Oleh: hurahura | 19 Agustus 2011

Masjid Istiqlal Dirancang Seorang Protestan

Masjid Istiqlal, arsiteknya seorang Protestan. Bukti toleransi beragama di Indonesia. Foto: id.wikipedia.org

Warta Kota, Kamis, 18 Agustus 2011 – Tentu Anda pernah mendengar nama Masjid Istiqlal, bukan? Masjid ini terletak di dekat kantor Presiden RI, juga berjarak sekitar dua ratus meter dari Lapangan Banteng. Jika ada peristiwa-peristiwa penting keagamaan, Presiden RI bersama sejumlah petinggi negara lain dan duta besar negara sahabat, selalu hadir di sini.

Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1978. Kini Istiqlal, yang berarti ’merdeka’, menjadi masjid nasional sekaligus masjid terbesar di Tanah Air, bahkan masjid terbesar di Asia Tenggara. Dengan luas bangunan sekitar empat hektar dan luas tanah sembilan hektar, kompleks Istiqlal mampu menampung hingga 70 ribu orang sekaligus pada waktu bersamaan. Selain memiliki bangunan induk dan kubah, Istiqlal dilengkapi dengan emper penghubung, teras raksasa dan menara, halaman, taman, air mancur, serta ruang wudhu yang luas.

Masjid Istiqlal dibangun selama 17 tahun, dimulai pada 24 Agustus 1961, ditandai peletakan batu pertama oleh Presiden Soekarno. Rencana pembangunan Istiqlal sendiri muncul pada 1950. Saat itu Menteri Agama, KH Wachid Hasyim, melansir gagasan membangun sebuah masjid yang berskala nasional dan mencerminkan jati diri Indonesia. Bersama Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan, mereka membentuk Yayasan Mesjid Istiqlal.

Pada 1954 Presiden Soekarno menyetujui gagasan tersebut. Diputuskan bahwa arsitektur masjid disayembarakan secara terbuka. Presiden Soekarno sendiri yang menjadi Ketua Dewan Juri, dibantu Ir Rooseno, HAMKA, dan Oemar Husein Amin. Pada 5 Juli 1955 panitia sayembara mengumumkan desain berjudul “Ketuhanan” sebagai pemenang. Perancangnya adalah Frederich Silaban, seorang arsitek yang kelak disebut Soekarno sebagai “By the Grace of God”.

Jatuhnya pilihan pada rancangan tersebut, tentu bukan suatu kebetulan. Ada dua koinsidensi yang menarik di sini. Pertama, Silaban merupakan seorang penganut Protestan yang taat. Kedua, posisi Istiqlal berhadapan dengan Gereja Katedral di sebelah selatan.

Dua koinsidensi yang muncul di balik pembangunan Istiqlal, menunjukkan bagaimana konsep toleransi beragama dikembangkan begitu halus dan sistemik. Tradisi toleransi beragama seperti ini harus menjadi salah satu penanda jati diri nasional. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: