Oleh: hurahura | 13 Desember 2010

Seminar: Peran Konservasi bagi Penyelamatan Benda Cagar Budaya

Para peserta workshop konservasi sedang membersihkan meriam di areal Museum Sejarah Jakarta (Foto: Candrian Attahiyyat)

Seminar konservasi bertema “Peran Konservasi bagi Penyelamatan Benda Cagar Budaya” diselenggarakan di Hotel Batavia, 9 Desember 2010. Kegiatan ini dituanrumahi oleh Balai Konservasi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Tampil sebagai pembicara Prof. Dr. Edi Sedyawati dengan makalah “Kajian Arkeologi”, Hubertus Sadirin dengan makalah “Peran Konservasi dalam Penyelamatan Warisan Kota Bersejarah Jakarta”, dan Djauhari Sumintardja dengan makalah “Konservasi Arsitektur Kota di Jakarta”.

Menurut Edi Sedyawati, pensiunan Gurubesar Arkeologi UI dan mantan Direktur Jendral Kebudayaan, langkah pertama adalah perlu pengenalan apa itu “cagar budaya” (yang tangible, dapat disentuh/dipegang) dan bagaimana ilmu Arkeologi, yang bertugas mempelajarinya, harus mengembangkan perhatiannya untuk senantiasa memperdalam pemahaman mengenai benda-benda tinggalan masa lalu itu.

Adapun jenis-jenis peninggalan masa lalu yang dapat menjadi sasaran kajian Arkeologi dapat dipilah ke dalam: (a) artefak dalam arti luas, yaitu benda-benda hasil buatan tangan manusia; dan (b) tinggalan alami yang merupakan rekam jejak perbuatan manusia, maupun yang disebabkan oleh kejadian-kejadian alami seperti letusan gunung, garis pantai, dan lain-lain. Mengenai benda-benda hasil tangan manusia itu selanjutnya dapat dipilah antara yang relatif kecil dan dapat dipindah-pindahkan, serta yang relatif besar dan tak dapat dipindah-pindah dengan mudah, seperti berbagai jenis bangunan.

Djauhari Sumintardja dari Pusat Dokumentasi Arsitektur mengatakan, permasalahan konservasi arsitektur di kota Jakarta dapat dibahas dari berbagai sudut pandang di antaranya dengan modal budaya, modal teknologi, dan modal ekonomi. Dari sudut pandang modal budaya, konservasi perlu karena sebuah kota tumbuh dan berkembang secara menerus dan dinamis. Dalam kebutuhannya akan perkembangan tersebut konservasi memerlukan ruang dan tempat yang kadang terkendala keterbatasan dalam penataan ruang dan pembangunan prasarana dan sarana kota.

Dari segi teknologi, timbul beberapa perubahan pandangan dalam metodologi atau cara konservasi. Dengan adanya perkembangan dalam teknologi beton dan bahan komposit organik lainnya ternyata cara-cara yang diperkirakan sudah umum dalam proses pemugaran sudah dinilai kurang memadai dan perlu dicari kiat-kiat baru. Di dalam hal ini diperlukan kesertaan para ahli yang profesional (profesional skills) baik dari segi pendekatan filosfi pemugaran ataupun dari segi teknologi pemugaran bangunan

Dalam perkembangan kota di masa kini, pemugaran arsitektur kota terancang terpadu dengan program-program revitalisasi kota. Salah satu sasarannya adalah untuk meningkatkan nilai fungsi ekonomi kota tersebut, antara lain potensinya sebagai pesona kepariwisataan. ”Menjual ruang kota dan arsitektur sebagai tempat tujuan wisata hanyalah merupakan salah satu dari kiat untuk menilai bahwa konservasi dapat bernilai ekonomi,” demikian Djauhari.

Hubertus Sadirin, ahli konservasi yang pernah menangani Candi Borobudur, berpandangan bahwa sifat dinamis kota yang terus berubah dari waktu ke waktu, perlu dikelola secara baik. Hal ini dimaksudkan supaya warisan budaya yang ada dapat hidup berdampingan dengan yang baru (modern). Dalam kaitannya dengan hal tersebut, ada tiga pilar utama yang perlu bekerja secara terpadu, selaras dan seimbang, yaitu pemerintah yang bertanggungjawab memelihara kota, seluruh komponen masyarakat, dan dunia usaha (wiraswasta). Dengan demikian akan terhindar terjadinya konflik kepentingan yang dapat mengancam kondisi kelestarian dan nilai-nilai warisan kota bersejarah, khususnya arsitektural bangunan yang menjadi ciri kota bersejarah.

Menurut Sadirin, nilai-nilai penting yang perlu dilestarikan adalah nilai keotentikan yang melekat pada bangunan-bangunan bersejarah, meliputi nilai keotentikan bahan, desain, teknologi pengerjaan, dan tata letak. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan penanganan konservasi berbasis penelitian dan hal ini menjadi bagian penting di dalam perencanaan yang perlu dilakukan secara komprehensif.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori