Oleh: hurahura | 27 Desember 2011

Jejak Aksara Nusantara

Kompas/Wisnu Widiantoro

Pengunjung memotret koleksi pada Pameran Lambang dan Aksara Nusantara di Museum Nasional, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Pameran tersebut bertujuan memperkenalkan kekayaan Nusantara dalam hal penggunaan lambang dan aksara.

KOMPAS, Sabtu, 24 Desember 2011 – Pertengahan Oktober, misi kebudayaan China menggelar Pameran Seni Ukir Stempel dan Kaligrafi China di Museum Nasional Jakarta. Saat yang sama, pihak museum juga memamerkan Lambang dan Aksara Nusantara yang keberadaannya nyaris dilupakan orang.

Berbeda dengan China, Jepang, Korea, atau beberapa negara di wilayah Asia lain, aksara Nusantara tergerus oleh aksara Latin yang dibawa penjelajah dunia dari Barat. Padahal, sebelum aksara Latin dibakukan di Indonesia, beragam aksara di Nusantara berkembang dan bertahan selama berabad-abad.

”Aksara Nusantara kini hanya dipelajari oleh ahli epigrafi, yaitu ilmu mengenai tulisan pada batu, logam, dan bahan-bahan keras lain. Selebihnya, aksara Nusantara menjadi bagian dari kurikulum muatan lokal di sekolah atau menjadi penanda jalan di suatu daerah,” kata Intan Mardiana, Direktur Permuseuman pada Direktorat Sejarah dan Purbakala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, beberapa waktu lalu.

Museum Nasional memamerkan beragam jenis aksara yang pernah berkembang di Indonesia. Aksara-aksara itu dituliskan dalam berbagai medium, seperti batu (prasasti), lempengan logam, koin, baju, perisai, piring, dan mangkok.

Agus Arismunandar dari Departemen Arkeologi Universitas Indonesia mengatakan, aksara adalah temuan manusia paling mutakhir dalam hal penciptaan simbol dari bunyi-bunyian yang diucapkan manusia (bahasa). Dengan aksara, segala pengetahuan manusia dapat didokumentasikan, diakumulasikan, dan dimanfaatkan untuk mengembangkan kebudayaan.

Penelitian para ahli antropologi fisik mengungkap, manusia purba di Indonesia, seperti Pithecanthropus sudah memiliki kemampuan bertutur. Namun, sejak kapan manusia di bumi Nusantara mulai mengenal aksara dan bagaimana proses perkembangannya?

Menurut arkeolog ahli epigrafi, Hasan Djafar, perkembangan aksara di dunia berbeda-beda. Di Mesir, aksara berkembang sejak 2.000 tahun silam, demikian juga China.

Di Indonesia, aksara baru dikenal abad ke-5 Masehi. Masuknya aksara ke wilayah Nusantara merupakan bagian dari proses perubahan sosial budaya di kawasan Asia Tenggara pada awal tarikh Masehi.

Awal Masehi, kawasan Asia Tenggara mulai menjalin hubungan pelayaran dan perdagangan dengan India dan China. Beberapa daerah di sepanjang jalur ini terlibat kontak budaya dengan pedagang dan pelaut, terutama dari India.

”Kontak kebudayaan ini menyebabkan penyerapan unsur-unsur kebudayaan India dalam kebudayaan Nusantara, termasuk pemakaian bahasa Sanskerta dan aksara Palawa,” kata Hasan. Unsur kebudayaan ”asing” ini kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Jejak aksara dari India ini bisa ditelusuri dari temuan yupa atau prasasti berbentuk tiang batu dari masa Kerajaan Mulawarman di Kalimantan dan Kerajaan Tarumanegara di Karawang, Jawa Barat. Prasasti kedua kerajaan itu diperkirakan dari masa abad ke-5 Masehi.

Menurut Hasan, sebenarnya masyarakat di kedua kerajaan itu sudah memiliki bahasa sendiri, tetapi mereka belum memiliki aksara. Oleh karena itu, untuk membuat prasasti, mereka ”meminjam” bahasa Sanskerta dan aksara Palawa yang pada masa itu sudah dikenal melalui kitab agama Hindu-Buddha.

Melalui aksara Palawa yang tertera dalam prasasti, para ahli epigrafi bisa menyimpulkan bahwa kisah sejarah dari yupa Kerajaan Mulawarman berbeda dengan yupa dari Kerajaan Tarumanegara.

Yupa Kerajaan Mulawarman lebih banyak berkisah tentang hal-hal menyangkut keagamaan, seperti penyerahan 1.000 sapi sebagai korban kepada para brahmana. Adapun yupa Tarumanegara lebih banyak berisi penetapan suatu daerah atau pembangunan fisik yang dilakukan kerajaan. Kedua aksara di kerajaan ini termasuk dalam kelompok aksara Palawa Awal.

Perkembangan aksara Palawa di Kalimantan terhenti setelah tidak ada lagi kerajaan besar pasca-Mulawarman. Sedangkan aksara Palawa dari masa Kerajaan Tarumanegara terus dikembangkan.

Pada abad ke-6 hingga ke-8 Masehi muncul varian baru yang dikembangkan dari aksara Palawa Awal. Varian baru itu dikategorikan sebagai aksara Palawa Akhir.

Adaptasi dan inovasi menjadi aksara baru dilakukan di Kerajaan Tarumanegara, kemudian menyebar ke arah timur, memasuki wilayah Jawa Tengah.

Pemakaian aksara Palawa Akhir ini bisa ditelusuri dari prasasti Tukmas berangka tahun 578 Masehi dan prasasti Canggal 732 Masehi. Keduanya ditemukan di Magelang, Jawa Tengah. Pemakaian aksara itu menyebar sampai ke Palembang, Jambi, dan Lampung.

Proses adaptasi selanjutnya menghasilkan aksara Jawa Kuna yang mampu bertahan sejak pertengahan abad ke-7 hingga masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-15. Pada rentang periode itu muncul aksara lain yang datang dari India, yaitu aksara Nagari. Bentuk aksara Nagari berbeda dengan Palawa, yaitu menggantung, sedangkan aksara Palawa berbentuk bulat.

Salah satu jejak aksara ini bisa ditemukan di Candi Kalasan, Jawa Tengah. Sedangkan aksara Jawa Kuna berkembang sampai ke Jawa Barat. Sebelumnya, di daerah itu masyarakat memiliki bahasa Sunda Buhun dengan aksara Kaganga. (Lusiana Indriasari)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: