Oleh: hurahura | 21 Juli 2013

Tragedi Paris 1931 dan Koleksi Museum Nasional

Kompas Siang, Sabtu, 20 Juli 2013 – Dari puluhan arca batu koleksi Museum Nasional, ada beberapa yang kelihatan agak ”aneh” bagi pemerhati masa lampau, terlebih arkeolog. ”Keanehan” yang mungkin buat masyarakat awam kurang kelihatan. Arca-arca itu berwarna agak kehitaman, padahal arca-arca lain berwarna cerah. Mengapa bisa terjadi demikian?

Cerita berawal dari Pameran Kolonial Internasional di Paris, Perancis, tahun 1931, di mana pemerintah kolonial Belanda menyertakan banyak benda budaya Nusantara, termasuk arca-arca batu. Para peserta pameran adalah sejumlah negara yang memiliki jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika. Naasnya, pada 28 Juni 1931 anjungan Belanda itu terbakar. Banyak benda arkeologi dan etnografi musnah dalam sekejap, hanya beberapa benda batu berhasil diselamatkan. Terkena asap pekat, arca-arca itu menjadi hitam. Sampai sekarang.


Propaganda

Tujuan utama Pameran Kolonial Internasional sebenarnya adalah untuk meningkatkan perdagangan dan perindustrian. Namun, tujuan implisitnya ternyata arena unjuk kekuatan bangsa-bangsa penjajah dalam mendominasi penduduk pribumi.

Anjungan Belanda berdiri di atas lahan seluas tiga hektar dan sangat mewah. Arsitektur bangunan dibuat dengan gaya berbeda-beda, antara lain berupa bangunan Minangkabau, pintu berukir Bali, dan masjid Jawa. Di situlah dipamerkan koleksi yang berasal dari Jawa dan Bali, seperti pedang, keris, pisau, dan tombak, semua terbuat dari emas. Koleksi lain berupa perhiasan (emas dan perak) dan mahkota bertakhtakan batu-batu berharga.

Ikonografi-06Arca-arca yang berwarna kehitaman

Berbagai patung unik dan eksotik ikut dipamerkan. Begitu pula koleksi tekstil, seperti batik Jawa, kain sulam Palembang, ulos Batak, dan tenun ikat Nusa Tenggara Timur. Tak ketinggalan berbagai lukisan, peta kuno, dan alat navigasi yang sangat langka.

Semua itu membuat anjungan Belanda memiliki daya tarik luar biasa sehingga menyedot banyak pengunjung. Berbagai pujian datang dari media dalam dan luar negeri. Satu-satunya pesaing adalah replika Angkor Wat dari Pemerintah Perancis (Nunus Supardi, 2011).

Namun, sampai kini penyebab kebakaran masih teka-teki. Menurut kepolisian Paris, kebakaran itu bukan disebabkan oleh kecerobohan atau kesengajaan, bukan juga karena sabotase atau hubungan pendek arus listrik, melainkan karena bahan bangunannya mudah terbakar.

Koran-koran Belanda melaporkan, benda- benda yang selamat dari kebakaran adalah meriam VOC dari Museum Rijks, Amsterdam, dan satu arca Buddha terbuat dari batu milik Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Inilah yang sekarang disebut sebagai Museum Nasional (Frances Gouda, 2007).


Asuransi

Sulit menaksir kerugian finansial dari kebakaran itu. Satu sumber mengatakan, Pemerintah Perancis pernah menawarkan uang ”kemurahan hati” sebesar tiga juta franc, tetapi ditolak. Menurut Gouda, Pemerintah Perancis sebagai penyelenggara pameran telah memberikan bantuan uang kepada teman sesama penjajah yang lumayan banyak.

Pihak asuransi juga telah memberikan santunan 459.152,88 gulden untuk kerugian bangunan dan 661.040,08 gulden untuk kerugian isi pameran. Pertanyaannya kemudian, apakah uang tersebut digunakan untuk membangun kembali anjungan yang terbakar ataukah untuk hal-hal lain?

Menurut Amir Sutaarga sebagaimana dikutip Nunus Supardi, uang asuransi digunakan untuk membangun lantai dua Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen alias Museum Nasional. Adolf Heuken mengutip tulisan A Rosi mengatakan, ”Dengan uang asuransi itu dibangun Ruang Pameran Keramik Kuno dan Ruang Perunggu”. Lantai dua Museum Nasional juga dikenal sebagai Ruang Khazanah atau Ruang Emas.

Asuransi-01Bangunan di lantai 2, mungkin dibangun dari uang asuransi (Foto-foto: Djulianto Susantio)

Sayang belum ada sumber yang secara detail menyebutkan koleksi-koleksi apa saja yang musnah terbakar. Hanya secara samar-samar Kepala Dinas Purbakala waktu itu FDK Bosch sangat kecewa dengan musnahnya contoh-contoh terbaik dari khazanah kepurbakalaan Indonesia, seperti arca emas, perunggu, dan batu beserta benda purbakala lainnya (Soekmono, 1977). Tidak ada catatan nama, jenis, bentuk, dan gambar benda budaya yang terbakar.

Menurut penelusuran Nunus Supardi, berdasarkan tulisan Bosch dan Le Roux di Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG) 1931, diketahui paling sedikit ada 48 benda yang terbakar, berupa benda batu, emas, perak, perunggu, dan kayu berikut dengan nama, asal, foto, dan latar sejarahnya. Termasuk di dalamnya adalah wayang kulit, wayang golek, angklung, pedang emas, gamelan, dan lukisan. Benda-benda itu ada yang masuk ke dalam daftar katalog dan ada beberapa lainnya tak memiliki nomor katalog.

DJULIANTO SUSANTIO
Arkeolog

Iklan

Responses

  1. pa, mohon infonya tentang keris yg tertancap di stupa borobudur yg ditemukan saat pertama borobudur mulai digali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: