Oleh: hurahura | 29 Mei 2014

Nisan Beraksara Tiongkok Kuno di Bandaneira

Nisan-01Nisan beraksara Tiongkok kuno dari masa akhir abad ke-17

Dalam sejarah Indonesia, Bandaneira dikenal sebagai tempat pembuangan pejuang kemerdekaan. Moh. Hatta (kelak menjadi Wakil Presiden RI) dan Sutan Sjahrir (kelak menjadi Perdana Menteri RI), pernah diasingkan pada 1936-1942. Sebelumnya Tjipto Mangunkusumo (1928) dan Iwa Kusumasumantri (1930) dihukum buang di sini.

Jejak Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir masih bisa disaksikan karena rumah tempat mereka berdua diasingkan itu tetap dilestarikan. Rumah tersebut masih dilengkapi benda-benda yang digunakan kedua tokoh, seperti pakaian, mesin tik, dan perlengkapan rumah tangga.

Tidak jauh dari sini terdapat Istana Mini yang pada abad ke-18 dijadikan tempat tinggal dan kantor Gubernur VOC. Gedung ini berukuran cukup besar. Sejumlah lembaran sejarah masih tersisa, seperti lubang bekas tembakan meriam dan surat seorang tentara Portugis sebelum mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di gedung tersebut. Karena tidak ada alat tulis, surat tentara Portugis itu diguratkan pada kaca jendela menggunakan cincin yang dipakainya.


Pala, Fuli, dan Benteng

Kepulauan Banda di Provinsi Maluku terdiri atas sepuluh pulau vulkanis, antara lain Lontor, Gunung Api, Neira, Ay, dan Pisang. Kota terbesarnya adalah Bandaneira atau Bandanaira, terletak di pulau dengan nama yang sama.

Dalam naskah kuno Nagarakretagama dari masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14), Kepulauan Banda dikenal dengan nama Wanda. Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang singgah di Banda untuk membeli rempah-rempah pada 1512.

Neira bisa dicapai dari Ambon dengan pesawat terbang atau kapal laut. Dulu Bandaneira merupakan pusat perdagangan. Hingga pertengahan abad ke-19 Kepulauan Banda merupakan satu-satunya sumber rempah-rempah berupa pala dan fuli (selaput tipis bagian tengah buah pala). Saat itu pala dan fuli merupakan komoditi paling banyak dicari di Kepulauan Banda.

Karena rempah-rempah pula banyak terjadi pembantaian penduduk lokal di Bandaneira oleh VOC. Bahkan, mereka membawa sebagian penduduk Bandaneira ke Batavia untuk dijadikan budak. Saat ini nama Kampung Bandan di Jakarta masih populer di masyarakat.

Setelah Portugis, selanjutnya Belanda mengembangkan Bandaneira sebagai kota yang bergaya Eropa. Perebutan monopoli rempah-rempah sering terjadi di Bandaneira. Maka, peperangan pun kerap terjadi antara bangsa asing untuk menguasai perdagangan rempah-rempah.

Akibatnya kini di Kepulauan Banda banyak terdapat benteng pertahanan, antara lain Benteng Belgica. Awalnya benteng ini dibangun oleh Portugis pada 1602-1611. Setelah dihancurkan, di lokasi benteng Portugis tersebut dibangun kembali sebuah benteng oleh VOC Belanda atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both pada 1611.

Saat ini kondisi benteng sudah bagus karena pernah dipugar. Benteng Belgica telah dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995. Karena waktu itu berperan sebagai wilayah penting, maka di Neira juga terdapat Benteng Nassau. Benteng ini pertama kali dibangun oleh Portugis pada 1529.


Nisan Kuno

Pada 27 Nopember-2 Desember 2013 Neira dan tiga pulau di sekitarnya menjadi ajang studi banding kegiatan “Field Study for Conservation” yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Yang mengejutkan, beberapa arkeolog menjumpai beberapa nisan kuno beraksara Tiongkok kuno beserta ornamennya tergeletak di pinggir jalan.

Beberapa warga, menjadikan nisan-nisan tersebut sebagai jembatan, untuk menghubungkan jalan dengan halaman rumah mereka. Menurut bacaan arkeolog yang juga sinolog, Eddy Prabowo Witanto, salah satu nisan berasal dari masa kekaisaran Qianlong (1735-1796). Yang meninggal marga Chen (Indonesia: Tan), berasal dari kota/desa Baishi. Ia meninggal di pertengahan musim semi 1775.

Mengingat pentingnya nisan tersebut, apalagi setiap hari diinjak-injak warga, semestinya ada upaya penyelamatan. Ini merupakan bukti sangat tua terbentuknya komunitas Tionghoa setempat.

Menurut Eddy, pada tahun-tahun itu jalur Banda sudah ramai dengan para pedagang dari Tiongkok Selatan. Mereka menyusur lewat jalur Timur, yakni Kepulauan Filipina, Mindanao, Laut Sulu, lalu ke Halmahera, dan seterusnya. Selain rempah-rempah, mereka juga mencari teripang. Teripang dari Laut Banda dan juga Laut Timor sangat tinggi nilainya. Dibandingkan tempat lain di Nusantara, teripang dari kedua tempat itu sangat bagus kualitas dan ukurannya.

Bandaneira merupakan kawasan bersejarah. Harus ada upaya pelestarian di kawasan ini sesegera mungkin. Banyak bangunan bersejarah sebaiknya dipugar. Banyak meriam kuno seharusnya tidak teronggok di sudut jalan tapi dirawat di dalam museum.(Djulianto Susantio)


Galeri Foto

Nisan-02

Nisankuno-2

Nisankuno-3

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: