Oleh: hurahura | 20 September 2010

Candi Ngawen: Yang Unik, Yang Terpinggirkan

satu-satunya bangunan candi induk yang bisa direstorasi

Kompasiana, 20 Sep 2010 – Udara yang semilir dan terasa sejuk karena masih bersih dan belum tercemar oleh polusi menerpa wajahku. Hamparan pemandangan sawah berada di sisi kanan dan kiri jalan. Padi yang mulai menguning melambai-lambai dipermainkan angin. Jalanan yang aspalnya sudah mulai mengelupas di sana-sini, menjadikan tubuhku terguncang-guncang seperti naik kuda saja rasanya. Meski demikian, tidak menyurutkanku untuk terus melanjutkan perjalanan.

Candi Ngawen adalah tujuan perjalananku. Candi Ngawen yang aku maksud ini terletak di desa Ngawen, Kecamatan Muntilan. Persisnya berada 2 km sebelah selatan Kompleks Makam Kyai Raden Santri, Gunung Pring, dan sekitar 5 km sebelah timur Candi Mendut. Dibandingkan candi Borobudur atau candi Mendut, pamor candi Ngawen sangatlah jauh. Candi Ngawen hanyalah sebuah candi kecil dan kurang terkenal. Menurut perkiraan, candi ini dibangun semasa dengan Candi Borobudur yakni pada masa Wangsa Syailendra.

Dan benar saja. Ketika aku telah sampai di kompleks candi itu, lenyaplah segala caci maki karena jeleknya fasilitas jalan. Di hadapanku terhampar sebuah pemandangan eksotik. Inilah kompleks candi Ngawen yang terletak di tengah areal persawahan. Kompleks candi ini terletak agak ke bawah dibandingkan sawah dan jalan yang mengitarinya. Mataku segera tertuju pada sebuah candi kecil berdiri tegak di bagian pojok menghadap ke timur. Di sekitarnya tampak taman yang ditata dengan apik. Di sekitar candi yang berdiri itu, terdapat petak-petak. Dalam petak ini batu-batuan tertata rapi. Sebenarnya, di kompleks ini tidak hanya ada satu candi saja. Candi Ngawen terdiri atas 5 buah candi kecil: 3 buah candi di sisi Barat dan 2 buah candi di sisi Timur. Dari kelima candi tersebut, hanya satu candi yang tampak utuh. Itupun tanpa atap.

Segera kakiku melangkah masuk ke kompleks candi melewati sebuah pagar besi. Ada petugas yang menjadi penjaga kompleks ini. Tidak ada retribusi masuk. Aku hanya diminta untuk mengisi buku tamu yang berisi nama, alamat, maksud kedatangan, dan kesan mengenai keberadaan candi Ngawen ini. Menilik dari daftar buku tamu ini, rupanya ada banyak juga pengunjung candi Ngawen ini.

kemanakah kepala Sang Budha?

Tujuanku langsung ke candi yang berdiri tegak. Dalam perjalanan dari rumah penjaga ke candi utama, mataku tertuju kepada sebuah keluarga yang sedang menemani anaknya bermain. Tampak asyik. Senda gurau dan keceriaan terpancar dari wajah mereka. Lalu, sampailah aku di candi utama. Sebuah gapura berundak menyambutku. Betapa kaget ketika aku melihat sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa. Patung yang duduk tegak ini sudah tidak ada kepalanya. Kemanakah kepalanya? Apakah karena rusak sejak diketemukan atau menjadi kurban pencurian orang-orang tak bertanggung jawab? Patung ini terletak persis di tengah-tangah bangunan candi. Dinding candi berlumut dan di sana-sini terdapat kubangan air. Hal ini dikarenakan tidak adanya atap yang menaungi bagian dalam dari candi ini.

patung singa yang ada di keempat pojok candi

Dibandingkan candi Buddha lainnya, ada keunikan tersendiri dari candi ini. Salah satu keunikannya adalah keberadaan 4 buah patung singa di setiap sudut candi. Aku tertarik untuk mengamatinya. Ternyata, patung singa ini berjenis kelamin laki-laki. Hal ini terlihat jelas dari ornamen alat kelamin yang terpahat pada patung singa tersebut. Di dalam mulut patung yang besar ini terdapat pipa saluran air. Aku kurang begitu jelas maksudnya lubang saluran ini. Apakah digunakan untuk mengalirkan air untuk pengairan atau dipakai untuk sembahyang? Selain ornamen patung, di candi ini juga terdapat berbagai relief yang menghiasai tubuh candi.

Ketika aku mengalihkan pandangan ke sekeliling, aku bertanya pada diriku sendiri, “Mengapa candi secantik ini tidak dipugar sehingga ke empat candi yang lain dapat berdiri tegak?” Candi ini pertama kali ditemukan pada 1864 oleh seorang Belanda bernama Hoepermans. Dalam perkembangannya, candi ini pernah direstorasi. Proses restorasinya selesai pada 1927. Hingga kini, tidak ada lagi usaha untuk merestorasi. Hal ini disebabkan banyaknya batu dan ornamen yang hilang atau tidak ditemukan sehingga pelaksanaan restorasi menjadi sulit. Selain itu, usaha untuk mereka-ulang candi ini juga belum berhasil.

tumpukan batu yang ada di sisi timur menunggu untuk dibangun kembali

Sangat disayangkan memang jika candi yang terletak di tangah areal persawahan ini terbengkalai. Keberadaan candi ini sangat menarik. Candi dengan latar belakang persawahan dapat menjadi sarana untuk sejenak melupakan kesemrawutan kehidupan kota. Selama ini, candi Ngawen mengandalkan tata tamannya yang menarik dan terawat baik. Selain tanaman bunga dan rerumputan yang menghijau, terdapat sebuah kolam. Kolam ini selain berfungsi untuk mengairi lahan di kompleks candi juga turut memperindah kompleks candi. Di dalam kolam ini tumbuh bunga teratai. Ketika mekar, bunga teratai ini amatlah elok.

Sembari menikmati keindahan bangunan candi, kita diajak untuk menikmati kecerdasan leluhur dalam berkreasi. Bagaimana tidak, batu-batu yang keras dibentuk sedemikian rupa sehingga tercipta sebuah bangunan megah nan indah. Selain itu, kita juga bisa menikmati suasana pedesaan yang khas dan hamparan sawah. Keindahan-keindahan yang terpampang di depan mata ini dapat menjadi obat stres yang murah meriah. Sungguh, meski kalah pamor dengan candi-candi lain, candi Ngawen menawarkan sebuah panorama keindahan.

Iklan

Responses

  1. salam..
    wah baru tahu juga saya, mungkin jika nanti ada kesempatan ke sana bisa mampir.. sayang sekali ya tidak terlalu terurus dengan baik, sampai ada kepala patung Budha yang hilang.. paling asyik melihat candi atau situs sejarah jadi bisa membayangkan ke masa lampau.. dan sekaligus belajar sejarahnya hanya terkadang di lokasi candi tidak ada tulisan atau prasasti tentang sejarahnya hehe 🙂

  2. […] https://hurahura.wordpress.com/2010/09/20/candi-ngawen-yang-unik-yang-terpinggirkan/ […]

  3. salah satu kompleks candi yang sangat indah, sudah dua kali saya blusukan ke candi Ngawen. Arca buddha di candi ini, sangat halus dan indah.
    Selain itu terdapat relief beberapa binatang, antara lain : gajah, burung kakaktua, kera, kijang/rusa.

    Yang menarik lainnya, adalah, relief ghana yang tidak hanya satu macam gaya.

  4. […] https://hurahura.wordpress.com/2010/09/20/candi-ngawen-yang-unik-yang-terpinggirkan/ […]

  5. Indah dan menarik candi ngawen


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: