Oleh: hurahura | 3 Agustus 2011

Riwayat Olimo

Iklan Olimo dalam media cetak lama (Koleksi: Candrian Attahiyyat)

Warta Kota, Selasa, 2 Agustus 2011 – Bila naik bis Transjakarta dari atau menuju halte Jakarta Kota, nama halte Olimo selalu disebut. Letaknya tak jauh dari kawasan Glodok atau Mangga Besar. Sejak lama memang nama Olimo sudah populer di telinga masyarakat. Sopir-sopir angkutan umum pasti mengenal nama ini. Olimo, bagaimana riwayatnya?

Nama Olimo berasal dari nama perusahaan Belanda NV Olimo yang berdiri pada 1914. Perusahaan ini bergerak di bidang otomotif, antara lain mengimpor aksesori, suku cadang, minyak pelumas, cat, dan vernis. Dalam iklan-iklan media cetak tahun 1940-an, nama NV Olimo masih populer. Kantor pusat perusahaan ini beralamat di 121 Molenvliet Oost. Sementara kantor cabangnya yang lumayan besar terdapat di Bandung, Surabaya, dan Medan.

Kala itu nama Olimo hampir selalu dihubungkan dengan kalangan berduit. Mungkin bisa dimaklumi karena hanya orang-orang kaya yang mampu memiliki motor dan mobil. Lokasi Olimo di sisi Sungai Ciliwung yang ramai, menjadikan namanya tidak lepas dari ingatan. Kini lokasi NV Olimo berada di belokan Jalan Hayam Wuruk ke arah Jalan Mangga Besar.

Pesatnya perdagangan menjadikan Olimo semakin memudar peranannya. Pada tahun 1970-an sempat berubah menjadi PT Olimo, namun akhirnya tidak bisa menghindar dari ketatnya persaingan bisnis. Akhirnya pada 1990-an gedung Olimo dibongkar, berganti menjadi gedung bank. Hanya namanya tetap melegenda, mungkin tetap bertahan sepanjang masa.

Berbagai usaha atau kantor kemudian banyak memakai nama Olimo. Yang lumayan terkenal adalah Bubur Olimo. Rumah makan ini menjual bubur ayam. Keberadaannya di kawasan itu termasuk langgeng karena mampu bertahan hingga kini. Bubur Olimo yang semula dikenal sebagai bubur hostes, berdiri sejak 1950-an. Saat ini ditangani oleh generasi ketiga.

Disebut bubur hostes karena ketika itu (tahun 1970-an), bisnis hiburan malam termasuk night club dan kasino, marak di Jakarta. Pengunjung night club dan kasino sering makan bubur ayam ditemani para hostes (pramuria). Karena citra hostes kurang bagus namun populer, jadilah nama itu yang dipakai. Selain rumah makan, beberapa perusahaan juga memakai nama Olimo, di antaranya biro jasa, perumahan, dan kantor pengacara. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: