Oleh: hurahura | 16 Januari 2017

Watu Tulis, Peninggalan Kebudayaan Megalitikum di Tuban

ayu-01Watu Tulis di Desa Dermawuharjo (Dokpri)

Watu Tulis yang terletak di Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sebenarnya sebuah menhir. Dinamakan Watu Tulis karena terdapat guratan-guratan berpola pada batunya, yang dalam anggapan masyarakat mirip dengan tulisan Jawa, sekalipun pada kenyatannya tidak.  Bahannya sendiri terbuat dari batu kapur-padas, atau biasa disebut batuan lokal daerah Tuban.

Lokasi Watu Tulis boleh dibilang terpencil sehingga sulit dicari. Apalagi tidak ada penunjuk arah. Sebelum mencapai batu ini, pengunjung akan mendaki semacam bukit kecil tepat di belakang sendang. Batu ini tidak terletak di puncak bukit, melainkan tepat di bawah sumber mata air utama sendang tersebut.

Tepat di bawah lokasi Watu Tulis terdapat sendang yang berair dingin dan juga sumber mata air panas yang mengandung belerang. Menyeberangi jalan, terdapat tumpukan batu yang mengeluarkan gas belerang. Tumpukan batu ini sangat disakralkan oleh masyarakat karena dianggap tempat Mpu Supo dalam membuat keris. Cerita rakyat yang beredar mengatakan Mpu Supo membuat keris sekaligus mewarangi kerisnya di lokasi tersebut. Banyak orang percaya bahwa tempat tersebut memiliki tuah yang bisa mendatangkan kejayaan.


Menhir

Menhir adalah salah satu peninggalan kebudayaan megalitikum. Menurut R. Soekmono kebudayaan megalitikum menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Pada masa itu manusia telah menggunakan batu-batu besar untuk membangun berbagai jenis kebudayaan (Soekmono,1973: 72).

Dalam A History of Western Art dijelaskan, menhir adalah batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang ditatah seperlunya sehingga berbentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah. R.P. Soejono, dkk (1990) dalam buku Jaman Prasejarah Di Indonesia  menyebutkan, menhir adalah sebuah batu tegak dikerjakan atau tidak untuk memperingati orang yang sudah meninggal dunia.

Dalam Sejarah Nasional Indonesia I, menhir didefinisikan sebagai batu tegak atau batu panjang yang didirikan tegak; berfungsi sebagai peringatan dalam hubungannya dengan pemujaan leluhur (Soejono, 1984: 321). Menurut Ayu Kusumawati dan Haris Sukendar dalam bukunya Megalitik Bumi Pasemah, Peranan dan Fungsinya (2000), menhir mempunyai bermacam-macam bentuk, polos dan dipahatkan berbagai hiasan. Dalam perkembangannya, menhir mempunyai fungsi dan peranan yang beragam sebagai tanda kubur dan tonggak untuk penyembelihan binatang korban dalam suatu upacara.

Kondisi Watu Tulis ini sedikit pecah di sisi kiri bagian atas. Orientasinya menunjuk ke arah utara-timur laut. Hal yang sangat umum ditemui dalam budaya megalitik jika suatu benda atau bangunan menghadap ke arah puncak gunung atau tempat tinggi lainnya ataupun laut. Masyarakat pada waktu tersebut beranggapan jika tempat-tempat tersebut adalah tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Mereka pun percaya jika seseorang meninggal dunia, maka ia pergi bersama arwah nenek moyangnya. Lengkungan pada batu dianggap sebagai arah penunjuk jalan untuk mencapai tempat tujuan yang dimaksud, yaitu puncak yang tinggi ataupun lautan. Demikian Soejono dan Yondri dalam tulisannya.

Demikian pula dengan Watu Tulis ini. Orientasinya yang menghadap arah utara-timur laut, kemungkinan menghadap  arah puncak bukit tertinggi atau laut utara. Kedua tempat ini terletak di arah yang ditunjuk oleh sudut kemiringan menhir tersebut. Namun menurut pendapat penulis, karena puncak bukit tertinggi terletak di Bukit Ngandong yang berlokasi di arah barat daya dari menhir ini, maka menhir ini berorientasi ke laut utara. Hal ini berhubungan dengan kondisi masyarakat Jawa sebagaimana yang dijelaskan oleh Geertz dalam The Religion of Java.

Menurut Geertz, konsep agama dalam masyarakat Jawa merupakan sistem simbol yang bertindak untuk memantapkan perasaan-perasaan dan motivasi secara kuat, menyeluruh, dan bertahan lama pada diri manusia. Itu dilakukan  dengan cara memformulasikan konsepsi-konsepsi suatu hukum yang berlaku umum berkenaan dengan eksistensi manusia dan menyelimuti konsepsi-konsepsi ini dengan suatu aura tertentu yang mencerminkan kenyataan. Dengan demikian perasaan-perasaan dan motivasi-motivasi tersebut nampaknya secara tersendiri adalah nyata.


Konsep kehidupan dan kematian

Masyarakat Jawa dalam menilai suatu simbol, bukan hanya sebagai suatu benda. Melainkan sebagai suatu yang hidup yang memiliki arti, fungsi, dan peranan yang juga diartikan sebagai sebuah perlambang yang diberikan oleh Sang Hyang Ingkang Murbeng Dumedi sebagai pengingat dalam hidup. Laut dalam beberapa kebudayaan memiliki arti penting utamanya terhadap konsep kehidupan dan kematian. Dalam agama Hindu, pelarungan abu jenazah ke laut lepas dianggap dapat membebaskan dari lingkaran Dharma-Karma sehingga memungkinkan untuk mencapai kesempurnaan yang mengangkatnya menuju nirwana. Laut dipandang sebagai asal muasal sekaligus akhir dari sebuah kehidupan. Orientasi watu tulis apabila benar-benar menghadap ke laut utara, dapat juga dihubungkan dengan pentingnya laut utara sebagai sumber mata pencaharian masyarakat pesisir pantai Utara Jawa.

Berdasarkan penelitian terhadap masa prasejarah di Indonesia khususnya dalam tradisi budaya megalitik, banyak ditemukan menhir-menhir yang mengalami perubahan fungsi. Salah satunya adalah perubahan fungsi menhir menjadi tempat pengikatan kurban (kerbau) yang akan disembelih pada saat upacara pemakaman (Harun Kadir, “Aspek Megalitik di Toraja, Sulawesi Selatan”, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi I, Cibulan, 1977). Selain itu, ada juga di beberapa daerah menhir difungsikan sebagai tempat untuk memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan hukuman atau lambang dari kepala suku atau kepala adat, sebagai tanda yang berkaitan dengan kegiatan penguburan. Menhir yang berfungsi sebagai tanda penguburan antara lain dapat ditemukan di Ngada, Flores. Di situs tersebut, menhir dijadikan tanda penguburan yang bersifat plural. Setiap menhir yang didirikan, menurut Haris Sukendar, sangat berkaitan erat dengan jumlah orang yang dikuburkan.

Watu Tulis, dalam perkembangannya masih digunakan sebagai sarana untuk berdoa oleh masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan masih terdapatnya sisa-sisa bunga, dupa, dan juga seikat padi. Masyarakat Desa Dermawuharjo percaya, agar panen yang mereka dapat bisa melimpah, maka “sowan” atau berkunjung dengan memberikan sesaji di Watu Tulis sangat diperlukan. Jumlah menhir yang hanya satu, menunjukkan indikasi bahwa dulunya watu tulis ini juga digunakan sebagai sarana peribadatan, pemujaan, atau lainnya yang berhubungan dengan aspek religi dan spiritualitas. Masyarakat menganggap, melalui Watu Tulis ini hajat atau keinginan yang mereka ucapkan dapat terlaksana. Artinya, Watu Tulis bukan hanya menjadi sebuah tonggak batu tegak yang didirikan sebagai alat pemujaan terhadap roh leluhur pada zaman sebelumnya, tetapi telah memasuki ranah spiritualitas manusia dengan menumbuhkan keyakinan dan semangat terhadap kehidupan.

Penulis: Wulan Agustriayu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: