Oleh: hurahura | 23 Februari 2012

Ekspedisi Cincin Api: Merapi daya Hidup di “Kerajaan Gunung Api”

Kompas/Lucky Pransiska

Situs Palgading berada di Dusun Palgading, Sinduharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (20 Desember 2011). Situs ini diperkirakan merupakan peninggalan Hindu dan Buddha abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, yang ditandai dengan keberadaan arca Awalokiteshwara, simbol penyembahan bodhisatwa dalam agama Buddha.

KOMPAS, Sabtu, 18 Feb 2012 – TERTIMBUNNYA Gempol dan Sidoarjo adalah ulangan dari narasi besar tentang hancurnya peradaban pada masa lalu karena letusan Merapi. Jejak kehancuran itu nyata terlihat saat menelusuri lereng Merapi bersama arkeolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Niken Wirasanti, dan geolog dari Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta, Helmy Murwanto, pada pengujung Desember 2011. Niken menunjukkan jejak sejarah yang terkubur rempah vulkanis Merapi, sementara Helmy mengisahkan bagaimana proses penguburan itu terjadi.

Perjalanan bermula di Dusun Palgading, Desa Sinduharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, lokasi ditemukannya candi Buddha dari abad ke-9. Desa ini berada di ketinggian 236 meter di atas permukaan laut, sekitar 10 kilometer (km) dari puncak Merapi. Candi di Palgading ini, menurut Niken, sudah tercantum dalam peta lama Belanda yang dibuat tahun 1925.

Namun, baru pada tahun 2006 Balai Arkeologi Yogyakarta menggali situs di Palgading setelah ada warga melapor telah menemukan susunan batu candi di bekas kebun bambunya. Lokasi kebun diapit kebun rambutan dan rumah-rumah warga.

Susunan batu padma, melambangkan bentuk teratai dalam konsepsi Buddha, tersingkap di balik timbunan material lahar berkedalaman 3 meter. Di dekatnya, stupa yasti dan andha tergeletak.

Dengan mengamati pelapisan tanah, Helmy menyimpulkan, candi Buddha itu pernah dilanda tiga kali banjir lahar. Sungai Kuning, yang berhulu di Merapi, berjarak sekitar 200 meter di sebelah timur candi, diduga sebagai pembawa material lahar. Tak hanya menimbun, banjir itu juga menyeret sebagian tubuh candi. ”Ada bagian candi yang terseret hingga 100 meter dari pusat situsnya,” kata Helmy.

Sungai Kuning juga mengirim lahar sehingga mengubur candi di Dusun Kadisoka, Kecamatan Kalasan, Sleman, sekitar 25 km dari puncak Merapi. Pada Desember 2000, para penambang menemukan candi di balik timbunan pasir dan batu. Candi itu terkubur di kedalaman 2-3 meter. Tertimbunnya candi di Kadisoka juga terjadi secara bertahap, terlihat dari pelapisan material lahar dengan ketebalan bervariasi sekitar 40 sentimeter.

Dengan meneliti kepadatan jenis batuan penyusunnya, Helmy berkesimpulan, material aliran awan panas juga mencapai Kadisoka. ”Aliran awan panas itulah yang akhirnya merusak candi,” katanya.

Sebelum candi ditemukan, warga Palgading dan Kadisoka tak pernah mengira bahwa dusun mereka pernah dilanda banjir lahar dan awan panas Merapi.

Suparman (67), warga Morangan, Ngemplak, Sleman, juga tak mengira bahwa tanah lapang di tengah dusunnya menyimpan batuan candi dari abad ke-9. Semasa kecil, Suparman biasa bermain di sana. ”Rumputnya hijau dan tebal seperti karpet. Udaranya juga sejuk karena ada pohon besar yang sangat rindang,” kenang Suparman. Saat malam terang bulan purnama, anak-anak bermain petak umpet di sana.

Namun, penggalian tahun 1982 menemukan struktur candi berciri Hindu di bawah tanah lapang di Morangan, yang berjarak sekitar 15 km dari puncak Merapi. Helmy menemukan, Morangan pernah dikubur banjir lahar dan aliran awan panas. Jejak bencana itu tersingkap dari lapisan material yang menimbun candi di sana. Bagian tengah candi perwara atau candi pendamping terisi oleh pasir dan batu banjir lahar. Adapun di bagian dinding di dekat candi utama terdapat material awan panas.

”Morangan ini candi di lereng selatan Merapi yang paling dekat dengan puncak. Posisinya berada dalam jangkauan awan panas dan sangat dekat dengan Kali Gendol, yang saat ini menjadi alur utama material letusan Merapi,” kata Helmy.

Lereng selatan dan barat Merapi memang kaya dengan jejak artefak masa lalu. Bahkan, tahun 2009, bangunan candi ditemukan di kompleks kampus Universitas Islam Indonesia (UII). Sebuah candi induk dan candi perwara dari abad ke-9 menyembul dari lubang galian yang sedianya akan menjadi tapak bangunan perpustakaan kampus.

Candi induk setinggi 2,1 meter dari tanah itu memiliki sejumlah artefak seperti arca Ganesha, lingga, yoni, 12 umpak batu, dan batu-batu bulat. Di bangunan perwara ditemukan arca nandi, lapik berornamen padma, dan lingga-yoni. Dalam peripih candi itu ditemukan pula lempengan emas, mantra, dan manik-manik. Bangunan peribadatan Hindu yang belakangan disebut sebagai Candi Kimpulan ini tertutup lahar dingin setinggi 5-6 meter.

Niken menduga candi itu ditinggalkan sebelum selesai pengerjaannya karena dilanda banjir lahar Merapi melalui Sungai Kladuhan. ”Beberapa ornamen sepertinya belum selesai dikerjakan. Kala di candi perwara belum ada detail reliefnya,” katanya.

Pihak kampus akhirnya mengubah desain bangunan. Candi batu itu dibiarkan, dikelilingi bangunan modern kampus dari beton. Sebagian batu dan tanah yang semula menimbun candi dilestarikan dalam kaca lengkap dengan keterangan stratigrafi. Candi itu menjadi semacam monumen, yang menjelaskan bahwa kampus modern itu dibangun di atas tapak bencana Merapi pada masa lalu. Bencana yang bisa saja kembali tiba jika banjir lahar atau awan panas Merapi kembali menagih jalannya.

”Itu hukum dasar geomorfologi. Jalur yang dilalui oleh material Merapi, ya, itu-itu saja. Arahnya dominan ke barat dan selatan. Pola itu terus berulang sehingga sebenarnya bisa dikelola melalui tata ruang yang tepat untuk menghindari korban jiwa,” ujar peneliti geomorfologi pada Fakultas Geografi, UGM, Langgeng Wahyu Santoso.

Sebagai salah satu gunung api paling aktif di dunia, gunung ini juga termasuk paling padat dihuni manusia. Jejak pelapisan kebudayaan banyak ditemukan di tubuh gunung ini.

Niken mengatakan, Belanda telah memetakan 23 candi di lereng barat Merapi, tetapi kemudian hilang karena terkubur. Niken menemukan kembali koordinat 19 dari 23 lokasi candi itu, tetapi empat lainnya belum ditemukan hingga kini. ”Masih banyak candi lain yang terkubur dan belum ditemukan,” katanya.

Chris Newhall dalam 10.000 Years of Explosive Eruptions of Merapi Volcano, 2000, juga menyimpulkan bahwa erupsi gunung api sudah menjadi bagian dalam kosmologi masyarakat Jawa. Kesimpulan peneliti Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) itu berdasarkan penelusuran jejak letusan Merapi hingga 10.000 tahun lalu serta temuan-temuan arkeologis. ”Kekuatan spiritual Merapi dan sejumlah gunung api lain dimasukkan ke doa sehari-hari sebagai tambahan dari doa-doa ajaran Hindu dan Buddha,” tulis Newhall.

”Sebagai salah satu gunung api paling aktif di dunia, gunung ini juga termasuk paling padat dihuni manusia. ”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori