Oleh: hurahura | 13 Agustus 2012

Gunung Padang: Punden Mimpi Berundak-undak (Bagian 2 – Habis)

Koran Tempo, Sabtu, 4 Agustus 2012 – Dalam tulisan sebelumnya telah dipaparkan sanggahan terhadap penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri: Gunung Padang, menyangkut tidak sahihnya hasil pemindaian yang dijadikan data awal ekskavasi arkeologi, tidak lazimnya keberadaan rongga dalam bangunan purbakala di Nusantara, dan seperti apa organisasi masyarakat yang membangunnya kala itu.

Sebagai tambahan, dalam talkshow Minggu siang (29 Juli), anggota tim mengungkapkan asumsi ber- ikutnya bahwa jangan-jangan peradaban tinggi yang membangun ruang bawah tanah itu dimusnahkan ben- cana dahsyat seperti tsunami. Bila betul adanya, maka kapankah hal itu dibayangkan terjadi? Banjir besar akibat melelehnya es di kutub 20 ribu tahun silam yang memisahkan Sumatera dari Kalimantan, Jawa dari Madura, misalnya,“hanya” menaikkan ketinggian air laut hingga 125 meter dalam rentang waktu ribuan tahun, sejajar dengan meningkatnya suhu udara sebagai reaksi atas lintasan bumi yang mendekati matahari. Sedangkan situs Gunung Padang terletak di perbukitan Cianjur Selatan, berada 600 meter di atas permukaan laut. Bencana yang dibayangkan, kalau begitu, harus empat kali lebih dahsyat dari pada peris- tiwa melelehnya es di kutub untuk bisa menjangkau Gunung Padang.

Sebagai perbandingan, dataran Sangiran, yang men- jadi tempat tinggal manusia purba sekitar 20 ribu tahun silam, tidak memperlihatkan gejala terjadinya genangan besar. Betul kawasan ini sebelumnya adalah laut yang kemudian terangkat naik ke permukaan menjadi rawa dan kemudian daratan. Tetapi itu terjadi jutaan tahun sebelumnya. Dari fosil-fosil manusia di Sangiran, moyang manusia Nusantara masih belum hidup menetap, apalagi membuat bangunan. Mereka mengem- bara dalam kelompok paling banyak 50 orang, belum menguasai teknologi bercocok tanam kecuali meramu makanan. Panah belum dikenal. Perlengkapan sehari- hari adalah kapak-kapak batu kasar tanpa tangkai dan batang-batang kayu yang digunakan sebagai tongkat, tombak, atau alat untuk membongkar tanah.

Kini mari kita melihat aktivitas pengeboran sebagai- mana dilakukan Tim pada pertengahan Mei dan Juli lalu dan realitas di lapangan. Upaya itu dilakukan untuk mengecek kebenaran adanya ruangan yang tersembunyi “100 meter di dalam tanah”yang hanya disimpulkan berdasarkan hasil pemindaian geo-radar. Sayangnya, upaya untuk mengambil contoh (sampel) lapisan batuan dan tanah itu bertumpu pada bidang pengamatan yang terlalu kecil untuk mendukung dugaan adanya ruang kosong besar di bawah tanah. Apakah lalu perlu mem- buat lubang pengamatan sedalam 100 meter dengan lebar 10 meter yang sudah pasti merusak struktur megalitik yang ada? Bila masih belum ditemukan juga, lalu apa opsinya: menggali lebih dalam atau lebih lebar? Moga-moga tidak terpikir membongkar seluruh susun bangunan megalitik, supaya para penggali yang bekerja di dalam“cerobong”pengap dan sangat mahal biayanya itu bisa bekerja dengan tenang.

Saya khawatir warisan budaya Jawa Barat dari masa prasejarah yang unik itu rusak hanya karena keinginan membuktikan dugaan di kedalaman yang fantastis. Ketika saya melakukan penelitian di lokasi pada 1985, sudah terlihat gejala-gejala kerusakan serius pada situs. Mohon diingat, seluruh struktur men- duduki puncak sebuah bukit terjal bersisi curam yang setiap saat bisa longsor. Membandingkannya dengan kondisi sekarang pada 2012, sebagian kekhawatiran itu sudah terjadi: banyak batu yang longsor ke bawah dan menurunnya sebagian halaman punden akibat erosi. Lubang-lubang baru yang menjebak air hujan akan menggerogoti kekokohan fondasi bangunan, mendorong terbentuknya lumpur dan penetrasi air ke lapisan-lapisan tanah dalam bukit. Penelitian pada 1985 sudah menemukan sejumlah titik rembesan air tebing yang menjadi indikasi berlangsungnya proses ini. Mengorbankan warisan budaya yang sangat berharga ini untuk tujuan yang tidak jelas sungguh beri- siko. Dalam khazanah kepurbakalaan Indonesia belum pernah ditemukan punden berundak terbuat dari batu- batu kolom seperti di Gunung Padang. Mungkin bukan satu-satunya, tetapi ukurannya yang besar dan kedu- dukannya pada sebuah bukit tunggal adalah sesuatu yang unik di negeri ini.

Akhirnya, tak dapat dimungkiri bahwa arkeolog pun dalam bekerja menggunakan dugaan-dugaan. Dugaan itu dianalisis berdasarkan bukti yang bisa diamati terhadap aspek bentuk, letak, dan usia obyek yang menjadi perhatian. Tak semua obyek yang teramati berasal dari masa sama. Sangat mungkin di satu lokasi ada dua lapisan budaya berbeda yang bertindihan. Menggunakan hukum superposisi sebagai pedoman, lapisan yang berada di atas biasanya lebih muda dibandingkan dengan di bawahnya. Kesimpulan ini bisa lain setelah dilakukan pengujian lebih teliti. Karena itu, hipotesis baru disusun setelah data dinya- takan cukup untuk melakukan pendugaan tentang perilaku atau hasil perilaku manusia serta pola-pola yang mereka tinggalkan. Prinsip dasarnya adalah “kebenaran” merupakan fakta tak terbantahkan, dan bisa diterima oleh logika. Sudah tentu logika merupa- kan fondasi dari seluruh asumsi, pendapat, hipotesis, bahkan teori. Gejala apa pun yang mewakili kejadian- kejadian masa lalu dalam ilmu arkeologi senantiasa dijelaskan menggunakan pemikiran ini. Itulah sebab- nya, arkeolog membedakan antara imajinasi dan fakta dalam berargumentasi.

Saya jadi teringat cerita wayang yang sering saya baca sewaktu kecil sebelum tidur, bahwa para dedemit bisa hidup di bawah tanah. Mereka bisa muncul ke alam bebas dan beterbangan di udara mengganggu manusia. Cerita semacam ini asyik dan membuai. Tetapi, setelah selesai membaca dan kembali ke dunia nyata, saya sadar bahwa tokoh dedemit pun sebenarnya hanya ada dalam imajinasi. Seperti Superman dan Gatotkaca yang bisa terbang, atau Antareja yang bisa bergerak dalam tanah, cerita tentang Gunung Padang ini mungkin lebih tepat diberi judul “Punden Mimpi Berundak-Undak.”  (Junus Satrio Atmodjo, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia)

Iklan

Responses

  1. […] * Gunung Padang: Punden Mimpi Berundak-undak (Bagian 2 – Habis) : Koran Tempo, Sabtu, 4 Agustus 2012, silahkan buka link ini : https://hurahura.wordpress.com/2012/08/13/gunung-padang-punden-mimpi-berundak-undak-bagian-2-habis/ […]

  2. […] * Gunung Padang: Punden Mimpi Berundak-undak (Bagian 2 – Habis) : Koran Tempo, Sabtu, 4 Agustus 2012, silahkan buka link ini : https://hurahura.wordpress.com/2012/08/13/gunung-padang-punden-mimpi-berundak-undak-bagian-2-habis/ […]

  3. […] * Gunung Padang: Punden Mimpi Berundak-undak (Bagian 2 – Habis) : Koran Tempo, Sabtu, 4 Agustus 2012, silahkan buka link ini : https://hurahura.wordpress.com/2012/08/13/gunung-padang-punden-mimpi-berundak-undak-bagian-2-habis/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori