Oleh: hurahura | 13 Agustus 2012

Gunung Padang: Punden Mimpi Berundak-undak (Bagian 1)

Koran Tempo, Jumat, 3 Agustus 2012 – Dalam sebuah diskusi di Pusat Arkeologi Nasional Jakarta pada 29 Maret 2012, di hadapan sejum- lah arkeolog nasional. Tim Terpadu Riset Mandiri: Gunung Padang mempresentasikan adanya dugaan akan “sebuah ruang kosong” di bawah situs punden berundak megalitik Gunung Padang yang dimaknai sebagai “bangunan” pada sebuah diskusi di Pusat Arkeologi Nasional Jakarta, 29 Maret 2012, di hadapan sejumlah arkeolog nasional. Lebih jauh, hasil pemindaian geo-listrik dan geo-radar dalam presentasi itu juga katanya memperlihatkan “pintu besar di bawah tanah yang tingginya belasan hingga puluhan meter”, bahkan terdapat “ruangan yang mampu menam- pung ribuan orang”.

Baru-baru ini semua asumsi itu diuji dengan pengeboran pengambilan sampel di lapangan. Pada Minggu (29 Juli) siang, hasil pengambilan sampel itu dibeberkan melalui talkshow di televisi swasta tanpa narasumber penyanggah. Pengujian sam- pel itu dikatakan telah sampai pada fakta pembuktian adanya ruang berongga “yang diisi oleh pasir” di bawah Gunung Padang. Mengutip kesimpulan sementara Tim yang beredar akhir 28 Juni,“Situs Gunung Padang bukan hasil buatan masyarakat purba yang masih primitif, tapi merupa- kan hasil peradaban tinggi atau merupa- kan bukti nyata Mahakarya Arsitektur dari zaman pra-sejarah Nusantara.” Tulisan ini ingin menguji sejumlah asumsi yang diajukan Tim.

Pertama, tentang imaji akan ruang bawah tanah yang diperoleh dari tampilan dua dimensi multiwarna yang memperli- hatkan perbedaan struktur batu di bawah bangunan megalitik. Tim meyakini bahwa pola-pola yang muncul tersebut adalah hasil buatan manusia.

Perlu kita pahami bersama, data pemin- daian bukanlah fakta. Data pemindaian adalah informasi yang diterjemahkan secara digital dengan tingkat probabilitas tinggi. Dengan memainkan frekuensi alat geo-radar yang dipakai, pola yang berbeda bisa dihasilkan bergantung pada penetrasi gelombang radio yang diarah- kan ke dalam tanah. Alat ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan sehingga pola yang muncul pun dapat disesuaikan. Dengan demikian, ia belum menjawab sebagai buatan alam dan buatan manusia. Dibutuhkan fakta yang kuat untuk membuktikannya di lapangan. Mungkin hal ini yang hendak dikerjakan saat Tim gencar mengusulkan pengeboran untuk menge- tahui susunan batuan di bawah bangunan megalitik tersebut.

Para geolog memang piawai melaku- kan pendugaan horizon-horizon geologis dengan ketebalan tanah ratusan meter serta layering yang tidak kasatmata. Cara kerja mereka memang berbeda dengan kerja arkeolog yang mengamati layering peradaban dalam ukuran senti atau meter saja. Bahkan untuk kejadian dalam rentang ratusan tahun, lapisan- nya bisa kurang dari 10 cm tebalnya. Jadi, agak mengejutkan bila kemudian muncul geolog yang tiba-tiba bicara tentang adanya bangunan 100 meter di bawah tanah, karena proses budaya yang menghasilkan “bangunan” itu tidak tampak pada lapisan-lapisan tanah di atasnya, bahkan di sekeliling perbukitan Gunung Padang.

Kedua, mari ikut berasumsi ruang bawah tanah yang menampung ribuan orang itu ada. Di manakah saluran udaranya? Pengunjung bangunan purba ini tentunya akan mati lemas kehabisan oksigen bila tidak ada saluran udara ke dalam bangunan.

Untuk pengetahuan bersama, candi- candi di Nusantara tak memiliki ruang bawah tanah. Candi Borobudur dibangun di atas bukit dari batu-batu besar yang dipahat dan dipindahkan ke lokasi. Ini bangunan bergaya India setelah berak- hirnya masa prasejarah. Memasuki abad ke-15 ketika pengaruh Hindu-Buddha mulai pudar di Jawa, muncul kembali bangunan-bangunan berundak mirip punden Gunung Padang di Jawa Timur. Misalnya di Gunung Penanggungan dekat Kota Mojokerto. Terdapat puluhan punden berundak di gunung ini, tetapi tak satu pun yang memiliki rongga di bagian bawahnya. Seluruh aktivitas persem- bahyangan dilakukan di atas tanah seperti terlihat dari serakan pecahan wadah- wadah kuno di sekitarnya.

Contoh bangunan prasejarah yang memiliki ruang di bawah tanah memang pernah ditemukan, bentuknya bukan punden melainkan dolmen. Struktur ini tersebar di Nusantara. Ruang itu dipakai untuk menyimpan jenazah dan benda- benda kubur. Dolmen di daerah Lahat, misalnya, ada yang punya dua ruang. Luasnya cukup untuk dua orang saja.

Ketiga, untuk membuat sebuah bangun- an berukuran besar tentu membutuhkan ribuan pekerja. Siapakah yang menye- diakan kalori yang besar guna membuat bangunan itu? Kalau dugaan Tim benar, maka bangunan besar di bawah tanah Gunung Padang itu harus diartikan seba- gai “mahakarya arsitektur” masyarakat yang kompleks dengan sistem birokrasi mapan. Sistem inilah yang menggerakkan sumber daya manusia, pangan, alat, dan biaya untuk mengerjakan mega project pada zaman itu.

Kelas pemimpinnya bukan lagi tingkat kepala suku melainkan sudah raja. Ia menjalankan sistem aristo- krasi yang efektif untuk menggerakkan banyak sumber daya. Kelompok spesialis sudah muncul pada masa itu. Ada arsitek perancang, ada insinyur pembangun. Petani menghasilkan pangan, tukang kayu membuat perabot, dan tukang batu yang bekerja hilir-mudik. Dapur umum menyediakan makanan untuk pekerja. Studi antropologi mengisyaratkan bahwa, untuk menjaga momentum pekerjaan berskala besar, perintah perlu diteruskan ke bawah secara tertulis, tidak mungkin lagi mengandalkan daya ingat.

Sebaliknya, para peneliti perbandingan kebudayaan prasejarah di Asia Tenggara umumnya sepakat bahwa pendiri bangun- an megalitik adalah kelompok sosial yang disebut chiefdom, yaitu kelompok di bawah pimpinan tokoh yang mengendali- kan birokrasi dari kerabat genealogisnya. Untuk menguatkan posisinya, seorang chief akan beraliansi dengan kepala- kepala marga (clan) sehingga mampu menggerakkan sumber daya menjalankan ritual-ritual yang bersifat sentralistik. Akan tetapi produksi pangan biasanya diperuntukkan bagi anggota marga saja, tidak didistribusikan atau dihimpun di satu tempat. Sebab chief pun sebenarnya hidup dalam marga. Sebagian masyarakat Nias dan Sumatera, Toraja di Sulawesi, atau Ngada di Nusa Tenggara Timur ada- lah turunan dari kelompok ini. Soal budaya menulis, sejauh ini belum pernah ada bukti masyarakat prasejarah Indonesia sudah mengenal tulisan.

Ketidaksinambungan antara data artefak, fosil manusia, dan “peradaban tinggi yang punah” ini adalah permasalahan mendasar yang perlu Tim pecahkan sebelum melakukan pengeboran. Masalah ini tak bisa terkuak bila modal utamanya adalah hasil pemindaian geo-radar. (Junus Satrio Atmodjo, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia)

Iklan

Responses

  1. […] * Gunung Padang: Punden Mimpi Berundak-undak (Bagian 1): Koran Tempo, Jumat, 3 Agustus 2012, silahkan buka link ini : https://hurahura.wordpress.com/2012/08/13/gunung-padang-punden-mimpi-berundak-undak-bagian-1/ […]

  2. […] * Gunung Padang: Punden Mimpi Berundak-undak (Bagian 1): Koran Tempo, Jumat, 3 Agustus 2012, silahkan buka link ini : https://hurahura.wordpress.com/2012/08/13/gunung-padang-punden-mimpi-berundak-undak-bagian-1/ […]

  3. […] * Gunung Padang: Punden Mimpi Berundak-undak (Bagian 1): Koran Tempo, Jumat, 3 Agustus 2012, silahkan buka link ini : https://hurahura.wordpress.com/2012/08/13/gunung-padang-punden-mimpi-berundak-undak-bagian-1/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: