Oleh: hurahura | 12 September 2011

Ajaran Budi Pekerti di Candi Panataran

Candi Angka Tahun di Kompleks Panataran

purbakala.net – Nenek moyang Bangsa Indonesia memiliki kearifan mengenai ajaran budi pekerti melalui relief cerita. Kompleks Candi Panataran memiliki banyak relief cerita yang mengandung pembelajaran, beberapa diantaranya dituangkan melalui cerita hewan atau yang disebut juga Tantri Kamandaka.

Teladan tentang Pengorbanan
“Bubuksah-Gagang Aking”

Relief ini terdapat pada dinding pendopo teras sisi timur, menceritakan tentang dua orang bersaudara masing-masing dikenali dengan nama Bubuksah dan Gagang Aking. Kedua bersaudara tersebut bertapa untuk mencapai tingkat kesempurnaan hidup. Mereka memiliki cara yang berbeda dalam melaksanakan “laku”, Bubuksah makan segala makanan sehingga badannya gemuk, sedangkan Gagang Aking tidak makan dan minum sehingga menjadi kurus kering.

Pada suatu ketika Bhatara Guru mengutus Kalawijaya yang sebenarnya juga seorang dewa yang menyamar sebagai harimau putih untuk menguji kakak beradik tersebut. Kalawijaya mengatakan menginginkan daging manusia, ketika permintaan ini disampaikan kepada Gagang Aking, ia menolaknya dengan alasan tak ada gunanya memakan dirinya yang kurus itu dan menyarankan agar memakan Bubuksah saja. Sedangkan Bubuksah menyediakan diri sepenuhnya untuk dimakan harimau putih karena dirinya dalam menjalankan laku juga memakan segala jenis makanan dan binatang-binatang. Harimau putih kemudian menjelma kembali menjadi Kalawijaya, Bubuksah dinyatakan lulus dalam ujian dan ketika meninggal, maka rohnya nanti dapat menaiki tubuh harimau tersebut menuju Indraloka, sementara Gagang Aking hanya diperbolehkan bergelantung di ekornya saja.

Berdasarkan relief tersebut, dapat diteladani bahwa pengorbanan yang tulus dan ikhlas akan menghasilkan kebaikan di kemudian hari.

Relief Bubuksah dan Gagang Aking

Teladan tentang Kesetiaan
“Sri Tanjung”

Relief ini terdapat pada dinding sisi barat dan selatan bangunan pendopo teras. Relief ini menceritakan tentang Pangeran Sidapaksa, salah seorang keturunan Pandawa yang mengabdi pada prabu Sulakarma di negeri Sindurejo. Pada suatu ketika Sidapaksa diutus sang prabu untuk mencari obat ke tempat seorang begawan yang bernama Tambapetra di Desa Prangalas. Obat pesanan Sang Prabu tidak dapat diperoleh, bahkan Sidapaksa jatuh cinta pada putri Sang Begawan yang bernama Sri Tanjung.

Sidapaksa berhasil mempersunting Sri Tanjung yang cantik rupawan. Kecantikan Sri Tanjung terdengar pula oleh sang prabu dan berniat untuk berbuat tidak senonoh. Dicarinya akal untuk memperdaya Sidapaksa dengan mengutusnya ke khayangan dengan maksud agar dibunuh oleh para dewa sesuai dengan bunyi surat yang dibawakannya.

Di khayangan, Sidapaksa hampir dibunuh oleh para dewa. Pada saat kritis, Sidapaksa menyebut-nyebut nama Pandawa, sehingga ia tidak jadi dibunuh karena sebenarnya masih keluarga para dewa. Sidapaksa kembali dari khayangan dengan selamat. Sementara Sidapaksa berangkat ke khayangan, prabu Sulakrama berusaha menggoda Sri Tanjung akan tetapi tidak berhasil. Karena merasa malu, kemudian Sang Prabu memfitnah Sidapaksa dengan mengatakan bahwa selama ia pergi kekhayangan istrinya telah berbuat serong. Fitnah ternyata berhasil membuat Sidapaksa kalap dan sebagai puncak kemarahannya istrinya kemudian dibunuh.

Dalam perjalanan ke alam roh, Sri Tanjung menaiki ikan menyeberangi sebuah sungai yang maha luas. Di sana ia bertemu dengan Bhatari Durga, karena belum waktunya meninggal, maka Sri Tanjung dihidupkan kembali.

Sri Tanjung kemudian kembali ke Desa Prangalas. Selanjutnya Sidapaksa yang mengetahui bahwa sebenarnya istrinya tidak bersalah, menjadi sakit saraf dan hampir bunuh diri. Kemudian datanglah Bhatari Durga yang menyuruh Sidapaksa ke Desa Prangalas untuk menemui Sri Tanjung. Terjadilah kesepakatan, Sri Tanjung bersedia kembali asal Sidapaksa dapat memenggal kepala Prabu Sulakrama. Permintaan tersebut dapat dipenuhi bahkan kepala Sang Prabu dijadikan alas kaki Sri Tanjung. Mereka kemudian hidup bahagia.

Berdasarkan cerita tersebut, dapat diteladani kesetiaan seorang istri dan kepercayaan seorang suami terhadap istrinya.

Teladan tentang Kesetiakawanan
“Pemburu yang Tertipu”

Relief ini terdapat pada dinding sisi utara kolam petirtaan dan di bagian belakang arca penjaga sebelah kiri tangga utara Candi Induk. Relief ini menceritakan tentang seorang pemburu yang pulang dari hutan dengan membawa hasil tangkapannya yang berupa seekor kura-kura menjelang senja hari.

Seekor kancil yang merupakan sahabat akrab kura-kura berusaha untuk menolongnya dengan memalingkan perhatian pemburu kepadanya. Karena penasaran, pemburu itu kemudian meletakkan hasil buruannya ketanah dan beralih mengejar kancil.

Kura-kura berhasil meloloskan diri masuk semak belukar. Sementara itu, kancil berlari semakin kencang dan menghilang dalam hutan. Dengan demikian, si pemburu terkecoh oleh ulah kancil dan terpaksa pulang dengan tangan hampa tanpa hasil buruan.

Berdasarkan cerita tersebut dapat diteladani kesetiakawanan untuk saling tolong-menolong sesama manusia.

Teladan tentang Kepatuhan
“Kura-kura yang sombong”

Relief ini terdapat pada dinding kolam petirtaan sisi barat. Cerita ini mengisahkan tentang dua ekor kura-kura di sebuah sungai yang hampir-hampir kering karena musim kemarau panjang. Seekor burung belibis berusaha untuk menolong mereka dengan menerbangkan kedua kura-kura itu ke sebuah telaga yang masih memiliki banyak air. Dengan cara menggigit kedua ujung cabang kayu yang digenggam oleh belibis, kedua kura-kura itu berhasil dibawa terbang.

Sebelum diterbangkan, burung belibis berpesan kepada kedua kura-kura untuk tidak berkata-kata sepanjang perjalanan. Namun amanat burung belibis itu dilanggar karena tidak kuat menahan ejekan dari sekelompok serigala sewaktu melewati sebuah hutan. Akibat menjawab ejekan tersebut, mulut kedua kura-kura ini lepas dari cabang kayu yang digigitnya, sehingga mereka jatuh ke tanah dan menjadi santapan kawanan serigala.

Berdasarkan cerita tersebut, dapat disimpulkan bahwa siapa yang tidak taat, maka akan mendapat celaka di kemudian hari.

Teladan tentang Rasa Terima Kasih
“Lembu dan Buaya”

Relief ini terdapat pada dinding kolam sisi barat dan bagian belakang Arca Dwarapala yang terletak di sebelah kanan tangga masuk bangunan candi induk sisi utara. Cerita ini mengisahkan tentang seekor buaya yang tiba-tiba kerobohan sebatang pohon, namun ia beruntung karena berada di suatu tempat yang berlubang, sehingga masih sempat menyelamatkan diri.

Ketika itu, seekor lembu jantan sedang melintas di depannya, kemudian buaya meminta pertolongan. Lembu jantan tidak keberatan dan berhasil mengangkat pohon yang tumbang tersebut. Karena tempat buaya di air, maka lembu jantan dimintanya untuk mengantarkannya. Setelah sampai, punuk lembu digigitnya, sehingga lembu kesakitan dan terjadilah perekelahian.

Lembu jantan hampir kalah karena air bukan alamnya. Datanglah kemudian seekor kancil yang bertindak sebagai wasit perkara. Ia meminta agar buaya dikembalikan ke tempat kejadian semula sewaktu kerobohan pohon dengan alasan untuk memudahkan penilaian siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun kemudian buaya ditinggal sendirian di tempat tersebut sampai menemui ajal.

Berdasarkan cerita tersebut dapat diteladani bahwa manusia harus berterima kasih kepada siapa saja yang telah memberikan pertolongan, bukan malah mencekakai, jika tidak maka ia akan mendapat celaka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: