Oleh: hurahura | 28 Mei 2011

Songgoriti, Candi di Halaman Hotel

Oleh: Djulianto Susantio

Papan nama Candi Songgoriti (Foto: Media Indonesia)

Dari sekian banyak candi di seluruh Indonesia, Candi Songgoriti tergolong unik. Kalau candi-candi lain terletak di alam bebas, candi ini berlokasi di halaman sebuah hotel, yakni Songgoriti Resort. Bila berkunjung ke Malang (Jawa Timur) sebutlah nama Songgoriti, maka banyak warga akan memandu Anda ke sana. Tiap akhir pekan, kawasan Songgoriti banyak dikunjungi wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.

Kawasan ini terkenal dengan sumber air panas yang keluar dari Candi Songgoriti. Buat masyarakat masa kini, Candi Songgoriti sering dipandang mewariskan kearifan masa lampau yang amat berharga. Para pengelola Lapindo Brantas semestinya belajar dari kearifan para pembangun candi ini. Meskipun berlokasi di atas sumber air panas yang bergejolak dan masih memiliki aktivitas vulkanis, namun bangunan candi dapat bertahan lebih dari seribu tahun. Ketika manusia tidak dapat melawan alam, maka manusia memutuskan untuk bersahabat dengan alam. Inilah kearifan dari Candi Songgoriti tersebut.

Masyarakat yang datang ke Songgoriti umumnya melakukan mandi air hangat. Mereka percaya air berbelerang yang keluar dari Candi Songgoriti mampu mengobati penyakit kulit dan penyakit lainnya. Adanya sumber air panas alami ini dengan jeli dimanfaatkan oleh pengelola hotel. Sejak tahun 1970-an air dari Songgoriti dialirkan ke kamar-kamar hotel, tentu untuk servis kepada para tamu.

Candi Songgoriti, dari pancurannya keluar air panas (Foto: internet)

Candi Songgoriti sebenarnya bukanlah tujuan utama para wisatawan. Tak dimungkiri, candi tersebut hanya menjadi objek tambahan sehabis melihat pemandangan atau berendam di kolam air hangat. Candi ini berlokasi di sisi belakang kompleks hotel dalam ujud sisa-sisa reruntuhan bangunan.

Songgoriti merupakan candi tertua di Jawa Timur. Masa pembangunan candi belum diketahui pasti. Diduga candi ini berasal dari masa pemerintahan Mpu Sindok, yakni masa perpindahan kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi.

Dilihat dari arsitekturnya, candi ini mempunyai hiasan berlanggam Jawa Tengah. Bangunan candi yang tersisa dan masih dapat dilihat sekarang adalah kaki candi dan sebagian tubuh candi yang terbuat dari batu andesit. Pondasi candi terbuat dari batu bata. Ukuran candi relatif kecil, hanya 14,36 × 10 meter dengan tinggi 2,44 meter.

Pada tubuh candi terdapat relung-relung atau cerukan, untuk tempat berdirinya arca. Relung sebelah Timur merupakan tempat arca Ganesha, tapi arcanya tinggal sebagian, yaitu bagian perut dan kaki. Relung sebelah Utara arcanya sudah hilang, sedangkan relung sebelah Barat, arcanya sudah tidak menempel lagi, tapi masih berada di lingkungan candi. Arca ini merupakan arca Agastya, ujud lain dewa Siwa. Karena ada arca-arca tersebut, maka Candi Songgoriti dikatakan bersifat Hindu dari aliran Siwa.

Pada bagian tengah candi terdapat lubang sampai di dasar candi yang berisi air. Pada sisi timur candi terdapat sumber air panas yang berwarna kuning. Ini tandanya air tersebut mengandung belerang yang merupakan hasil dari aktivitas vulkanik.


Nama Songgoriti

Nama “Songgoriti” dalam bahasa Jawa Kuno berarti “timbunan logam”. Ada juga yang mengartikannya ’sangga bumi’ atau ’sangga dunia’. Diperkirakan masih ada hubungannya dengan nama desa Songgokerto, tempat berlokasinya candi ini, yang berarti “timbunan kemakmuran.” Nama ini kemungkinan berkaitan dengan sebuah prasasti yang ditemukan tak jauh dari situs candi, yaitu Prasasti Sangguran atau Batu Minto bertarikh 850 Saka atau 928 M.

Prasasti ini dikeluarkan atas perintah raja Wawa dan ditemukan di dukuh Ngandat, Batu. Isinya memberitakan bahwa raja dan Mahamantri i Hino Pu Sindok bernazar untuk menjadikan desa Sangguran sebagai wilayah watak Kanuruhan, suatu sima atau perdikan (tanah yang dicagarkan) dari Bhatara di suatu bangunan suci yang ada di daerah sima kanjurugusalyan di Mananjung. Yang menarik dari prasasti ini adalah disebutkannya sima khusus bagi para juru gusali, yaitu para pandai (logam). Ini sesuai dengan nama-nama desa di sekitar Candi Songgoriti berada. Tentang Prasasti Sangguran ini, mungkin sulit dipercaya ketika pada abad ke-18, Raffles membawanya ke Skotlandia. Padahal, prasasti batu ini beratnya mencapai beberapa ton.

Menurut legenda setempat, dulu lokasi candi merupakan kawah gunung berapi yang mengeluarkan air panas. Tidak ada seorang pun yang mampu membendung kawah ini. Hingga akhirnya datanglah Mpu Supo, yang berhasil membangun candi di atas kawah itu sehingga airnya tidak mengalir ke mana-mana.

Memang legenda Kota Batu dan bahkan sejarah masa lalu negeri ini, tak bisa dilepaskan dari keberadaan tempat tersebut. Ketika itu, wilayah Batu (Songgoriti) dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan Raja Sindok. Awal berdirinya, petinggi kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Raja Sindok untuk membangun tempat peristirahatan berdekatan dengan sumber mata air panas. Maka di kalangan penduduk setempat, candi ini dikenal sebagai Candi Supo.

Candi Songgoriti ditemukan oleh Van Ijsseldijk tahun 1799, kemudian diperbaiki oleh arkeolog Belanda lainnya, Rigg pada 1849 dan Brumund pada 1863. Tahun 1902 Knebel melakukan inventarisasi situs ini dan melanjutkannya dengan renovasi besar-besaran. Kegiatan itu berlangsung tahun 1921 dan berakhir tahun 1938.

Diketahui candi ini banyak menyimpan peninggalan agung. Di dalam tanah dekat dasar candi, ditemukan empat peti batu yang berisikan lingga dari emas, yoni dari perunggu, serta mata uang dan kepingan emas yang bertuliskan nama dewa-dewa.

Candi Songgoriti juga menyimpan keunikan lain, yakni sumber air dingin Pasang Giri. Air itu menyembul di tengah-tengah bangunan candi dan kolam kecil berukuran 75 cm x 75 cm, dikelilingi sumber air panas. Sangat unik dan sulit dimengerti akal sehat. Candi yang dikelilingi sumber mata air panas, di tengah-tengahnya memancar sumber mata air dingin.

Ada mitos yang menyebutkan sumber air ini tak ubahnya sebagai patokan untuk stabil tidaknya pemerintahan di Malang Raya dan bahkan Indonesia. Konon dulu ketika ada gonjang-ganjing kerusuhan politik tahun 1998, air di sumber Pasang Giri ini langsung meluber dan beriak-riak.

Namun, bila suhu politik di tanah air kondusif, sumber air tersebut tenang dan volumenya tetap terisi 50 persen dari total satu meter tinggi kolam kecil itu. Sumber air ini banyak mendapat kunjungan khusus para pejabat di masa lalu. Entah hanya untuk sekadar semedi atau melihat-lihat. Sumber air Pasang Giri sudah lebih dari 11 tahun tidak lagi beriak. Kalau benar mitos tersebut, tentu saja kita harapkan sumber air tidak lagi bergerak-gerak.

Saat ini kondisi candi terlihat tidak terawat. Papan informasi yang menerangkan tentang seluk beluk candi, terlihat kosong. Tidak secuil informasi tertera tentang candi ini.

Inilah contoh bagaimana kekuatan modal telah merampas kekayaan warisan bangsa. Dengan pongah mereka mengungkungi candi sebagai wilayah privat. Dengan serakah mereka membangun hotel yang berhimpitan dengan bangunan yang dulu dianggap tempat sakral dan dihormati. Dengan lancang mereka menancapkan pipa-pipa pada sumber air panas di bawah candi.

Candi Songgoriti di tengah fasilitas hotel (Foto: kapanlagi.com)

Kini, bangunan candi tak ubahnya seperti seonggok tumpukan batu. Sedikit sekali orang yang mau memandangnya dengan penuh ketakjuban, sambil membayangkan kebesaran nenek moyang kita pada zaman dahulu.

Sudah kurang terawat malah baru-baru ini candi tersebut telah diklaim sebagai milik Songgoriti Resort. Mengherankan, sertifikat hak milik (SHM) atas nama candi telah menyatu dengan hotel yang dikelola PD Jasa Yasa, perusahaan daerah milik Pemkab Malang. Padahal, Undang-undang Benda Cagar Budaya 1992 yang direvisi pada 2010 menegaskan, semua benda cagar budaya adalah milik negara.

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur di Trowulan, sebelumnya tak pernah tahu adanya penyertifikatan. Bahkan upaya bagi hasil pengelolaan sumber air panas, yang dananya akan digunakan untuk perawatan candi, tidak pernah mendapat respons positif dari pihak pengelola hotel.

Kota Batu boleh dikenal sebagai de Kleine Switzerland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa. Tapi kalau candi dikelola dengan kepala batu, tentulah umpatan yang didapat. (berbagai sumber)

Iklan

Responses

  1. bagus, pak, selalu ada yang jaga dan yang merawat. yang di penanggungan kan malah terlantar karena tak ada nilai ekonomisnya.

    dari dahulu ya begitu. onggokan batu, tidak menarik. tapi dari cerita bapak, baru kali ini aku tahu ceritanya. salut buat bapak.

    ada satu lagi yang akses jalannya juga mudah, di jalan menuju tretes, candi jawi kalau gak salah.

    • Sayang Penanggungan tanahnya gembur…mungkin kalau ada investor bisa dijadikan wanawisata atau ekowisata…masalah di Songgoriti, lahan candi disertifikatkan oleh pihak investor

  2. bguz sya jdy ingin berkunjung kecandi itu, slain p5ndgnx indh ada tmpt 5kanx pula,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: