Oleh: hurahura | 20 Februari 2012

Punden Berundak Gunung Padang: Maha Karya Nenek Moyang dan Kandungannya akan Nilai-nilai Kearifan Lingkungan di Masa Lalu di Tatar Sunda

Oleh: Lutfi Yondri
lutfi_yondri@yahoo.co.id

Lutfi-1Pendahuluan

Bangunan berundak Gunung Padang saat sekarang secara administratif termasuk dalam wilayah administratif Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Secara georafis kawasan ini terletak antara 6. 57 LS dan 107. 01 BT. Terletak di antara dua kampung, yaitu kampung Gunung Padang di sebelah timur dan pada kampung Cipanggulan di sebelah barat berada. Untuk mencapai situs megalitik Gunung Padang dari kota Cianjur dapat ditempuh dari dua arah, dari arah barat dan timur.

Dari arah barat: Cianjur – Sukaraja – Tegal Sereh – Gunung Padang. Kondisi jalan antara Cianjur – Sukaraja – Tegal Sereh beraspal, sedangkan dari Tegal Sereh ke situs Gunung Padang kondisi jalannya belum diperkeras. Dari arah timur, Cianjur – Warung Kondang – Cikancana Lampegan – Pal Dua – Gunung Padang dengan jarak tempuh sekitar 25 km. Kondisi jalan antara Cianjur – Warung Kondang – Cikancana – Pal Dua beraspal. Dari Pal Dua ke situs Gunung Padang kondisi jalannya saat sekarang sebagian sudah beraspal.

Bangunan berundak Gunung Padang muncul dalam percaturan bidang prasejarah sekitar tahun 1979, setelah 3 orang penduduk (Endi, Soma, dan Abidin) menemukan misteri yang terkandung dalam semak belukar di bukit Gunung Padang. Ketika bekerja di tempat tersebut mereka menemukan dinding tinggi dan susunan batu-batu berbentuk balok. Peristiwa itu dilaporkan kepada Edi, seorang Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka yang kemudian bersama-sama R. Adang Suwanda Kepala Seksi Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur mengadakan pengecekan pada tahun 1979. Sejak itulah kemudian berturut-turut tim peneliti baik dari Dit P3SP maupun dari Pus. PAN mengadakan pemetaan, penggambaran, dan deskripsi. Temuan bangunan berundak Gunung Padang merupakan yang cukup penting karena dapat dipergunakan sebagai studi bandingan dalam penelitian bangunan berundak di Indonesia.

Bangunan berundak terletak di atas sebuah bukit yang memanjang ke arah tenggara barat laut pada ketinggian 885 m di atas permukaan laut dari perhitungan altimeter. Situs dikelilingi lembah-lembah yang sangat dalam dan bukit-bukit (“pasir”: bhs. Sunda). Adapun bukit-bukit yang mengelilingi Gunung Padang tersebut adalah: sebelah tenggara Gunung Melati, sebelah timur laut Pasir Malang, Sebelah barat laut Pasir Pogor dan Pasir Gombong, sebelah barat daya Pasir Empat dan Gunung Karuhun.Di sebelah barat laut Gunung Padang terdapat lembah yang dalam, memanjang dari barat daya-timur laut. Di lembah terdapat desa Cimanggu, Ciwangun, dan Cipanggulaan yang merupakan desa terdekat dengan situs Gunung Padang. Daerah ini dilalui sungai Cicohang di sebelah barat laut dan sungai Cimanggu di sebelah timur yang banyak mengandung batu-batu kali besar dan kecil.


Bahan dan Konstruksi Bangunan

Punden berundak Gunung Padang dibangun dari batuan vulkanik yang berbentuk persegi panjang terdiri dari balok-balok batu. Batu tersebut belum dikerjakan (belum dibentuk oleh tangan manusia). Batuan tersebut umumnya berbentuk balok-balok panjang, berasal dari batuan beku (columnar joint).

Lutfi-2Berdasarkan hasil pengamatan megaskopik yang dilakukan pada contoh batuan dari situs Gunung Padang diperoleh deskripsi sebagai berikut: balok-balok batuan tersebut termasuk dalam kelompok batuan beku andesit berwarna hitam, berkristal halus sampai sangat halus, masif, kompak, keras dan sebagian permukaan batuannya telah mengalami pelapukan yang ditandai mineral berwarna kuning kecoklatan.

Sementara itu dari hasil pengamatan mikroskopik dapat diketahui bahwa batuan tersebut bertekatur polifiritik halus, fenokris berjumlah 55% terdiri dari plagioklas, piroksin, fragmen batuan dan horenblende. Massa dasar terdiri dari mikrolit- mikrolit plagioklas, piroksin, horenblende dan gelas volkanik. Mineral ubahan adalah klorit dan mineral pengiring adalah bijih. Batuan masih segar, mineral piroksin dan horenblende mulai berubah menjadi klorit dan oksida Fe – Ti. Mikrolit plagioklas dalam massadasar gelas volkanik membentuk struktur aliran yang menyebabkan fenokris batuan menjadi pecah-pecah dan hancur. Analisis komposisi unsur mineral pembentuk batuan, dengan komposisi plagioklas 35%, piroksin 20%, frgmen batuan 5%, horenblende 5%, gelas volkanik 25%, klorit 5%, dan bijih 5%. Batuan tersebut termasuk dalam kelompok andesit piroksin (Djubiantono, 1996/1997: 10).

Secara keseluruhan konstruksi punden berundak Gunung Padang terdiri dari lima teras yang masing-masingnya mempunyai ukuran yang berbeda-beda. Teras pertama merupakan teras terbawah mempunyai ukuran paling besar kemudian berturut-turut sampai teras kelima ukurannya semakin mengecil. Teras pertama mempunyai bentuk persegi empat yang dua sisinya yaitu sisi barat laut dan tenggara mempunyai ukuran yang berbeda. Adapun ukuran dari masing – masing teras pertama ini: sisi barat laut berukuran panjang 40 m, sisi tenggara berukuran panjang 36 m, sedang kedua ssisi lainnya masing-masing berukuran 28 m. Teras ini dibentuk dengan sistim urug dan kemudian diperkuat dengan balok-balok batu yang sekarang menjadi dinding- dinding teras pertama. Pada teras pertama terdapat 10 bangunan kecil yang terdiri dari susunan balok batu berbagai bentuk.

Teras kedua mempunyai bentuk yang lebih kecil dari pada teras pertama. Teras ini berukuran: sisi barat laut (sisi depan) panjang 22,30 m, sisi timur laut (sisi sebelah kiri) panjang 25 m, sisi sebelah barat daya (sebelah kanan) panjang 24 m, sisi sebelah tenggara (belakang) panjang 18,5 m. Pada permukaan teras yang rata ini terdapat 6 susunan bangunan besar dan kecil yang yang juga terbuat dari balok-balok batu andesit. Selain itu tampaknya masih ada bangunan kecil lainnya tetapi sudah tidak dapat diketahui lagi bentuknya, k arena susunan batu bangunan-bangunan yang lain sudah tidak kelihatan lagi. Pada teras kedua ini terdapat batu-batu tegak yang mempunyai ukuran lebih besar dari pada batu-batu tegak yang lain, berfungsi sebagai pembatas jalan.

Teras III berukuran lebih kecil dari teras II. Adapun sisi-sisi teras ini berukuran panjang sisi barat laut 18,5 m, sisi tenggara 18 m, sisi timur laut 18 m, sisi barat daya 18 m. Pada teras III ditemukan 5 bangunan yang hampir sebagian besar merupakan kelompok -kelompok batu tegak baik yang masih berdiri maupun yang sudah rubuh. Beberapa bangunan disusun dalam bentuk persegi empat atau melingkar. Masing-masing bangunan terpisah pisaah tidak tampak adanya jalan atau pondasi yang menghubungkan antara bangunan satu dengan yang lainnnya. Bangunan- bangunan inilah dimasa lalu diperkirakan memiliki fungsi sebagai kuburan oleh Krom. Data terakhir yang diperoleh sebagai hasil ekskavasi D.D. Bintarti tahun 1982 membuktikan bahwa pada beberapa bangunan tidak ada tanda-tanda penguburan, kecuali hanya ditemukan pecahan gerabah polos yang terbatas jumlahnya.

Pada teras IV terdapat yang terletak lebih tinggi dari teras III, terdapat 3 bangunan lagi, yang semuanya terletak pada bagian timur laut teras IV. Bagian barat daya teras IV tidak ditemukan sisa-sisa bangunan, kecuali sebidang tanah kosong yang mungkin dipergunakan untuk pelaksanaan upacara tertentu, yang membutuhkan tempat luas. Sedangkan teras V terletak di bagian paling ujung sebelah tenggara dan merupakan teras tertinggi, memiliki ukuran panjang sisi barat laut 17,5 m, sisi timur laut 19 m, sisi tenggara 16 m dan sisi barat daya 19 m. Diduga teras ini dianggap paling suci, tempat upacara-upacara paling sakral diadakan. Pada teras ini ditemukan bangunan-bangunan kecil yang merupakan tumpukan monolit dan oleh N. J. Krom diperkirakan merupakan kuburan (Sukendar, 1995).

Lutfi-3
Hasil pengamatan terakhir di sisi sebelah timur, dan selatan situs pada bulan September 2011, ditemukan lagi teras-teras penunjang dari teras utama punden berundak Gunung Padang. Susunan teras tersebut tampak jelas di sisi sebelah timur sebanyak 13 teras yang memajang sesuai dengan orientasi teras-teras utama yaitu memanjang dari sisi utara ke selatan. Besar kemungkinan teras-teras yang demikian mengitasi seluruh sisi punden, hanya saja susunan teras yang demikian di sisi selatan tampak sudah banyak yang mengalami kerusakan, sementara sisi utara dan barat belum dapat diamati dengan cermat.


Sumber Bahan

Kajian terhadap sumber bahan batuan yang digunakan untuk pembangunan punden berundak Gunung Padang, merupakan satu permasalahan yang menarik untuk dibahas, di samping fungsi bangunan di masanya. Berdasarkan pengamatan bentuk dan perkiraan jumlah balok batu penyusun struktur punden, paling tidak bangunan tersebut tersusun dari ribuan ba lok batu. Beberapa ahli sebelumnya berpandangan bahwa balok-balok batu tersebut dibawa dari daerah sekitar, dan kemudian disusun di puncak Gunung Padang. Hasil orientasi dan pengamatan terhadap berbagai bukit yang gundul (pada waktu musim kemarau) menunjukkan jenis batuan konstruksi Gunung Padang tidak ditemukan di bukit-bukit sekitarnya. Begitu juga dengan survei yang dilakukan di dua aliran sungai yang mengalir di lembah sebelah barat dan timur. Di lokasi tersebut juga tidak ditemukan jenis batuan Gunung Padang. Temuan di sekitar Gunung Padang antara lain adalah 3 monolit di Cipanggulaan, Pasir Empet, dan Pasir Salam. Batu tersebut oleh masyarakat setempat disebut sebagai batu kereta karena memiliki bentuk yang agak membulat di bagian atas dan agak vertikal di sisi depan dan belakang seperti gerbong kereta. Tinggalan lainnya adalah teras berundak di Desa Ciukir (Tim Peneliti, 2002)

Berdasarkan hal tersebut kuat dugaan batuan penuyusun terasa-teras Gunung Padang tersebut merupakan batu-batu balok hanya dihasilkan di bukit Gunung Pandang itu sendiri. Dugaan ini diperkuat juga diperkuat dengan hasil analisis petrografi yang cukup berbeda dengan contoh batuan yang diambil dari lokasi “Quarry” yang terletak tidak jauh dari situs Gunung Padang. Contoh batuan tersebut memperlihatkan komposisi plagioklas 50 %, piroksin 15%, frgmen batuan 5%, horenblende 5%, kuarsa 5%, klorit 10%, karbonat 2 %, Oksida Fe-Ti 3%, dan bijih 5%. Batuan tersebut termasuk dalam kelompok andesit piroksin (Djubiantono, 1996/1997: 13).

Lutfi-4
Walaupun batu andesit dari lokasi Quarry dan situs Gunung Padang tersebut sama-sama dari kelompok andesit piroksin, akan tetapi dari segi unsur tampak berbeda. Komposisi unsur batu andesit dari lokasi Quarry lebih beragam, serta prosentase yang berbeda dengan komposisi sampel batuan dari situs Gunung Padang. Bila hasil analisis kedua sampel batuan tersebut didiagramkan, akan diperoleh diagram perbandingan sebagai berikut.

Menurut Djubiantono, perbedaan tersebut mencirikan bahwa sekalipun batuan tersebut mempunyai dapur magma yang sama, namun ketika membeku magma tersebut tidak sama. Contoh dari Gunung Padang terbentuk di permukaan bumi, sedangkan contoh dari Quarry terbentuk dekat permukaan bumi. Sehingga batuan andesit piroksin di Gunung Padang disimpulkan bukan berasal dari lokasi Quarry (Djubiantono, 1996/1997:16).

Untuk mencari jawaban tentang sumber bahan batuan untuk pembangunan bangunan punden berudak tersebut ditunjang oleh serangkaian kegiatan ekskavasi yang ditempatkan p ada teras I hingga teras V. Hal ini dilakukan dengan dasar asumsi bahwa bahan batuan tersebut berasal dari Gunung Padang sendiri. Penempatan kotak gali di masing-masing teras tersebut juga didasarkan pada asumsi bahwa kemungkinan sumber bahan berada pada lokasi yang cukup padat atau banyak memiliki sebaran balok batu, yaitu teras 1 dan teras 2.

Lutfi-5
Hasil pembukaan kotak ekskavasi di teras III, dengan keadaan lapisan tanah yang cukup padat berwarna coklat kemerahan di bawah balok batu (Dok. Balar Bdg, 2005)

Berdasarkan hasil pembukaan kotak ekakavasi di teras II hingga teras V, diperoleh data bahwa setelah susunan batu baik yang berada pada posisi tegak dan yang telah rubuh umumnya keadaan lapisan tanah padat dengan warna coklat ke kuningan dengan tekstur yang agak kasar. Hal ini sangat berbeda dengan pembukaan kotak ekskavasi di teras I. Hasil pembukaan kotak eksakavasi di teras tersebut berhasil ditampakkan hamparan b alok-balok batu di bawah susunan batu teras. Balok-balok batu tersebut merupakan bagian dari columnar joint yang terhampar dengan posisi horizontal, dan orientasi hamparan timur-barat melintang orientasi keletakan punden berundak Gunung Padang. Balok-balok batu tersebut memiliki bentuk yang sama dengan balok-balok batu penyusun teras berundak Gunung Padang yaitu berbentuk prismatik dengan ukuran yang tidak sama satu dengan yang lainnya. Masing-masing balok batu tersebut dilapisi oleh kerak lempung.

Lutfi-6
Hasil pembukaan kotak ekskavasi di teras I, dengan temuan berupa balok-balok batu andesit yang masih dilapisi oleh kerak lempung (Dok. Balar Bdg, 2005)

Berdasarkan temuan hasil pembukaan kotak ekskavasi di teras I tersebut dapat disimpulkan bahwa bahan batuan penyusun punden berundak Gunung Padang tersebut berasal dari lokasi yang sama. Bahan batuan tersebut ditambang dari balok-balok batu yang merupakan bagian dari satu columnar joint yang terdapat di bawah lapisan tanah punden. Balok-balok batu prismatik yang tampak berwarna keabu-abu penyusun teras tersebut merupakan hasil akhir dari pengolahan bahan setelah ditambang dengan cara melepaskan lapiran kerak lem pung yang menyelimuti balok-balok batu saat terpendam di dalam tanah. Balok-balok batu dari hasil olahan yang demikianlah yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan untuk penyusunan masing-masing bagian kontruksi punden berundak Gunung Padang mulai dari tangga naik hingga teras tertinggi (teras V).


Potensi Kebencanaan dan Nilai-Nilai Kearifan dalam Konstruksi Bangunan

Mungkin sejak awal penghunian kawasan Jawa Barat di masa lalu, berbagai bentuk bencana alam seperti tanah longsor, banjir, bahkan gempa sudah menjadi suatu kejadian yang selalu dirasakan oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari peta seismic yang dikemukakan oleh van Kempen pada tahun 1945 yang dimuat dalam bukunya Pieter Honig dan Frans Verdoorn yang berjudul Science and Scientists in the Netherlands Indies.

Dalam peta tersebut tergambar bahwa di kawasan Jawa Barat banyak terdapat titik-titik episentrum kegempaan dari skala kecil hingga besar. Tingginya kebencanaan di daerah ini tentunya juga tidak terlepas dari kondisi alam Jawa Barat yang didominasi oleh kawasan perbukitan dengan lereng-lereng yang cukup rawan akan bencana di kala musim penghujan, serta keletakannya yang dilalui oleh jalur patahan Cimandiri, yang cukup sering mengalami pergerakan yang akhirnya menimbulkan bencana. Gempa terakhir yang kemudian menimbulkan kerusakan pada bagian terowongan Lampegan yang dulu dibangun oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1979-1882.

Menghadapi tantangan alam yang demikian besar kemungkinan di masa lalu sudah muncul berbagai pengetahuan pengetahuan di tengah masyarakat serta berbagai bentuk nilai kearifan. Di masa sekarang, nilai-nilai yang demikian lebih banyak dimaknai hanya dalam tataran nilai sosial, akan tetapi sebenarnya hal tersebut tidak tertutup kemungkinan juga dideposisikan dalam teknologi konstruksi.

Merujuk papa paparan yang disampaikan oleh R.P. Soejono (2002) dalam tulisannya yang berjudul Potensi Arkeologis dan Masalah Penangan Situs Gunung Padang, yang menyebutkan bahwa Gunung Padang merupakan suatu bentuk peninggalan arkeologi dan memiliki ciri-ciri khusus dari masa prasejarah kini menjadi perhatian untuk diberikan arti dan maknanya kepada masyarakat luas serta melihat keletakan punden berundak Gunung Padang di puncak perbukitan yang dikelilingi oleh lereng yang cukup terjal yang sangat rawan akan bencana. Maka tinggalan ini sangat layak untuk dijadikan sebagai bahan kajian tentang pengetahuan, teknologi, serta pengetahuan tentang kearifan masyarakat masa lalu dalam menghadapai kondisi dan tantangan lingkungan di masa lalu kondisinya tentunya tidak jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Hal inilah yang kemudian dicoba dianalisa terhadap tinggalan punden berundak Gunung Padang ini.

Dari keletakan punden berundak Gunung Padang yang berada di daerah yang rawan bencana tersebut, menurut Sampurno (2002) bentuk bencana alam yang mengancam punden berundak Gunung Padang dapat dikategorikan atas beberapa hal, seperti runtuhan, gelinciran, dan aliran. Kondisi yang demikian dapat terjadi karena beberapa bagian dari konstruksi punden berundak Gunung Padang meimiliki potensi terhadap kebencanaan yang demikian. Konstruksi dinding teras yang terbat dari susunan balok-balok batu andesit yang tersusun vertical dan berada di puncak bukit disebutkan sangat rawan akan hal runtuhan, kemudian konstruks i dinding teras yang berada pada bidang miring perbukitan sangat rawan akan bahaya gelinciran, begitu juga dengan susunan kontruksi yang berda di daerah yang landai juga sangat rawan akan bahaya aliran.

Ketiga jenis bencana yang demikian dapat terjadi kapan saja, karena berdasarkan hasil pengamatan sekeliling punden berundak Gunung Padang, terdiri dari lereng-lereng yang cukup terjal baik di sisi sebelah barat, timur, dan selatan.

Berdasarkan data tersebut muncul pertanyaan bagaimana pengetahuan teknis yang dimiliki masyarakat pendudukung budaya megalitik tersebut dalam membangun dan menyusun balok-balok batu tersebut sehingga mampu bertahan di daerah yang rawan bencana tersebut dalam kurun waktu yang lama, sedang pada saat itu teknologi yang maju seperti sekarang ini yang dapat mengantisipasi tentangan alam tersebut belum ada. Mungkin dala m tataran inilah konsep local wisdom atau yang umum diartikan sebagai kearifan lokal yang umum dimiliki oleh banyak suku bangsa di nusantara, dapat diterapkan.

Sebagaimana disampaikan oleh Nurma Ali Ridwan (2010) dalam tulisannya yang berjudul Landasan Keilmuan Kearifan Lokal, disebutkan bahwa kearifan lokal atau sering disebut local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Pengertian di atas, disusun secara etimologi, di mana wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Secara spesifik kearifan lokal tersebut menunjuk pada ruang interaksi terbatas dengan sistem nilai yang terbatas pula. Sebagai ruang interaksi yang sudah didesain sedemikian rupa yang di dalamnya melibatkan suatu pola-pola hubungan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan lingkungan fisiknya. Ditambahkan juga bahwa dalam teori human ecology terdapat hubungan timbal-balik antara lingkungan dengan tingkah-laku. Lingkungan dapat memengaruhi tingkah-laku atau sebaliknya, tingkah-laku juga dapat memengaruhi lingkungan (Ridwan, 2010:4-7).

Dalam hal ini model ekologi didasari oleh aspek adaptasi budaya. Dalam pandangan tersebut, budaya atau khususnya teknologi merupakan faktor utama bagi manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan (Sharer dan Ashmor, 1980:61).

Upaya adaptasi terhadap lingkungan yang rawan akan bencana tersebut masyarakat pendukung budaya megalitik Gunung Padang mendeposisikan pengetahuan mereka dalam bagaimana mereka menyusun dan menata balok-balok batu di setiap bentuk bangun atau susunan yang ada pada konstruksi punden berundak Gunung Padang sebagai wujud dari kearifan lokal di masa lalu.


Penataan Balok Batu Sekeliling Sumber air (Sumur Suci)

Sumber air atau sumur suci punden berundak Gunung Padang merupakan pola konstruksi awal yang ditemui sebelum menapaki tangga naik menuju teras punden berundak. Sumur ini berada di kaki sebelah utara Gunung Padang. Sumur suci ini merupakan satu-satu sumber air di kawasan ini. Melihat keletakaanya yang demikian, besar kemungkinan di masa lalu tinggalan ini dipergunakan oleh masyarakat pendukung budaya megalitik Gunung Padang sebagai sarana pensucian diri sebelum melakukan ibadah atau melaksanakan upacara.

Oleh karena mata air yang menjadi sumber air sumur tersebut tidak berada di permukaan tanah tetapi terletak lebih kurang 1.5 m dibawah permukaan tanah, maka untuk menjaga kestabilan tanah dari permukaan hingga muka air disusun balok-balok batu dengan membentuk ukuran bukaan yang makin mengecil ke bagian bawah. Susunan balok batu yang tampak masih utuh pada bagian ini adalah susunan balok- balok batu yang berada dekat dengan muka air. Balok-balok batu tersebut disusun dengan cara saling menghimpitkan bagian ujung balok batu sehingga membentuk ruang persegi. Besar kemungkinan di masa lalu, susunan yang demikian merupakan bentuk susunan dasar dari bentuk  susunan batu penguat dinding sumur yang sekaligus berfungsi sebagai tangga bagi peziarah dalam prosesi pensucian diri pada saat itu, walau sampai sekarang belum diketahui bagaimana cara pelaksanaan pensucian diri masyarakat masa lalu yang melakukan upacara di punden berundak Gunung Padang ini.

Lutfi-7Susunan balok batu andesit disusun sedemikian rupa sehingga membentuk ruang persegi pada dinding sumur (Dok. Lutfi Yondri, 2010)

 

Pola Sunanan Balok Batu Penyusun Tangga

Konstruksi tangga di punden berundak Gunung Padang, antara lain terdapat di bagian antara sumur batu dan teras 1, serta di bagian antara dari teras 1 hingga ke teras 5. Semua konstruksi tangga tersebut terbuat dari susunan balok-balok batu berbentuk prismatic. Pola susunan balok-balok batu pada masing-masing bagian tangga pada bangunan punden berundak Gunung Padang, berdasarkan hasil pengamatan memperlihat pola yang berbeda baik yang pada susunan tangga naik tersebut. Mungkin hal ini dipengaruhi dari bentuk kelandaian dari masing-masing lahan dimana tangga tersebut ditempatkan.

Tangga naik menuju teras pertama bangunan berundak Gunung Padang, terletak di sisi sebelah tengara bukit, dan menempati bagian bukit yang sebagian besar cukup terjal yaitu dengan kemiringan yang cukup terjal. Untuk mengatasi hal tersebut, tampaknya di masa lalu diatasi dengan membuat tangga yang agak berliku dan pola peletakan balok batu dengan pola membujur dan melintang. Masing-masing anak tangga umumnya terdapat 3 atau lebih balok batu secara membujur, kemudian dikunci oleh balok-balok batu yang diletakkan secara melintang. Peletakan balok-balok batu dengan cara demikian tampak dilakukan secara berulang terutama pada bagian-bagian tangga yang masih dapat diamati, dari awal tangga naik sampai tangga terakhir sebelum menunju ke teras pertama, sepanjang lebih kurang 150 m. Pola susunan yang demikian, tampaknya cukup efektif untuk mencegah terjadinya gelinciran susunan balok batu penyusun tangga naik bila terjadi goncangan atau diinjak oleh para peziarah yang meleati tangga tersebut di masa lalu.

Sementara itu, susunan anak tangga yang menghubungkan antara teras 1 dan teras 2, dan juga tangga-tangga naik yang terletak pada teras yang terletak lebih tinggi disusun tidak seperti susunan anak tangga yang terdapat antara sumur batu dan teras 1. Susunan anak tangga pada bagian ini tampak tersesun lebih sederhana berupa satu atau dua balok batu yang disusun secara bertingkat.


Pola Susunan Balok Batu Dinding Teras yang Vertikal dan Melandai

Lutfi-8
Susunan balok batu andesit pada dinding teras yang veritkal yang disusun dengan pola membujur yang diganjal oleh bongkahan batu lain untuk menghindarai goncangan dalam mengantisipasi bahaya runtuh dan longsor. (Dok. Lutfi Yondri, 2011)

Berdasarkan pengamatan terhadap susunan balok batu yang ditempatkan sebagai pembentuk struktur dinding teras, terutama pada teras 1 sisi sebelah tenggara, timur laut, dan barat daya yang merupan bagian dari teras dengan bentuk dinding atau sisi halaman teras yang vertikal atau lebih curam. Untuk penguatan sisi teras, balok-balok batu disusun dengan pola susunan mendatar atau tegak luruh dengan arah sisi dinting. Bila dinding yang disusun mengarah ke sisi barat, maka arah bujur keletakan balok batu mengarah ke sisi barat. Untuk memperkuat susunan balok-balok batu tersebut, maka rongga-rongga atau sela yang terdapat antar masing- masing balok batu di ganjal atau diisi dengan bongkahan batu.

Susunan balok-balok batu dengan cara demikian juga tampak jelas teramati pada dinding teras 2 sisi sebelah barat daya. Untuk mendapatkan luasan lantai teras, maka antara teras yang melandai dengan susunan dinding yang terbentuk ditambahkan tanah isian. Berdasarkan pengamatan terhadap bentuk batuan asal, dapat diperkirakan bahwa urugan tanah tersebut sebagian berasal dari lapisan tanah yang menutupi balok batu saat berada di sumber bahan. Dinding-dinding teras yang tidak terlalu vertikal, susunan balok-balok batu tampak tidak dilakukan dengan cara demikian.

Balok-balok batu pada bagian ini ditempatkan dengan pola melintang dengan jumlah tertentu dan kemudian diapit oleh dua balok batu pada kedua sisi balok batu melintang. Balok-balok batu dengan susunan yang demikian tidak disusun secara vertikal, akan tetapi mengikuti kemiringan dinding teras, seperti yang terlihat pada dinding sisi sebelah utara teras 2. Sementara itu, pola susunan balok-balok batu yang diterapkan pada masing-masing bangunan teras lebih beragam, selain ada yang disusun dengan pola membujur dan melintang, juga ada yang disusun dengan pola tegak yang ditempatkan di sekeliling lahan, sehingga diperoleh satu ruang denan kesan tertutup karena diantara balok-balok batu yang didirikan tegak tersebut terdapat sela yang tampak terperuntuk sebagai pintu masuk.


Penutup

Dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal dapat dipandang sebagai hasil proses dialektika antara individu atau masyarakat dengan lingkungannya. Kearifan lokal juga dapat diartikan sebagai pengetahuan sederhana yang dimiliki oleh satu masyarakat yang merupakan respon terhadap kondisi lingkungannya, serta daya antisipatif masyarakat terhadap perubahan yang ditimbulkan oleh pengaruh lingkungan. Seperti yang disampaikan oleh Sumarwoto (1994) “Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan”, disebutkan bahwa secara teoritis kebutuhan manusia untuk dapat bertahan di alam terbagi dalam tiga kategori, antara lain 1) kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati, 2) kebutuhan dasaruntuk kelangsungan hidup manusiawi, dan 3) kebutuhan dasar untuk memilih (Sumarwoto, 1994: 62-64). Dalam kebutuhan dasar kategori ketiga inilah kemudian tampaknya manusia melakukan berbagai bentuk adaptasi dengan menerapkan pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki dalam mengadaptaikan serta mengekspresikan bentuk-bentuk dan wujud kebudayaan mereka terhadap keadaan lingkungan yang ada pada masa budayanya.

Konstruksi bangunan terutama konstruksi bangunan yang berkaitan dengan konsep kepercayaan bila dibandingkan dengan konstruksi yang ada di tengah masyarakat lainnya tampak dibangun dengan berbagai macam prasyarat dan umumnya diupayakan memiliki ketahan yang cukup lama. Seperti halnya sekarang ini, mungkin di masa lalu masyarakat pendukungnya mengerahkan berbagai pengetahuan yang mereka miliki dalam membangun bangunan yang demikian. Punden berundak Gunung Padang yang dibangun di puncak bukit yang dikelilingi oleh lereng-lereng yang cukup terjal dan berada di wilayah yang rawan akan bencana alam ini, tentunya di masa lalu dibangun dengan dasar pengetahuan teknis dan menerapkan nilai -nilai kearifan lokal yang ada pada saat itu, sehingga wujudnya masih dapat diamati hingga kini.

Pemanfaatan situs Gunung Padang sebagai tempat melaksanakan ritual sampai sekarang masih terasa. Biasanya pengunjung yang akan melaksanakan permintaan tertentu di situs ini dengan didampingi Juru Kunci, memulai ritualnya dengan mensucikan diri di sumur yang terdapat di samping tangga batu dengan melewati teras ke 1, 2, 3, 4, akhirnya ritual yang mereka lakukan berakhir dipuncak tertinggi di teras ke 5.

Walaupun sangat sulit menghubungkan legenda rakyat dengan peristiwa sesungguhnya, menurut kuncen di punden berundak Gunung Padang ini bersemayam 11 leluhur yang diziarahi sesuai dengan niat yang mereka tancapkam di dalam hati. Tokoh utama yang bersemayam di bagian puncak mereka sebutkan adalah Eyang Rama dan Eyang ibu disampin Prabu Siliwangi. Sementara lokasi yang lain adalah lokasi-lokasi yang mereka ziarahintuk pandai mengaji dengan menziarahi lokasi yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Syekh Marjuli, pandai menabuh gendang mereka nyekar di Sunan Bonang, Minta harta nyekar k eke Eyang Kuta Dunya, naik jabatan ke Eyang Tajimalela.

Biasanya peziarah yang datang ke Gunung Padang selalu didampingi oleh kuncen, yang dianggap dapat berkomunikasi secara spiritual dengan para roh leluhurnya. Tujuannya adala h agar setiap peziarah cepat diterima dan dikabulkan segala maksud dan tujuannya. Wisata ziarah ini biasanya paling banyak dilakukan pada bulan Maulud, dan pada hari Jum’at Kliwon. Sedangkan wisata alam atau wisata budaya, frekuensinya paling banyak dilak ukan pada hari Sabtu dan Minggu atau hari libur nasional. Tetapi, akan lebih indah lagi kalau perjalanan mendaki ke situs ini di saat bulan purnama. Dengan disinari bulan purnama akan terasa lebih takjub lagi akan kemahakaryaan pembangunan punden berundak Gunung Padang ini oleh nenek moyang kita di masa lalu.


Daftar Pustaka

Bemmellen, R. W. Van. 1949. The Geology and Adjacent Archipelagoes. Martinus Nijhoff, ed. Den Haag

Disbudpar Prop. Jabar, 2001. Studi Teknis Pemugaran Situs Gunung Padang, Kabupaten Cia njur, Propinsi Jawa Barat. Proyek Pembinaan Sejarah dan Kepurbakalaan Jawa Barat. (tidak diterbitkan)

Djubiantono, Tony, 1996/1997. Analisis Petrografi Ats Batuan Beku Dari Situs Megalitik Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dalam Laporan Penelitian: Geologi Kuarter dan Prasejarah di Jawa Barat dan Kalimantan Barat. Bandung. Bagian Proyek Penelitian Purbakala Bandung. Hal. 1-22

Honig, Pieter dan Frans Verdoorn, 1945. Science and Scientists in the Netherland Indies. New York City: Board for the Netherland Indies, Surinam and Curacao

Krom, N.J. 1915 Rapporten van den Oudheidkundingen Dients in Nederlandsch-Indie 1914

Kempen, C.P. Brest van, 1945. “Earthquakes In The Netherlands Indies” dalam Science and Scientists in the Netherland Indies. New York City: Board for the Netherland Indies, Surinam and Curacao. Hal. 35-36

Ridwan, Nurma Ali, 2010. Landasan Keilmuan Kearifan Lokal. http://ibda.files.wordpress.com/2008/04/2-landasan-keilmuan-kearifan-lokal.pdf

Sampurno, 2002. “Tinjauan Geologis, Lingkungan Alan dan Budaya Terhadap Pelestarian dan Pengembangan Situs Megalitik Gunung Padang”. Makalah pada Workshop Pelestarian dan Pengembangan Kawasan Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur. Cipas, Cianjur, Agustus 2002. (tidak diterbitkan)

Sharer, Robert J dan Wendy Ashmore, 1980. Fundamentals Of Archaeology. Menlo Park, California: The Benjamin/Cumming Publishing Company, Inc.

Soejono, R.P. 2002. “Potensi Arkeologis dan Masalah Penanganan Situs Gunung Padang”. Makalah pada Workshop Pelestarian dan Pengembangan Kawasan Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur. Cipas, Cianjur, Agustus 2002 (tidak diterbitkan)

Sukendar, Haris. 1985 . Tinggalan Tradisi Megalitik di Daerah Cianjur, Jawa Barat. Jakarta. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sumarwoto, Otto. 1994. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Tim Peneliti, 2005. Laporan Hasil Penelitian Prasejarah: Penggalian Arkeologi di Situs Megalitik Gunung Padang. Bandung: Balai Arkeologi Bandung (Tidak Diterbitkan)

Yondri, Lutfi, 2007. “Teknologi, Sumber Bahan, Dan Pola Susunan Balok Batu Bangunan Punden Berundak Gunung Padang”. Dalam Supratikno Rahardjo (ed.) Pemukiman, Lingkungan, dan Masyarakat. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata

Iklan

Responses

  1. teori lupti yondri hanya berdasarkan asumsi asumsi teori melulu belum pernah melakukan penggalian menurut penelitian modern gn padang adalah sebuah bangunan mirip piramid bukan bekas gn api dan pinden berudak diatasnya hanya bagian pucuknya saja dari sebuah bangunan raksasa .teori lutpi sudah lagu lama ,teri sinisme


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: