini kita menjadi lebih bersiaga terhadap ancaman berikutnya?

Iklan

Responses

  1. Sejarah yg sebentar lagi akan dilupakan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori