Oleh: hurahura | 3 September 2014

Antisipasi Dampak Negatif Penelitian Situs Gunung Padang

Aktivitas ekskavasi sekaligus ledakan kunjungan wisatawan di Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dikhawatirkan merusak kawasan cagar budaya tersebut. Pemerintah harus segera mengantisipasi secara serius dampak negatif itu.

Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Junus Satrio Atmodjo mengatakan, proses pembongkaran Situs Gunung Padang di kawasan bukit yang berkontur lereng dan terjal akan menyebabkan tanah di sekitarnya gembur. ”Daerah itu rawan longsor dan mudah terjadi pergerakan tanah. Yang diutamakan mestinya menjaga agar daerah itu tidak longsor,” tuturnya, Selasa (2/9), di Jakarta.

Selain berdampak pada kerusakan kawasan cagar budaya, penelitian Situs Gunung Padang juga akan menyisakan efek sosial terhadap masyarakat di sekitarnya. Menurut Junus, saat ini, masyarakat bingung mengenai hal yang dicari para peneliti di Situs Gunung Padang.

”Wacana adanya piramida terpendam, kandungan emas, atau tempat leluhur jadi polemik di masyarakat. Ini menimbulkan permasalahan ke depan. Setelah penelitian selesai, lalu siapa yang akan menangani,” ujar Junus.

Sejumlah arkeolog menilai, spekulasi keberadaan bangunan piramida besar di dalam Gunung Padang terlampau bombastis. Akibat spekulasi ini, kunjungan wisatawan melonjak hingga sekitar 58.000 orang seminggu. Kedatangan puluhan ribu wisatawan itu turut memperparah kerusakan situs karena banyaknya sampah, aksi coret-coret, dan bebatuan yang tergeser.


Belum ada laporan

Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Mundardjito menambahkan, hingga sekarang, belum ada laporan hasil penelitian dari Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang. ”Saya belum mendengar ada laporan terkait penelitian ini. Tata kerja ilmiah penelitian biasanya menyampaikan laporan periodik,” ujarnya.

Mundardjito khawatir, pasca ekskavasi, kondisi Situs Gunung Padang tak bisa dikembalikan seperti keadaan awalnya. Penggalian bagian dalam situs akan merusak bagian tengah ataupun luar situs.

”Penelitian semestinya berwawasan pelestarian. Arkeolog harus sangat hati-hati karena, setiap kali menggali, kondisi awal situs tidak bisa dikembalikan lagi,” ungkapnya. (ABK)

(Sumber: Kompas, Rabu, 3 September 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: