Oleh: hurahura | 19 Juli 2011

Metode Baru Penanggalan Prasasti Tugu

Djulianto Susantio, ARKEOLOG UNIVERSITAS INDONESIA

Prasasti Tugu di Museum Nasional

Koran Tempo, Selasa, 19 Juli 2011 – Pada 1878, di kampung Tugu (Cilincing), yang kala itu masih menjadi bagian dari wilayah Bekasi (Jawa Barat), ditemukan sebuah prasasti batu yang kemudian dinamakan prasasti Tugu. Selama bertahun-tahun prasasti Tugu dikeramatkan penduduk sekitar. Prasasti yang semula terpendam, muncul sedikit demi sedikit ke permukaan, konon dengan bantuan makhluk gaib. Penduduk percaya bahwa batu itu telah tumbuh, sehingga lokasi keberadaan prasasti tersebut dinamai Kampung Batutumbuh. Agar aman dari tangan-tangan jahil manusia, pada 1911, Prasasti Tugu dipindahkan ke Museum Nasional.

Pertama kali Prasasti Tugu dibaca dan diterjemahkan oleh peneliti dari Belanda, H. Kern. Prasasti tersebut terbuat dari batu monolit besar dan berbentuk bulat lonjong seperti telur, dipastikan berasal dari Kerajaan Tarumanagara. Aksara yang digunakan adalah Pallawa, disusun dalam bentuk seloka berbahasa Sansekerta dengan metrum anustubh yang terdiri atas lima baris melingkar mengikuti bentuk permukaan batu. Berdasarkan analisis gaya dan bentuk aksara, dibandingkan dengan Prasasti Cidanghiang, prasasti itu diduga berasal dari pertengahan abad ke-5.

Terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut: “Dulu, atas perintah Rajadiraja Paduka Yang Mulia Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Candrabhaga setelah sungai itu melampaui ibu kota yang masyhur dan sebelum masuk ke laut.

Penggalian itu dimulai pada hari kedelapan bulan genap bulan Phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan Caitra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja, leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi“.

Prasasti Tugu begitu istimewa. Pertama, karena satu-satunya prasasti yang ditemukan di wilayah DKI Jakarta (pada 1970-an, Cilincing masuk wilayah DKI Jakarta). Kawasan Jakarta selama ini langka akan peninggalan dari masa Hindu-Buddha. Kedua, Prasasti Tugu merupakan prasasti pertama di Indonesia yang menyebutkan unsur penanggalan, meskipun tidak lengkap.


Astronomi Kuno

Semula banyak peneliti sejarah kuno Indonesia menyangka bahwa Prasasti Tugu memuat unsur penanggalan yang kurang lengkap sehingga tarikh prasasti itu tidak diketahui dengan pasti. Namun, dari hasil analisis bertahun-tahun oleh ahli epigrafi Museum Nasional, Trigangga, diketahui bahwa Prasasti Tugu mengikuti tren penulisan unsur-unsur penanggalan yang berlaku pada masa itu, yakni memakai “Tahun Pemerintahan Raja“. Cara seperti ini banyak digunakan untuk penulisan prasasti di India.

Trigangga, Epigraf di Museum Nasional

Menurut Trigangga, yang juga mempelajari astronomi Jawa kuno, sebenarnya Prasasti Tugu memuat unsur penanggalan yang cukup lengkap walau masih tersamar, yaitu “Tahun pemerintahan yang ke-22 dari Raja Purnawarman, tanggal (hari lunar) 8 Kresnapaksa bulan Phalguna, dan 13 Suklapaksa bulan Caitra“.

Untuk menganalisis penanggalan yang masih samar itu, pertama kali Trigangga mencari letak geografis prasasti tersebut. Hasilnya, titik koordinatnya adalah 6º 7′ 30“ Lintang Selatan dan 106º 55′ 25“ Bujur Timur, tingginya 5 meter dari permukaan laut.

Setelah itu, Trigangga mencoba mengetahui kapan prasasti tersebut dikeluarkan berdasarkan waktu selesainya saluran digali. Dalam prasasti dikatakan bahwa pekerjaan penggalian saluran selesai pada tanggal 13 Caitra, yaitu 13 hari setelah Tahun Baru Saka berjalan.

Dengan cara menyelaraskan tanggal atau bulan lunar dengan tanggal atau bulan solar didapatkan titik temu keduanya, yaitu merujuk pada 22 Maret 403 Masehi atau 13 Caitra 325 Saka. Adapun tanggal dimulainya penggalian Sungai Gomati adalah 2 Maret 403 Masehi atau 23 Phalguna 324 Saka. Sangat klop jika dikatakan pekerjaan penggalian dapat diselesaikan dalam tempo 21 hari.

Analisis astronomi kuno juga dapat mengetahui bahwa Raja Purnawarman memerintah di Kerajaan Tarumanagara, mengingat dalam Prasasti Tugu disebutkan, “Pada tahun ke-22 dari masa pemerintahan“ dimulailah pekerjaan penggalian Sungai Gomati. Maka Raja Purnawarman naik takhta pada 381 Masehi atau 303 Saka.

Jika saja analisis Trigangga ini dapat diterima, berbagai tabir sejarah kuno Indonesia akan terkuak. Tidak hanya merujuk pada abad, tapi juga lengkap dengan hari. Metode ini perlu diuji coba pada sejumlah prasasti yang belum ada tarikhnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: