Oleh: hurahura | 16 Juni 2011

Dari Rumah Pribadi Menjadi Museum Tekstil

Warta Kota, Rabu, 15 Juni 2011 – Dampak dari perluasan kota Batavia ke arah Tanah Abang adalah menjamurnya pembangunan gedung. Tentu saja gedung-gedung tersebut disesuaikan dengan iklim tropis yang ada di Batavia. Misalnya dibuat serambi terbuka yang memungkinkan panas sinar matahari bisa masuk atau membuat semacam kere (tirai) di antara deretan tiang untuk melindungi serambi dari terik matahari.

Salah satu gedung tua tersebut terdapat di Jalan K.S. Tubun sekarang. Kini dikenal sebagai Museum Tekstil. Gedung Museum Tekstil pada awalnya adalah rumah pribadi seorang warga negara Perancis (abad ke-19). Kemudian dijual kepada seorang Konsul Turki, Abdul Azis Al Musawi Al Kathiri. Kepemilikan selanjutnya beralih kepada Karel Christian Crucq (1942). Sewaktu Jakarta sedang dibakar semangat juang merebut kemerdekaan, gedung ini digunakan sebagai markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Setelah masa revolusi selesai, gedung ini secara berturut-turut dihuni oleh Lie Sion Phin (1947), kemudian dibeli oleh Departemen Sosial (1952), dan akhirnya diserahkan kepada pemerintah daerah DKI Jakarta untuk dijadikan Museum Tekstil (1975).

Gagasan untuk mendirikan Museum Tekstil muncul pada 1975, dilatarbelakangi sinyalemen bahwa membanjirnya tekstil modern banyak menggeser tekstil tradisional Nusantara. Pemrakarsa gagasan tersebut adalah Kelompok Pecinta Kain Tradisional Indonesia Wastraprema, Ir. Safioen, yang saat itu menjabat Dirjen Tekstil Departemen Perindustrian. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mendukung upaya ini dan menyediakan tempat di Jalan KS Tubun No. 4 Petamburan, Jakarta Barat. Pada 28 Juni 1976 gedung itu diresmikan menjadi Museum Tekstil oleh Ibu Tien Soeharto.

Pada 1998 Pemda DKI Jakarta melakukan perluasan areal Museum Tekstil ke sebelah timur dan sekaligus menjadikan gedung tua di Jalan KS Tubun No. 2 tersebut sebagai sarana penunjang kegiatan museum. Tujuannya untuk menampung partisipasi masyarakat dalam pengembangan tekstil kontemporer. Gedung baru ini diberi nama Galeri Tekstil Kontemporer. Gedung II diresmikan penggunaannya pada 21 November 2000, ditandai dengan berlangsungnya kegiatan perdana berupa Pameran Koleksi Batik Iwan Tirta, hasil kerja sama Museum Tekstil dengan Wastraprema dan Yayasan Mitra Museum Indonesia.

Koleksi awal yang dihimpun Museum Tekstil diperoleh dari sumbangan Wastraprema (sekitar 500 koleksi), selanjutnya melalui pembelian oleh Dinas Museum dan Sejarah, yang kemudian berganti nama menjadi Dinas Museum dan Pemugaran, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, dan terakhir Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Sejumlah koleksi merupakan sumbangan dari masyarakat, baik secara individu maupun kelompok. Hingga saat ini koleksi Museum Tekstil tercatat lebih dari 1900 buah. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori