Oleh: hurahura | 12 November 2013

Preah Vihear Milik Kamboja: Thailand Harus Tarik Seluruh Kekuatannya dari Sekitar Candi

Kamboja-1Biksu Kamboja berjalan di sekitar candi Preah Vihear yang terletak di perbatasan Kamboja-Thailand, di Provinsi Preah Vihear yang terletak 400 kilometer sebelah utara ibu kota Kamboja, Phnom Penh, hari Minggu lalu. Mahkamah Internasional, Senin (11/11), di Den Haag, Belanda, memutuskan candi yang berusia lebih dari 900 tahun tersebut milik Kamboja.

Kompas, Selasa, 12 November 2013 – DEN HAAG, SENIN — Para hakim Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, Senin (11/11), memutuskan, candi Preah Vihear yang menjadi titik sengketa lama dan mematikan antara Kamboja dan Thailand adalah milik Kamboja. Namun, situasi di perbatasan telanjur tegang menjelang penetapan itu.

Sejak Senin pagi, Thailand menutup 40 sekolah dasar di wilayah perbatasan di sekitar candi berusia lebih dari 900 tahun itu. Adapun warga Kamboja di sekitar wilayah sengketa teritorial, seluas 4,6 kilometer persegi, itu meninggalkan rumah dan membuat bungker persembunyian.

Langkah itu sebagai antisipasi atas kemungkinan terburuk dari hasil putusan Mahkamah Internasional (ICJ). Warga takut akan bentrokan mematikan, yang bisa saja terjadi antara tentara Kamboja dan Thailand, seperti pernah terjadi pada 22 April 2011 hingga menyebabkan 28 orang tewas.

”Kami harus mengambil langkah proaktif. Saya akan meninggalkan rumah selama beberapa hari, takut kalau-kalau ada bentrokan dengan tentara Thailand,” kata Va Vy (29), seorang warga.

Komandan Militer Perbatasan Kamboja Jenderal Srey Deuk telah mengadakan pertemuan darurat beberapa saat sebelum ICJ bersidang. Rapat darurat terjadi setelah satu helikopter dan pesawat kecil Thailand terbang rendah di sekitar candi, Sabtu lalu.

Militer Kamboja membantah laporan media lokal bahwa mereka telah mengirim tentara tambahan ke dekat candi. Srey berharap tidak terjadi masalah dengan militer Thailand. ”Situasi di perbatasan normal,” kata Srey.
Sengketa lama

Candi Preah Vihear telah menjadi titik sengketa teritorial yang sudah berlangsung lama antara Kamboja dan Thailand, yakni sejak 1962. Keduanya saling mengklaim setelah ICJ pada 1962 memutuskan candi abad ke-11 itu milik Kamboja.

Keputusan ICJ tidak mencakup siapa yang berhak atas area sekitar candi. Adapun gerbang utama candi terletak di wilayah Thailand sehingga keputusan itu ditolak Bangkok. Terlebih lagi setelah kuil ditetapkan sebagai bagian Situs Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada 2008, yang diikuti penempatan pasukan oleh masing-masing negara.

Insiden pada 2011 terjadi setelah pihak Kamboja berusaha mengklarifikasi putusan ICJ mengenai status tanah di sekitar kuil. Selain menyebabkan 28 orang tewas, ribuan warga kehilangan tempat tinggal karena terjadinya pertikaian bersenjata pasukan antar-kedua negara.

Keputusan ICJ, Senin petang, mengukuhkan keputusan serupa tahun 1962. ”Kamboja memiliki kedaulatan atas seluruh wilayah candi Preah Vihear,” kata hakim ICJ, Peter Tomka. ”Thailand berada di bawah kewajiban untuk menarik diri seluruh pasukannya, baik militer maupun polisi atau pasukan penjaga lainnya dari wilayah itu,” kata Tomka.
Garis keras

Penetapan sidang yang diikuti 17 hakim ICJ itu bisa menjadi skandal baru perpolitikan Thailand. Massa oposisi kemungkinan akan mengarahkan kemarahan masyarakat terhadap Perdana Menteri Yingluck Shinawatra.

Kubu nasionalis garis keras bersiap merapatkan barisan menentang Yingluck, adik kandung Thaksin Shinawatra yang bersekutu dengan Hun Sen. Thaksin melarikan diri ke Kamboja pada November 2011 untuk menghindari proses hukum di negaranya. Hun Sen juga mengizinkan aksi mendukung ”Kaus Merah”-nya Thaksin.

Di halaman Facebook-nya, Yingluck berjanji untuk ”berkonsultasi” dengan Phnom Penh setelah sidang ICJ guna menghindari konflik di perbatasan. Bangkok akan membuat pernyataan politik setelah vonis ICJ.

Pemimpin kedua negara telah menginstruksikan pasukan penjaga perbatasan untuk tenang. Pasukan agar menghindari bentrokan fisik, apalagi bentrokan bersenjata yang bisa menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Hun Sen juga sudah memerintahkan pasukannya di perbatasan untuk tenang. ”Saya ingin menyerukan kepada seluruh pasukan yang bertugas membela perbatasan agar tenang, mena-
han diri, dan menghindari kegiatan yang bisa menyebabkan ketegangan atau bentrokan,” katanya dalam siaran sebuah televisi.

Hun Sen mengatakan, dia dan Yingluck telah sepakat kedua negara ”harus mematuhi keputusan ini dan mempertahankan perdamaian dan stabilitas di perbatasan”. (AFP/BBC/CAL)

Iklan

Responses

  1. Reblogged this on mangga sumping di kota hujan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: