Oleh: hurahura | 5 Juli 2012

Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik di Batavia (1)

Warta Kota, Rabu, 4 Juli 2012 – Informasi tentang Nusantara umumnya ditulis oleh orang-orang Eropa. Beruntung ada catatan harian orang Jepang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, selanjutnya ke dalam Bahasa Indonesia. Buku itu berjudul Perdjalanan Menoedjoe Djawa karya Marquis Tokugawa (Penerbit ITB, 2006). Kehidupan sosial di Batavia ikut disinggung dalam buku itu.

Marquis adalah cucu dari Yoshichika Tokugawa. Pertama kali Yoshichika pergi ke luar negeri pada 1921. Ketika itu dia berumur 34 tahun. Di Batavia dia melihat secara langsung bagaimana orang-orang kulit putih menguasai pribumi dan memonopoli hak-hak mereka. Dia pun kagum dengan rencana pembangunan kota yang rapi dengan bangunan yang indah. Museum dan perguruan tinggi dibangun oleh para penjajah dengan memperhatikan lingkungan. Sebelumnya lingkungan di Batavia kurang tertata.

Untuk kedua kalinya pada 1929 Yoshichika mengunjungi Jawa. Ketika itu dia menjadi anggota delegasi pada Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik yang keempat. Yoshichika meninggalkan pelabuhan Kobe di Jepang dengan kapal Haruna-Maru. Di atas kapal ikut bergabung delegasi dari AS dan Portugal.

Setelah singgah di beberapa pelabuhan seperti Shanghai, Hongkong, dan Singapura, kapal merapat di Tandjoeng Priok. Menurut Yoshichika, pemandangan pelabuhan tidaklah beragam seperti di Singapura. Di pelabuhan Batavia itu tidak terdapat orang-orang dari berbagai bangsa. Yang terlihat hanyalah orang Jawa yang memakai kain di kepala (kopiah batik) bersama orang Jepang dan Belanda.

“Anggota-anggota komite Belanda memakai lencana kongres. Konsul Jendral Tuan Miyake dan orang-orang Jepang lainnya datang menyambut kami. Barangkali ini merupakan pertama kalinya sejumlah besar orang Jepang datang ke Batavia pada waktu yang bersamaan,” kata Yoshichika.

Dari pelabuhan, para delegasi masuk ke dalam mobil yang disediakan orang-orang Belanda. Mereka menempuh jarak enam mil menuju Weltevreden. Kemudian mereka memasuki Hotel Koningsplein di Koningsplein-Zuid (Jalan Medan Merdeka Selatan) No. 10. Sekarang di sebelah hotel tersebut digunakan sebagai Gedung Lemhanas. Tercatat sekitar 270 peserta kongres berkumpul di Batavia, 240 peserta berasal dari luar negeri, termasuk orang Jepang. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori