Oleh: hurahura | 21 Maret 2011

Kuburan Tionghoa di Batavia

Makam Souw Beng Kong masih sederhana – Foto: internet

Sejak kedatangan etnis Tionghoa di Batavia, berbagai masalah tentu saja timbul seketika. Lokasi pemakaman secara khusus memang belum dikenal. Mungkin saja orang-orang yang meninggal dimakamkan di tanah-tanah kosong atau di tanah milik kelenteng. Seiring perjalanan waktu, orang-orang kaya dimakamkan di tanah milik keluarga

Belum banyak informasi tentang makam-makam tua di Batavia. Penemuan makam Souw Beng Kong cukup memberi kesan bahwa waktu itu tanah pekuburan belum tertata rapi. Souw adalah kapiten Tionghoa pertama di Batavia. Dia meninggal pada 8 April 1644, lalu dimakamkan di kebun kelapa miliknya. Sekarang dikenal dengan nama Gang Taruna di Jalan Pangeran Jayakarta. Luas tanahnya mencapai 40.000 meter persegi.

Ketika Souw meninggal, seluruh masyarakat Tionghoa ikut berkabung. Pemerintah Belanda juga menyatakan turut bela sungkawa. Upacara pemakaman dilakukan dengan penuh kebesaran dan penghormatan. Ribuan masyarakat Tionghoa dari Batavia dan sekitarnya turut mengantarkan jenazahnya ke pemakaman, Pemerintah Hindia Belanda pun memberikan penghormatan militer.

Makam Souw sangat sederhana. Ketika ditemukan, makamnya dipenuhi semak belukar. Berbeda sekali dengan makam Khouw Oen Giok di Taman Pemakaman Umum (TPU) Petamburan. Khouw adalah seorang kaya pemilik bank di Batavia. Makam mewah (mausoleum) Khouw sudah ada di Petamburan sejak 1927, terbuat dari marmer hitam Italia. Biaya membuat kuburan mewah itu 200.000 gulden. Koran Sin Po pernah menyatakan, mausoleum tersebut mengalahkan makam Rockefeller, miliarder Amerika. Sekadar perbandingan, pemakaman Majoor Tan Tjin Kie di Cirebon pada 1919, memakan biaya 100.000 gulden.

Di kalangan orang Tionghoa, makam umumnya menunjukkan status sosial seseorang. Makin kaya seseorang, makin mewah makamnya. Menghormati leluhur betul-betul diperhatikan. Apalagi jenazah perlu disemayamkan selama beberapa hari, menunggu keluarga dan kerabatnya hingga lengkap. Namun ketika itu banyak orang tua mengeluarkan testamen untuk anak-anaknya, yang pada pokoknya penghematan dalam hal penguburan.

Pemerintah Hindia Belanda ternyata tidak menyukai pemborosan dalam hal kematian. Mereka memandangnya sebagai suatu kemewahan yang tidak perlu, hanya mementingkan pameran kekayaan. Maka pemerintah mengeluarkan peraturan yang mengenakan pajak untuk penguburan orang Tionghoa yang dilakukan secara mewah. Dengan catatan pajak atas penguburan mewah tidak berlaku bagi opsir-opsir Tionghoa dan isterinya. Dampak dari peraturan itu adalah penghematan mulai dilakukan, bahkan biaya penguburan bisa ditekan hingga cuma memerlukan 10.000 gulden.

Penguburan seorang elit Tionghoa menjadi besar karena hadirnya beberapa wakil pemerintah dan kepala pemerintahan setempat. Seperti halnya pada masa sekarang, dulu juga para panitia penguburan harus membersihkan jalur yang akan dilalui kereta para pejabat. (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori