Oleh: hurahura | 6 April 2012

Berpindah Tangan, Lesu, dan Bangkrut (2 – Habis)

Warta Kota, Kamis, 5 April 2012 – Walter Woodbury kembali ke Inggris pada Januari 1863. Usahanya diteruskan oleh adiknya, Henry James Woodbury bersama James Page yang telah kembali dari Inggris. Pada 1 Januari 1863 nama studionya berubah menjadi “Woodbury & Page Atelier”. Mereka bekerja sama hingga 1864. Pada Agustus 1864, studio ini berpindah tangan kepada seorang Jerman, Carl Krüger. James Page sendiri kembali ke Inggris pada 1864, sementara Henry James Woodbury menyusulnya pada 1866.

Pada 1 Maret 1870, studio “Woodbury & Page” dibeli lagi oleh saudara lelaki Woodbury, yaitu Albert Woodbury (1840-1900). Di tangan Albert, studio ini berkembang pesat dan mencapai puncak keemasannya. Firma ini bukan saja melayani jasa fotografi di Batavia, tetapi juga seluruh pelosok Hindia Belanda. Di Jawa, cabang firma fotografi didirikan di Semarang dan Surabaya. Di luar Jawa, aktivitas mereka sampai Aceh dan Ambon.

Saat itu Hindia Belanda memang sedang dibanjiri para pengunjung dari Eropa. Hal ini dampak dari dibukanya terusan Suez pada 1869. Tidak heran Studio “Woodbury & Page” kebanjiran order. Puncak pencapaian “Woodbury & Page” adalah pada 1879 ketika mendapatkan penghargaan berupa gelar kebangsawanan dari Raja Belanda Willem III.

Sejak 1890 Studio “Woodbury & Page” mengalami kelesuan bisnis. Ketika itu banyak pesaing baru bermunculan, bahkan mereka memiliki teknologi kamera terbaru. Selain itu sejumlah toko mulai menjual kamera secara masal, sehingga jasa pemotretan berkurang drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Akhirnya firma ini bangkrut dan bubar pada 1908. Terakhir Woodbury menjual firma itu kepada Adolf Constantine Franz Groth sebesar 80.000 guilder.

Buat pencinta sejarah dan masa lalu, kehadiran “Woodbury & Page” dianggap telah berjasa karena mengabadikan bangunan-bangunan lama yang kini sudah tidak bisa dilihat generasi muda, misalnya saja Boekhandel G. Kolff & Co, Gedung Harmonie, dan Pecinan di Glodok. Saat ini foto-foto hasil jepretan mereka banyak tersimpan rapi di Belanda. Sebagian dari foto-foto itu bisa dilihat dalam buku Woodbury & Page, Photographers Java karya Steven Wachlin terbitan KITLV Press, Leiden, 1994. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori