Oleh: hurahura | 28 Juli 2010

Susahnya Mencegah Wisatawan Naik ke Stupa

Giuliana Urbina (30) panik ketika seorang wisatawan seenaknya duduk di stupa Candi Borobudur, bersisian dengan arca Sang Buddha. Dengan bahasa Indonesia yang campur aduk, dia berusaha meminta agar turis laki-laki tersebut segera turun. Namun, laki-laki itu cuek saja, duduk di stupa candi sembari mengobrol dengan teman-temannya.

Giuliana, perempuan berkebangsaan Peru yang menjadi sukarelawan Indonesia International Work Camp (IIWC) itu pun menyerah. Dia pun bergeser dan tidak lagi memerhatikan wisatawan tersebut.

“Susah sekali meminta pengunjung untuk tidak naik ke bangunan candi. Mereka selalu saja membandel seperti ini,” ujarnya dalam bahasa Inggris, sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Bagaimanapun juga, Giuliana kecewa. Seruannya kepada pengunjung tadi adalah bagian dari misinya mengampanyekan pelestarian Candi Borobudur, kampanye yang dilakukan IIWC mulai Rabu (21/7) hingga Minggu (25/7).

IIWC adalah full member dari Coordinating Committee for International Voluntary Service (CCIVS) UNESCO.

Misi dari kampanye ini adalah menjaga kelestarian Candi Borobudur dengan menjaga perilaku saat berkunjung, seperti tidak menaiki bangunan candi, tidak merokok, tidak menyentuh batuan candi, dan tidak membuang sampah sembarangan di areal candi.

Mereka yang terlibat dalam kampanye ini berjumlah 42 orang. Selain dari Peru, para sukarelawan berasal dari Korea, Jepang, Taiwan, dan Indonesia. Sukarelawan dari Indonesia di antaranya adalah pelajar SMA Negeri 2 Magelang, SMA Negeri 1 Muntilan, Madrasah Aliyah (MA) Borobudur, SMEA Borobudur, dan SMK Borobudur.

Upaya kampanye antara lain dilakukan para sukarelawan dengan memegang spanduk dan poster-poster dengan tulisan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, yang berisi imbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan, merokok, menyentuh, dan duduk di bangunan candi.

Para sukarelawan pun berkewajiban mengingatkan pengunjung agar “berkelakuan baik” di atas candi. Namun, hal ini sangat sulit dilakukan. Dalam hal masalah menaiki bangunan candi saja misalnya, sangat sulit dicegah karena bergaya di atas batuan selalu menjadi pose andalan pengunjung saat difoto.


Petugas tidak tegas

Aulia dan Fika, sukarelawan IIWC, menyesalkan sikap petugas yang cenderung tidak tegas dan tidak memberi sanksi apa-apa terhadap wisatawan yang berlaku seenaknya di atas candi.

Kepala Seksi Pelayanan Teknis Balai Konservasi Peninggalan Borobudur Iskandar M Siregar mengatakan, selain tidak etis, perilaku pengunjung yang sering kali menaiki atau menyentuh batuan candi, dapat semakin mempercepat ausnya batuan Candi Borobudur. Kondisi batu yang aus dan cekung karena terlalu sering disentuh di antaranya terlihat pada batuan di sekitar Kunto Bimo.

Untuk mencegah perilaku yang merusak batuan candi tersebut, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan Unit Taman Wisata Candi Borobudur sudah menerjunkan petugas khusus untuk mengingatkan pengunjung.

“Namun, saat pengunjung membeludak seperti di musim liburan sekolah dan Lebaran, petugas kami kewalahan dan tidak bisa mengawasi mereka satu per satu,” ujarnya. (Regina Rukmorini)

(Kompas Jawa Tengah, Selasa, 27 Juli 2010)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: