Oleh: hurahura | 20 Juli 2010

Arkeologi Papua Butuh Kemasan

JAYAPURA, KOMPAS.com–Peninggalan arkeologi yang tersebar hampir di seluruh wilayah Papua membutuhkan pengemasan dengan memberikan makna pada benda-benda bernilai sejarah tersebut.

Hal itu disampaikan Peneliti Balai Arkeologi Jayapura, Klementin Fairyo, di Jayapura, Senin, menyikapi berbagai benda cagar budaya di Papua yang sejauh ini belum dikemas secara menarik sebagai aset wisata yang bernilai ekonomis.

Dia mengatakan, benda cagar budaya merupakan benda yang tidak dapat “berbicara apa-apa” sehingga tidak memberi daya tarik apa pun bagi para wisatawan. “Benda cagar budaya baru dapat berdaya guna tinggi bagi pariwisata apabila dikemas dengan baik,” ujar Klementin.

Dia mencontohkan, pengemasan benda cagar budaya dapat dilakukan dengan menyediakan informasi yang cukup tentang lokasi peninggalan arkeologi dalam bentuk peta atau papan nama penunjuk jalan sehingga memudahkan masyarakat untuk berkunjung ke tempat tersebut.

Selain itu, lanjut dia, pengemasan benda cagar budaya juga dapat dilakukan dengan memberi makna pada benda tersebut dalam bentuk kisah yang menarik dan misterius.

“Untuk menjelaskan hal ini dibutuhkan pemandu yang harus bisa membawa para wisatawan ke zaman dahulu untuk menyelami peristiwa yang terjadi pada saat itu,” katanya.

Menurut Klementin, jika peninggalan arkeologi di Papua yang bernilai tinggi ini dapat dikemas secara menarik dan penuh pesona, maka bisa memiliki daya tarik bagi wisatawan sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah melalui sektor pariwisata.

Peninggalan arkeologi di Pulau Papua dimulai dari pembabakan prasejarah dari masa mesolitikum atau zaman batu tengah yakni periode di mana berburu dan meramu makanan tingkat lanjut menjadi aktivitas manusia saat itu, katanya.

Peninggalan arkeologi dari zaman ini di antaranya adalah Gua Dudumunir di Pulau Araguni, Fakfak, Papua Barat. Di tempat tersebut ditemukan artefak berupa alat-alat serpih bercampur pecahan-pecahan tembikar, alat penggaruk dan mata panah.

Ia mengemukakan, peninggalan dari zaman yang sama juga ditemukan dalam bentuk lukisan pada dinding gua dan bebatuan seperti di Bukit Tutari, Distrik Doyo Lama, Kabupaten Jayapura.

Sementara itu peninggalan arkeologi abad XV-XVI berupa makam Islam yang terletak di Kepulauan Raja Ampat, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Papua Barat.

Adapun arkeologi zaman kolonial juga banyak ditemukan, karena sejumlah daerah di Papua pernah menjadi markas pasukan sekutu melawan Jepang saat Perang Dunia II sekitar 1940 – 1945.

Salah satunya adalah situs Monumen MacArthur yang terdapat di Ifar Gunung, Kabupaten Jayapura dimana pernah menjadi markas besar Jenderal Douglas MacArthur, Panglima Perang Pasukan Sekutu untuk wilayah Pasifik.

Selain itu di Kabupaten Biak Numfor juga banyak ditemukan gua-gua Jepang yang dulunya digunakan pasukan Jepang untuk bersembunyi dari serangan sekutu, katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori