Oleh: hurahura | 20 Maret 2010

Pahatan Kalpataru di Candi Prambanan

Oleh DJULIANTO SUSANTIO

Agaknya kita tidak boleh mengesampingkan peran Candi Prambanan dalam konteks lingkungan hidup. Kalau Borobudur merupakan candi Buddha terbesar, Prambanan adalah candi Hindu terbesar. Di mata pakar sejarah kesenian, nama Prambanan selalu mendapat perhatian utama karena memiliki arca-arca yang indah pahatannya dan relief-relief yang bagus ukirannya.

Seniman-seniman Prambanan sudah memiliki keterampilan tinggi. Tidak heran bila seni hias dan pola hias di Prambanan begitu diagung-agungkan oleh para peneliti masa kini.

Munculnya istilah “motif Prambanan”, untuk mengukur perbandingan dengan motif sejenis pada candi-candi di Jawa dan luar Jawa, tentu menyiratkan bahwa Prambanan memang pantas menjadi acuan bagi candi-candi lain.

Pahatan “motif Prambanan” itu terletak di antara bingkai bawah dan bingkai atas pada langkan bagian luar kaki candi. “Motif Prambanan” sangat istimewa karena tidak ada duanya pada candi-candi lain di Indonesia. Yang dianggap fenomenal adalah pahatan dua pohon kalpataru (pohon hayat atau pohon kehidupan) sedang mengapit seekor singa yang sedang duduk. Relief kalpataru inilah yang memberi inspirasi kepada segelintir orang untuk menjadikannya sebagai lambang hari lingkungan hidup pada masa sekarang.

Seperti halnya Borobudur, bisa dipastikan Prambanan juga didirikan oleh kerajaan besar kala itu. Sebagai bangunan sakral, tentu Candi Prambanan tidak dikerjakan oleh sembarang orang.

Seniman yang membuat amat dituntut memiliki pengetahuan agama yang luas dan sastra yang mendalam. Keterampilan itu bisa kita saksikan sekarang dalam relief cerita Ramayana dan Kresnayana di dinding candi.

Karena cerita Ramayana sudah demikian populer, pada setiap bulan purnama pengelola Candi Prambanan menyelenggarakan pergelaran sendratari Ramayana pada panggung terbuka di sana. Tujuannya adalah untuk menjaring wisatawan sebanyak mungkin.

Namun di balik kebanggaan, ada pula kesedihan. Ini karena sejumlah bingkai yang berisi relief cerita telah lenyap dari tempat aslinya. Bisa dipastikan, pelakunya adalah para maling atau orang tidak bertanggung jawab demi motif uang. Kini yang tampak adalah batu-batu polos, sekadar untuk mengganjal batu di atasnya saja. Arca-arcanya juga ada yang tidak berkepala lagi karena sering dipenggali pemburu barang antik atau orang suruhannya.

Hindia Belanda

Merunut sejarah Prambanan, agaknya kemegahan candi itu tidak lepas dari bergantinya pemerintahan, yaitu dari Hindia Belanda ke tangan Jepang pada 1942. Hal ini juga dianggap membawa perubahan besar pada dunia arkeologi Indonesia.

Karena kantor pusat Dinas Purbakala di Jakarta ditutup, kantor cabang di Prambanan, Yogyakarta, diserahi tugas menggantikannya. Kantor di Prambanan inilah yang sehari-harinya mengurusi candi-candi di Jawa dan berbagai bangunan purbakala lainnya.

Dulu, kantor Dinas Purbakala itu terletak persis di halaman Candi Prambanan. Imbasnya tentu saja menguntungkan Candi Prambanan itu sendiri. Sebelum zaman Jepang, pemugaran candi pernah dilaksanakan pada 1918, yakni terhadap Candi Siwa, gugusan terbesar dari kompleks Prambanan yang memiliki ketinggian 47 meter. Pemugaran candi berhasil dirampungkan pada 1953.

Setelah itu pemugaran dilakukan terhadap Candi Brahma (1978-1987) dan Candi Wisnu (1982-1991), masih di kompleks yang sama. Selain ketiga candi besar itu, candi-candi kecil lainnya juga pernah menjalani pemugaran.

Tragisnya, keadaan candi secara keseluruhan parah kembali karena terguncang gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter pada 27 Mei 2006 lalu. Banyak bagian bangunan yang telah dipugar selama bertahun-tahun, menjadi berantakan. Banyak ornamen candi retak, patah, dan pecah berkeping-keping.

Candi Prambanan sukar dipugar secara sempurna karena sampai detik ini batu-batu aslinya masih banyak yang belum ditemukan. Kalaupun sudah ditemukan, “penjodohan” batu tidak gampang dilakukan. Keadaan ini diperparah dengan banyaknya arca dan ornamen candi yang digondoli maling. Kemungkinan, sebagian dari barang-barang curian itu sudah diselundupkan ke luar negeri.n

Penulis adalah arkeolog, tinggal di Jakarta

(Sinar Harapan, 13 Agustus 2008)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori