Oleh: hurahura | 28 Juli 2015

Lukisan Cadas Kuno Butuh Perlindungan

Muna-01Ilustrasi lukisan gua (Sumber: biotagua.org)

Pengungkapan usia lukisan gua di Maros, Sulawesi Selatan, oleh para ilmuwan Australia, tahun lalu, berhasil menguak misteri kehidupan manusia prasejarah di Indonesia periode sekitar 40.000 tahun lalu. Kini, tantangan mendesak berikutnya adalah memastikan cara agar lukisan-lukisan cadas bersejarah terpelihara di tengah perubahan ekosistem.

Arkeolog sekaligus pakar geokimia Universitas Griffith, Australia, Mazime Aubert, mengatakan, seiring perkembangan zaman, kawasan situs lukisan cadas kuno (rock art) di gua-gua karst berubah pesat. Peningkatan aktivitas manusia di sekitarnya berpengaruh terhadap kondisi kimiawi dan biologis yang berpotensi merusak kawasan situs.

“Perubahan itu perlu diperhatikan sehingga kita tahu cara melindungi dan mengonservasi tempat itu. Kami sedang merencanakan proyek kolaborasi dalam hal konservasi lukisan cadas kuno di Sulawesi, Kalimantan, Papua, dan sekitarnya,” ujar Maxime di sela-sela diskusi ilmuwan muda Australia dan Indonesia, Senin (27/7), di Jakarta.


Terancam hilang

Ahli komunikasi visual dari Institut Teknologi Bandung, Pindi Setiawan, mengungkapkan, selama 25 tahun terakhir banyak lukisan cadas kuno di gua-gua Sulawesi yang hilang. Gambar-gambar bersejarah itu hilang bukan karena vandalisme, melainkan perubahan ekosistem.

“Perlindungan dan konservasi dengan membuat zonasi ternyata tidak cukup. Sekitar 90 persen lukisan cadas kuno berada di kawasan karst. Kalau mau melindungi karst, kita perlu melindungi ekosistemnya, bukan sekedar menerapkan zonasi,” ujar Pindi.

Menurut Pindi, konservasi lukisan cadas kuno di kawasan Maros dilakukan dengan menerapkan zonasi yang membatasi aktivitas pada jarak tertentu dari situs. Namun, perlindungan ekosistem belum dipikirkan.

“Keterjagaan ekosistem di sekitarnya berpengaruh terhadap situs atau cagar budaya. Masalahnya, selama ini karst sering lebih dianggap sebagai batuan, bukan sebagai ekosistem. Persoalan tata ruang sering menjadi tantangan,” ujarnya.

Konservasi lukisan cadas kuno berbasis perlindungan ekosistem kini sedang dikembangkan di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kutai Timur, Kaltim. Di tempat itu, terdapat cagar budaya seluas 10.000-15.000 hektar yang berada di dalam cagar alam seluas 420.000 hektar. (ABK)

(Sumber: Kompas, Selasa, 28 Juli 2015)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: