Oleh: hurahura | 7 Juni 2010

Museum Kian Tak Menarik Dilirik

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia boleh saja mencanangkan 2010 sebagai Tahun Kunjungan Museum.

Persoalannya: mampukah pemerintah meningkatkan minat masyarakat untuk mengunjungi tempat wisata bersejarah ini?

Vira (14) terlihat mengatur napasnya, sembari beristirahat di bawah pohon. Ia terengah-engah karena usai mengayuh sepeda ontel berkilo-kilo meter dari Museum Fatahillahdi daerah Jakarta Barat menuju ke Museum Bahari yang terletak di Jakarta Utara.

Remaja yang baru saja lulus dari kelas IX SMP Negeri 11, Tangerang Selatan, Banten ini mengaku senang melakukan perjalanan yang baru pertama kalinya ini ia lakukan bersama teman-temannya.

“Sebenarnya saya sudah pernah ke Museum Bahari, tetapi saat itu bersama orang tua dan langsung ke sini saja. Kalau sekarang, selain bersama teman, kami tidak hanya ke sini, tetapi juga singgah ke museum lainnya,” ujarnya saat ditemui SH di Museum Bahari, Sabtu (28/5).

Dalam wisatanya kali ini, ia dan teman-temannya mengikuti paket wisata kota tua yang dimulai di Museum Fatahillah. Dalam paket tersebut, wisatawan diajak mendatangi lima titik tempat wisata yang terdiri dari beberapa museum. Kelima titik itu meliputi Museum Fatahillah, Jembatan Kota Intan, Toko Merah, Museum Wayang, Menara Syah Bandar di Museum Bahari, dan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Menurutnya, paket wisata tersebut meskipun mengasyikkan namun tetap belum dirasakan sempurna. Pasalnya, tempat-tempat yang disinggahi benar-benar terlihat tua, karena tidak terawat sehingga tetap terasa kurang menarik untuk dinikmati.

Dia menambahkan, bila tidak ada paket wisata kota tua ini perjalanan ke museum tentu tidak menarik. “Daya tarik dari paket ini adalah naik sepeda ontel untuk menyusuri kota tua. Dan bila naik kendaraan sendiri, rasanya tidak akan semenarik ini,” tandasnya.

Pendapat lain diutarakan oleh Adelia (15), teman sekelas Vera yang ikut mencicipi paket wisata kota tua ini. Menurutnya, paket yang disiapkan oleh pengelola kota tua ini akan lebih menyenangkan bila museum-museum yang ada di kota tua juga di rawat.

Remaja yang baru pertama kali mendatangi museum ini memang menyoroti tentang infrastruktur menuju museum yang masih minim. Sebab, saat menyusuri kota tua menggunakan sepeda ia merasakan tidak mendapatkan jaminan keselamatan.

“Dalam menyusuri kota tua ini, tidak ada jalur khusus sepedanya sehingga kami harus ekstrahati-hati, sebab banyak sekali motor dan mobil yang lalu-lalang,” ujarnya. Selain itu, kondisi museum yang tidak terawat juga menjadi hal yang dikeluhkan olehnya.

Ia juga meminta agar museum di Jakarta dikelola lebih baik lagi. Sebab saat ini, dirinya merasakan bila museum sepi kegiatan. “Kami kan datang untuk berlibur, kalau cuma lihat-lihat barang antik tentu tidak menarik. Sebab kami bukan peminat barang antik,” ujarnya sambil tersenyum.

Oleh karena itu, ia sangat berharap bila museum-museum di Jakarta dapat dibuat lebih menarik sehingga memancing minat masyarakat khususnya kaum remaja. Ia mencontohkan, tidak ada salahnya bila museum dikemas seperti mal atau pusat perbelanjaan yang kerap membuat sebuah kegiatan yang menarik perhatian remaja.

Dengan begitu, masyarakat khususnya remaja tidak perlu dibujuk atau diarahkan untuk datang ke museum. Sebab dengan sendirinya masyarakat akan mendatangi museum bila membutuhkan hiburan. “Tetapi sekarang ini museum tidak lebih hanya tempat menyimpan barang tua,” imbuhnya.


Minim Pengunjung

Paket wisata kota tua memang cukup menarik untuk diikuti, harga yang ditawarkan untuk menikmati paket tersebut tidak terlampau mahal. Cukup dengan membayar Rp 30.000 kita sudah dapat mendatangi museum dan tempat wisata lainnya. Harga itu sudah termasuk membayar pemandu wisata dan menyewa sepeda selama dua jam.

Marham (36), seorang pemandu wisata kota tua, sekaligus pihak yang menyewakan sepeda ontel ini menjelaskan bahwa mereka tergabung dalam suatu paguyuban yang terdiri dari 36 orang anggota.

“Sebenarnya paket wisata kota tua ini sangat potensial untuk dikembangkan. Tapi sampai saat ini yang kami rasakan, kami ibarat anak tetapi tidak punya orang tua. Kami ingin menjadi pemandu wisata yang resmi dan diakui oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua,” katanya.

Kepala Museum Bahari Gathut Dwihastoro mengakui tentang minimnya minat masyarakat mengunjungi museum. Hal tersebut disebabkan tingkat kepedulian masyarakat terhadap sejarah bangsa tidak terlalu tinggi. “Masyarakat berpikir ke museum hanya untuk penelitian saja, padahal selain tempat belajar museum juga merupakan tempat berwisata,” ujar Gathut saat ditemui SH di ruang kerjanya, Sabtu (29/5).

Berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah pengunjung pada 2009 meningkat dibandingkan 2008. Pada 2009, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Museum Bahari mencapai 13.964 orang, meningkat dibandingkan kunjungan 2008 yang hanya 10.033 orang.

Guna membenahi museum yang telah berdiri sejak tahun 1619 ini, ia bermaksud membenahi infrastruktur menuju museum, serta tata pamer di museum tersebut. “Aksesibilitas menuju museum memang kurang terawat, untuk itu kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Jakarta Utara dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” tukasnya.

Selain itu, berkaitan tentang minimnya kegiatan yang diadakan oleh museum ia tidak menampiknya. Oleh sebab itu, ia membuka kesempatan kepada semua pihak untuk bekerja sama guna menyemarakkan museum. “Tapi kami ini lembaga nonprofit sehingga sangat tergantung dari anggaran pemerintah,” imbuhnya.

Selain membenahi museum baik secara fisik maupun kegiatannya, hal lain yang dapat dilakukan pengelola museum adalah merangkul komunitas-komunitas yang ada di masyarakat sehingga masyarakat tidak hanya mengenal museum sebagai tempat penyimpanan barang tua, tapi juga sebagai tempat berwisata. (cr-9)

(Sinar Harapan, Senin, 31 Mei 2010)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: