Oleh: hurahura | 11 Oktober 2012

Pendiri Kota Jakarta

Warta Kota, Selasa, 9 Oktober 2012 – Selanjutnya toponim Jayakarta muncul dalam piagam yang berasal dari Banten. Mengutip pembacaan seorang epigraf Belanda van der Tuuk, Muljana mengatakan piagam Banten antara lain menyebutkan istilah wong jakerta dan wong jayakerta (hal. 64).

Adanya toponim jakerta dan jayakerta, memberi petunjuk bahwa toponim Jayakarta telah ada sebelum kedatangan orang Belanda di Indonesia. Sebenarnya, tarikh piagam Banten itu dapat dijadikan pegangan untuk menetapkan hari lahir Jayakarta. Sayangnya, bagian yang menyebutkan tarikh telah rusak. Namun dari isinya Muljana menganalisis bahwa piagam Banten dikeluarkan pada awal abad ke-17. Ini karena pada piagam itu tercantum kata kumendur, berasal dari kata commander. “Oleh karena itu boleh dipastikan bahwa piagam itu dikeluarkan sesudah tahun 1602, ketika orang Belanda telah datang di Indonesia,” kata Muljana.

Dalam laporan Cornelis de Houtman (1596), toponim Jayakarta juga muncul. Dia menyebut bahwa Pangeran Wijayakrama adalah koning van Jacatra (=raja Jakarta). Dari laporan itu tergambar bahwa nama Jacatra atau Jakarta merupakan nama tempat atau nama kota. Muljana tidak secara pasti mengungkapkan bilamanakah mulai terjadi pergantian nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta.

Anehnya, meskipun ketika itu masih terdapat polemik yang berkepanjangan, artinya belum terdapat data sejarah yang pasti tentang hari jadi Jakarta, Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja sudah keburu menuangkan SK tertanggal 23 Februari 1956 terhadap hasil penelitian Soekanto. Hal tersebut pernah membuat heran para peneliti sejarah dan pejabat negara, termasuk Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo waktu itu. Bahkan sewaktu menghadiri perayaan pertama hari ulang tahun Jakarta, Ali Sastroamidjojo setengah mengejek terhadap “peringatan ganjil” itu.

Keputusan 1956 itu dipandang sebagai “kemenangan Sudiro” yang waktu itu menjabat Walikota Djakarta Raja. Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo kemudian memertanyakan, “Mengapa perdebatan historis diselesaikan dengan keputusan politis” (Adolf Heuken, Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, hal. 27-28).

Sebenarnya, ketiga pendapat tersebut pun masih diragukan. Soekanto dan Djajadiningrat berawal pada tafsiran Fatahillah, tokoh yang dianggap masih mitos karena sumbernya hanya berupa kitab-kitab babad. Pendapat Muljana pun perlu dipertimbangkan, mengingat makam Pangeran Jayakarta ada di beberapa tempat, seperti di Banten, Jatinegara, dan Kota. Meskipun nama Pangeran Jayakarta sudah diabadikan sebagai nama jalan, tentulah bukan berarti kita harus melegitimasi bahwa Pangeran Jayakarta adalah pendiri kota Jakarta. Semestinya penelitian arkeologi dilakukan secara berkesinambungan di kota yang perkembangannya paling pesat ini. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori