Oleh: hurahura | 20 Juli 2010

“Leluhur” Kera dan Manusia

Oleh Luki Aulia

Fosil tengkorak kera berusia 29 juta tahun ditemukan di Arab Saudi, Rabu (14/7). Fosil seberat 15-20 kilogram ini diduga “nenek moyang” terakhir kera, orangutan, dan manusia yang akhirnya kera terpisah dari orangutan menjadi dua keluarga yang berbeda. Salah satu kunci penting untuk memahami evolusi manusia adalah menentukan kapan garis keturunan hominoid, termasuk orangutan dan manusia, berpisah dari satu pohon keluarga besar kera Old World (Cercopithecidae).

Bisa jadi fosil tengkorak ini adalah nenek moyang terakhir kera dan manusia. Pasalnya, ada periode waktu tertentu ketika pohon keluarga primata terpecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok menghasilkan keluarga kera, sementara kelompok lain menghasilkan keluarga orangutan, termasuk manusia.

Temuan fosil ini menunjukkan, kera Old World memisahkan diri dari orangutan jutaan tahun lebih awal daripada perkiraan sebelumnya, yakni 29 juta-28 juta tahun lalu. Sebelumnya, perkiraannya 30 juta-35 juta tahun lalu. Menurut jurnal Nature, fosil tengkorak primata yang diberi nama Saadanius hijazensis itu memiliki ciri-ciri yang sama dengan kera Old World dan orangutan, termasuk manusia. “Saadanius dekat dengan kelompok yang mengarah ke kita,” kata William Sanders, ahli paleontologi di University of Michigan.

Ahli paleontologi Iyad Zalmout dari University of Michigan menjelaskan, ketika masih hidup, primata yang ditemukan itu mirip dengan kera New World yang memiliki ekor panjang dan berjalan dengan kaki dan tangannya, berbeda dengan kelompok orangutan yang mulai berjalan tegak dengan dua kaki. Dari bentuk wajah sebenarnya lebih mirip keluarga orangutan, termasuk manusia.

“Tetapi, primata ini bukan kera. Bukan juga orangutan. Ia ada di tengah- tengah. Karena itu, kami simpulkan, ia nenek moyang orangutan dan kera Old World,” ujarnya.

Primata temuan baru ini dikatakan ada di tengah-tengah antara kera dan orangutan karena tidak memiliki lubang yang menghubungkan rongga hidung dengan batok kepala, seperti yang ada di orangutan modern dan kera. Namun, primata ini memiliki saluran telinga yang bertulang meski belum terbentuk sempurna. Untuk sementara, tim peneliti menyimpulkan, primata temuan baru ini lebih primitif dari primata asal Mesir sekaligus orangutan dan kera Old World yang lebih modern asal Afrika Timur.

Pada era 1990-an, antropolog Brenda Benefit dari New Mexico State University pernah memprediksikan akan ditemukan fosil primata seperti yang ditemukan tim Sanders. Pada saat itu, Brenda mengatakan, primata Sanders itu pernah hidup tidak lama sebelum kemunculan generasi kera Old World dan orangutan. Sayangnya, ada “kekosongan waktu” selama 5 juta-10 juta tahun dari generasi primata Sanders dengan kera Old World dan orangutan yang belum bisa dijelaskan ketika itu. Kini potongan puzzle transisi evolusi sudah ditemukan.

Antropolog David Begun dari University of Toronto juga menilai, masih perlu penelitian lebih jauh tentang temuan fosil itu, bisa dengan menggunakan analisis melalui DNA fosil.


Belum jelas

Selama ini kalangan peneliti menyimpulkan, manusia dan orangutan memiliki nenek moyang yang sama dengan kera Old World. Namun, tidak pernah jelas kapan sebenarnya kedua kelompok itu memisahkan diri dari kera Old World. Tidak jelas pula apa yang menyebabkan evolusi orangutan dan manusia karena tidak pernah ada informasi kondisi lingkungan pada saat itu. Karena itu, hasil temuan ini setidaknya memberikan secercah cahaya.

“Andai saja kita punya gambaran lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi pada ekologi, iklim, dan komposisi mamalia yang ada pada waktu itu, mungkin akan bisa tahu persis proses evolusinya,” kata Sanders.

Sanders menduga pada 24 dan 29 juta tahun yang lalu mulai terjadi perubahan suhu, permukaan laut, dan iklim seiring dengan meluasnya Laut Merah. Aneka ragam binatang berdatangan dari daratan Eropa dan Asia Selatan.

“Kini kami akan konsentrasi melihat faktor-faktor ini untuk memahami proses evolusi yang mengarah pada munculnya kelompoknya seperti kita,” ujarnya.

Zalmout juga akan mencari potongan tengkorak fosil primata tersebut untuk mendapat gambaran lebih jelas tentang primata nenek moyang kera dan orangutan itu, terutama untuk mempelajari cara hidupnya di lingkungan mangrove. “Kapan sebenarnya primata ini mulai turun dari pohon dan berjalan di tanah dengan tegak serta apa yang mereka makan pada zaman tersebut,” ungkapnya. (Nature News/BBC/dan dari berbagai sumber)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: